
"Anda pandai bicara juga... Tapi jangan pikir Anda bisa lolos begitu saja. Pengacara saya akan menelepon Anda untuk jadwal pertemuan." Akhirnua masalah ini bisa di selesaikan juga.
Dia menelepon pengacaranya dan membicarakan strategi menyelesaikan masalah ini. Dia juga tak ingin berlarut-larut, kedua pihak sudah menderita kerugiannya masing-masing yang penting adalah Sayuri dan Shiori tidak menerima bahaya lagi.
Dan mereka bisa menata hidup mereka lagi di jalur yang baru. Ujian Sayuri tinggal satu tahun lagi. Dia ingin Sayuri bisa fokus.
Dan jika bisa dia ingin punya keluarga lengkap lagi, hidup yang penuh lagi. Cuma harapan sederhana tanpa banyak drama dan keributan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Saat mereka pulang ke rumah Yumi dan Ibunya sudah pergi. Itu melegakan, dan rasanya mereka kembali menjadi pemilik rumah mereka sendiri tanpa kehadiran orang asing.
"Akhirnya kau kembali." Neneknya menyambut cucunya yang sudah pulang kembali.
"Sobo, kau sudah makan? Kakak Yumi dan Ibunya sudah pergi bukan?"
"Sudah, mereka sudah pergi."
"Baguslah. Aku tak usah sungkan di rumahku sendiri lagi." Mau tak mau sang nenek tersenyum mendengar cucunya itu.
"Katakan pada Sobo kemana sebenarnya kau dan Papamu pergi?"
"Ehmm... Bagaimana Sobo tahu?" Sayuri meringis lebar.
"Cucu nakal, aku sudah menduganya. Kalian kabur ke apartment bukan?"
"Sobo, aku hanya tak ingin melewatkan sepanjang akhir pekan bersama pemilih makanan itu. Bagaimana jika aku mentraktir Sobo makan malam saja."
"Sobo mau pulang Kamis, tidak sampai akhir pekan."
"Ya sudah, besok oke. Aku bisa bolos, cucumu ini sudah terlalu banyak belajar. Perlu refresing sedikit."
"Apa tak apa? Sobo tak apa, kau bisa mengunjungi Sobo di Kyoto kapan saja, masih ada hari lain."
"Tak apa. Tenang saja, aku sudah menguasai materi besok." Sayuri melihat ke Sobonya. " Sobo, terima kasih sudah mendengarku. Sobo menghadapi tamu Sobo sendiri disini."
"Tak apa, mereka bukan siapa-siapa, Sobo hanya mengenalkan, Sobo pikir tadinya Yumi baik, tapi jika kalian tak menyukainya tentu saja Sobo membela kalian, tak mungkin Sobo membela orang asing. Tapi kau akan pergi setahun lagi, Papamu akan sendiri, Sobo hanya kasihan dengan Ayahmu." Sayuri tersenyum.
"Kalau itu aku juga mengerti Sobo, tenang saja, aku tak menghalangi Papa untuk punya teman hidup, malah aku mendorongnya..."
"Benarkah."
__ADS_1
"Benar Sobo, aku juga mengerti soal itu. Papaku itu berhak untuk yang terbaik. Tapi bukan Yumi, yang bahkan tidak mau makan pasta dan keju di restoran Italia. Itu sangat menyebalkan."
"Iya Sobo mengerti."
Sayuri ingin memberitahunya tentang Kakak Shiorinya tapi kata Papanya jangan dulu. Biarlah nanti Papanya yang memberitahu.
Bertepatan dengan itu Papanya pulang.
"Papa..."
"Ohh kau sampai duluan ternyata." Ryohei di sambut dengan senyuman Sayuri. "Ibu kau sudah makan? Mereka sudah pergi bukan?"
"Kau dan Sayuri pulang-pulangnmenanyakan hal yang sama. Mereka sudah pergi bukan..." Giliran Ryohei meringis lebar.
"Papa aku sudah mengaku dosa ke Sobo, kita sebenarnya kabur ke apartment. Besok aku menemani Sobo makan malam. Kau ikut Papa?"
"Ohh. Kau sudah mengaku." Sekarang Ibunya melipat tangan di depan dada, menunggu anaknya itu mengaku. "Ini ide cucumu Ibu, dia yang mengatur semuanya, bahkan dia juga yang bilang aku harus membuat alasan ke Osaka. Sayuri, katakan itu ide siapa?"
"Iya itu ideku, tapi Papa juga langsung setuju." Sayuri tertawa sekarang.
"Besok aku ikut makan malam. Pilihanmu Ibu."
"Aku mau makan pizza makarel." Sayuri ngakak sekarang.
"Sobo, itu pizza aneh, percayalah, bahkan makarelnya masih utuh."
🤣 Ini pizzanya beneran ada lho yaaa , mak gak ngarang bebas lho😜
"Ohh bukan, yang ini tidak punya keju. Entahlah, harusnya mungkin ada dibawahnya, kurasa kemarin pelayan itu sudah kebingungan menawarkannya makanan, jadi dia menghilangkan kejunya dan hanya memakai tomat dan mayonaise."
"Kenapa terdengan seperti roti dan ikan kaleng sarden dengan saus tomat?" Semua dari mereka sebenarnya membayangkan hal yang sama saat pizza itu datang.
"Itu yang kubayangkan Sobo! Tapi dia menghabiskannya. Mungkin dia sudah kepalang tanggung punya gengsi makanan sehat." Sayuri membalasnya dengan bersemangat sambil tertawa.
"Sangat aneh memang. Sebenarnya kemarin dia membuat bekal piknik untuk Hanami cukup berasa, tapi mungkin karena dibantu Ibunya, jadi cukup enak. Tapi karena kalian mungkin sudah terlanjur kesal karena dia selalu menguliahi kalian, Sobo menyerah saja. Nampaknya dia orang yang sulit diajak kompromi. Sobo tak mau kalian mendapatkan masalah di masa depan. Sifat yang sulit berkompromi itu memang jelek..."
"Sobo, kami monta maaf membuatmu kecewa."
"Tak kenapa kau minta maaf, Sobo hanya mengenalkan. Mungkin Sobo yang harus minta maaf karena membuat kalian kabur dari rumah sendiri."
"Sobooo, kau yang terbaik. Kau tak bersalah, cucumu ini yang nakal." Sayuri memeluk dan mencium neneknya itu.
__ADS_1
"Kau memang nakal dari dulu."
Semua orang tertawa sekarang. Nenek yang bijak itu tahu tak ada gunanya memaksakan seseorang yang memang tidak cocok dengan keluarganya.
Tapi kemudiam dia bicara serius dengan anak laki-lakinya setelah Sayuri naik ke atas.
"Ryohei, Sayuri sudah besar, ini sudah hampir lima tahun. Kau tak ingin mencari seorang istri lagi. Kau masih muda, pasti banyak yang bersedia."
"Aku mengerti maksud Mama, Mama tak usah khawatir oke. Aku akan mengenalkan seseorang pada Mama dan Papa nanti." Sekarang Ibunya melihatnya dengan heran.
"Maksudmu kau sudah punya seseorang sekarang?"
"Ehmm anggap saja aku sedang mengusahakannya."
"Ohh, begitu. Apa Sayuri sudah tahu, bagaimana kalau dia tidak menyukainya." Untuk yang satu ini Ryohei tersenyum, karena sebenarnya yang mendorongnya malah Sayuri.
"Sebenarnya dia yang mendekatkan kami. Tadinya kupikir dia adalah gadis dengan standart tinggi yang sulit untuk kugapai. Tapi kemudian Sayuri mengatakan bahwa aku harus mencoba mengenalnya lebih jauh. Maafkan aku Mama karena belum memberitahumu, tapi ada beberapa masalah yang harus kubereskan. Aku berjanji jika waktunya sudah tepat aku akan membawanya ke Kyoto. Aku dan Sayuri akan mengenalkannya padamu."
"Ternyata begitu, rupanya selama ini dia sudah memikirkan ini untukmu. Anakmu itu memang terlalu kompak denganmu. Tapi apa kau benar-benar menyukainya, karena yang menjalaninya bukan Sayuri tapi kau."
Itu pertanyaan yang penting tentu saja, tapi mengingat bagaimana dia terlalu merindukannya beberapa hari ini maka dengan mudah Ryohei menjawabnya.
"Aku mencintainya Ibu... Aku mengerti pertanyaanmu, tapi memang aku menyukainya."
"Akhirnya, walaupun acara perkenalan ini gagal tapi Ibu bisa pulang ke Kyoto dengan lega. Baiklah selesaikan saja apa yang harus kau selesaikan. Bawalah dia jika kalian sudah siap. Ibu percaya pilihanmu dan pilihan Sayuri pasti tak salah."
"Terima kasih Ibu. Ohh ya apa Yumi mengatakan sesuatu? Kami tidak membuat Ibu dalam kesulitan bukan."
"Ehm aku hanya bilang padanya, jika dia bisa meneleponmu atau datang ke sini lain kali kalau dia ke Tokyo. Mungkin kau harus hati-hati kekasihmu cemburu jika dia tiba-tiba datang kemari."
"Ohh tak apa, Sayuri sudah cerita ke Shiori, dia bukan orang yang cemburu tanpa alasan, aku juga sudah cerita, tapi kemarin dia sedang di Hongkong, Sayuri memberitahunya dengan jelas siapa Yumi."
"Ohh namanya Shiori."
"Shiori Takada, usianya 38, aku bertemu dengannya saat penilaian proyek di Vietnam, dia yang berkuasa mengeluarkan uangku. Itu saja dulu, nanti kalau beberapa urusan sudah selesai aku akan memberitahu lebih banyak. Sebenarnya saat kami ke Osaka beberapa minggu lalu, dia baru menerimaku. Jadi sebenarnya hubungan kami baru dimulai."
"Ohh, nampaknya dia wanita pintar, bahkan bisa memegang jabatan yang penting."
"Sangat pintar, makanya Sayuri cocok dengannya. Mereka sangat cocok."
"Baiklah-baiklah, nampaknya semuanya berjalan bagus di sini. Uruslah apa yang harus kalian selesaikan. Jangan terlalu lama rencanakan pernikahan kalian. Kalian bukan berusia muda lagi."
"Iya Ibu. Maaf aku sudah membuatmu khawatir."
__ADS_1
"Tak apa, orang tua memang selalu memikirkan anaknya. Tapi sekarang nampaknya Ibu bisa tidur nyenyak. Pergilah istirahat. Kau pasti lelah, besok kita makan malam bersama sebelum Ibu pulang oke."
Dan sang Ibu ternyata menerima dengan baik kabar itu. Semua orang lega malam ini. Ini hari yang baik.