
"Ini aku tak ingin memberikan nilai apapun, bagiku ini sepertinya tak lulus. Rencana bisnis mereka tak logis. Waktu dicecar mereka tak punya alasan yang bagus membela diri, aku tak perduli mereka dari group besar, mereka hanya anak perusahaan baru." Kolegaku yang lebih tua salah satu manajer investasi di sini Tuan Kimura menepuk proposal tebal itu.
"Jaminan mereka bagus. Coba kau hitung dulu Tuan Kimura, jika mereka gagal bayar mulai bulan 12, kira-kira asset ini bisa menutup tidak. Kita akan masuk ke skenario terburuk. Aku juga tak percaya ini berhasil."
"Oke, aku akan membawanya dalam pertemuan, beri aku waktu beberapa hari menghitung resiko kita." Tuan Kimura dan dua orang timnya meninggalkan ruang pertemuan.
"Shiori, kau tahu bagaimana pandangan Tuan Mizhushima tadi padamu." Ayaka assistenku merapikan dokumen pertemuan kami.
"Ayaka, kau tahu itu sudah biasa di sini, pria-pria itu punya masalah besar menghadapi wanita lebih berkuasa." Ayaka hanya meringis.
Aku Shiori Tanaka, 37 tahun, salah satu direktur investasi di Nomura Securities, perusahaan pembiayaan yang sahamnya dimiliki sebagian besar oleh Hong Lung Group di Hong Kong.
"Kau tahu entah kenapa aku punya kesenangan mengerjai mereka yang tak punya rasa hormat seperti itu, aku diam saja mendengar presentasi mereka tadi. Saat aku bicara dan mencecarnya dia langsung terbata-bata." Aku meringis.
Dunia kerja Jepang, kau boleh berkata kami punya teknologi terbaik, mobil terbaik, ilmuan terbaik, tapi karier wanita terbatas. Tembok oligarki patriaki tinggi membatasi wanita, wanita dianggap sebagai pelengkap, tak pernah dipercaya memegang jabatan tinggi.
Hanya 13% jabatan managerial di Jepang yang dipegang wanita, bandingkan dengan negara maju bisa sampai hampir setengahnya, di bidang politik lebih parah lagi hanya 10%, bahkan di sekolahpun sistem reward lebih mementingkan siswa laki-laki. Setelah wanita menikah, maka tak ada jalan kembali ke pekerjaan karier. Jadi fungsi wanita selalu dipinggirkan, ditekan ke posisi rendah.
Apakah aku tahu kenyataan itu sebelumnya? Tidak. Ayah bekerja sebagai diplomat, aku dan dua kakakku l, kami berpindah-pindah negara, pendidikanku dipenuhi oleh sekolah luar. Sampai kemudian aku lulus dengan pujian di Phd Economics Harvard dan bekerja langsung Goldman's Sach.
Sampai kemudian Ayah harus pensiun dan memutuskan pulang ke Jepang. Aku anak bungsu yang paling menyayangi mereka memutuskan aku akan menemani mereka ke Jepang, sementara Kakak-kakakku sudah settle di Eropa dan satu di US.
__ADS_1
"Jepang itu berat bagi wanita Shiori, di sana wanita karier di tekan, kau harus tahu itu. Ayah takut kau akan tertekan di sana. Sangat berbeda dengan di sini. Kariermu sudah sangat bagus di sini jangan kembali ke Jepang. Papa dan Mama tak apa sendiri." Papaku bercerita tentang sulitnya keadaan Jepang bagi wanita, bagaimanapun mereka ingin aku menemukan kebahagiaannya.
Tapi aku tak tega meninggalkan mereka sendiri, biarlah Kakak-kakakku yang sudah pergi, kurasa aku harus menemukan perusahaan yang manajemen utamanya tidak dipegang oleh orang Jepang.
Aku meneliti setiap lowongan dan latar belakang perusahaan dengan hati-hati. Bukàn hal yang sulit masuk ke langsung managerial karena levelku sendiri sudah manager tim di Goldman's Sach.
Tujuh tahun yang lalu aku memilih perusahaan ini dan tidak menyesali pilihanku. Dalam enam tahun berikutnya aku naik menjadi salah seorang Direktur Investasi.
"Ibumu menelepon katanya jangan lupa pertemuan di restoran Ise?" Ibuku memaksaku ikut Omiai, alias biro perjodohan.
"Ya ..ya aku tahu."
Masalah lainnya, jabatanku terlalu tinggi sehingga laki-laki yang mendekatiku kebanyakan kabur duluan begitu baru mendengar jabatanku. Level yang lebih tinggi lagi pimpinan keluarga atau anak keluarga level atas juga tentu bukan levelku, ayahku hanya pensiunan pegawai pemerintah.
Pria berpikiran terbuka langka disini, Pria jepang jarang ada yang bisa menerima itu seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Walaupun bukan tak ada, tapi sialnya tak pernah kutemukan.
Ayah dan Ibu merasa sangat bersalah padaku, mereka mendesakku pindah saja dalam beberapa tahun ini, tapi aku yang tidak tega meninggalkan mereka. Kompensasinya aku harus ikut mengikuti kencan buta ini berulang kali. Kadang aku begitu malas mengikutinya. Dan langsung bersikap ketus.
Aku adalah "nenashi gusa", yang berarti rumput tanpa akar, aku sudah berada di luar sejak umurku 8 tahun, walaupun ke dua orang tuaku adalah Jepang, aku dari kecil bergaul dengan teman-temanku yang bukan Jepang, jadi kadang aku merasa aturan Jepang kadang sangat mengekang, aku perlu waktu di tahun-tahun awal untuk beradaptasi dengan bimbingan Ayah, tapi sering aku mungkin dianggap terlalu vokal. Birokrasinya sangat kubenci, senioritas yang tidak perlu.
Tapi itu adalah alasan aku cocok bekerja di sini. Perusahaan ini dipimpin oleh orang yang lebih lugas dan liberal, yang lebih menghargai bakat dan kerja keras, mengesampingkan
senioritas tak berdasar.
__ADS_1
"Tuan Derrick Tan mengirim kabar dia akan datang dari Hongkong tanggal 16. Mungkin pertemuan awalnya empat hari lagi. Proposal mereka baru saja datang. "
"Ohh baiklah, untuk yang ini minta tim Kenichi ikut, serahkan ke dia proposalnya."
"Mengerti. Tapi ngomong-ngomong ini sudah jam 7.30, kau akan terlambat."
"Ya-ya aku tahu, aku pergi sekarang." Aku ke restoran yang di cantumkan di ponselku. Melihat fotonya lagi agar aku tak lupa. Aku malas, benar-benar malas. Fotonya membuatku berpikir dia salah satu laki-laki kaku lainnya. Membosankan.
Ise Sueyoshi, di Nishi-Azabu adalah restoran kaiseki, ya setidaknya dia mentraktir makanan yang enak. Begitu pikirku.
Namanya Ryo Minato, umur 39 tahun, single, dengan kacamata melingkar seperti ini nampaknya dia gila kerja, tak punya waktu untuk kehidupan sosial.
Aku tiba di sana duluan lima menit untungnya, tadinya aku mau terlambat saja, biar dia mengecapku tidak menghargainya, tapi ini Ise, baiklah, aku membatalkan niatku karena dia sudah memesan tempat ini.
Aku berhasil tiba duluan. Restoran dengan satu koki khusus yang hanya melayani lima orang itu, pelayannya menyambutku dengan membungkuk sopan di pintu masuk.
"Saya menunggu teman sebentar."
"Baik, pelayanan akan di mulai jam 8.15."
Tak lama seorang pria datang, aku melihatnya seperti fotonya. Aku membungkuk padanya, hampir saja aku mengulurkan tangan menyalaminya, aku harus mengingatkan diriku bersikap lebih formal.
__ADS_1
"Shiori-san, senang bertemu Anda." Dia memanggilku dengan nama depanku.