TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
Part 44. Hongkong 11


__ADS_3

“Paling bisa  jawab.” Dia menyentil keningku dengan gemas. Aku senang-senang saja. Kuelus keningku yang tak berdosa itu.


“Ishh... bisanya maen kekerasan kalo udah kalah mulut.” Dia yang tertawa kali ini.


Kami diam kemudian. Hanya melihat pemandangan didepan kami. Aku bisa memperoleh persetujuan Cecilia. Bisakah dia menyukaiku.


“Kamu tak takut kesepian di Jakarta, jangan pulang terlalu malam lagi. Jika tidak ada pekerjaan jangan membuat ada pekerjaan. Bukan saya tidak tahu kamu sengaja berlama-lama di kantor.” Tapi dia perhatian juga kadang.


“Ga pa-pa Ko, semua butuh proses. Iya kadang aku cuma takut dirumah kesepian, kangen Mama. Itu cara buat ngelewatin waktu, bikin cape langsung tidur aja. Selama ini aku selalu sama Mama, sebulan belakangan tiba-tiba Mama hilang, rasanya masih kangen banget kadang, kalo ada dia sempet ke HK dulu. Seengaknya dia bisa liat aku sama Papa, ya tapi mungkin sekarang dia bisa lihat juga sih.”Sebulir air mataku jatuh jika ingat Mama. Aku cepat-cepat menghapusnya, Ko  Derrick melihatku. “Sorry, aku cengeng Ko.” Kucoba tersenyum lagi, melihat ke arah lain untuk mengeringkan air mataku.


“Ya udah kamu kerumah aja, minta makan sama Bibi. Ga pa-pa... ajak bibi ngobrol, Bibi dirumah itu doyan ngobrol, dia seneng ada yang makan masakannya, walaupun kadang dia masak sambel ama kangkung sama ikan asin doang, tapi enak, daripada lewat jam 9 kamu masih kelayapan  di site produksi. Koko serius, nanti kamu pulang makan dirumah aja.”


“Engga mau. Aku masih punya harga diri buat numpang makan.” Aku ngakak. Mungkin dia nanti kasihan, lalu mau ngajak aku makan malam sering-sering.


Tapi mungkin juga dia ngajak Lisa buat makan. Memikirkan Lisa membuatku cemburu, aku cemburu membayangkan Lisa menyentuhnya.Tapi akupun tak bisa menyentuhnya. Tak punya alasan, dia baik padaku karena aku hanya adik yang harus dijaga... bukan diinginkan. Aku begitu ingin menyentuh tangannya sekarang.


“Aku boleh senderan ke Koko?” Meminta izin karena aku sangat ingin bersandar padanya walaupun memakai tameng adik. Kali ini aku tak perduli apa pikirannya, kusisipkan lenganku kebelakang lengannya dan aku menyender padanya begitu saja. Rasanya sangat nyaman. “Sorry Ko, biasanya cuma bisa nyeder ke Mama. Sebentar aja ya...” Aku membuat alasanku. Dia diam saja tapi juga tak melarangku.


“Makanya terima ajakan siapa namanya An...dreas buat ajak kencan.” Dia masih  mengulang kesalahan yang sama menyebut Andrew menjadi Andreas.

__ADS_1


“Hmm... iya ntar coba. Si culun itu baik hati kayanya.” Aku tidak akan terang-terangan aku tak mau kencan ke yang lain.


“Culun...” Dia tertawa.


“Gantengan Kokoku kemana-mana.” Aku memujinya ganteng, tapi bersembunyi di balik tameng adik yang sempurna.


“Jadi kamu cari  yang ganteng.”


“Entah, kurasa yang bikin nyaman dan baik hati saja dan seganteng Kokoku...” Aku menaruh daguku di pundaknya, mata kami bertemu sebentar, dekat sekali. Aku senang bisa menggodanya sedikit, lalu aku memalingkan pandanganku lagi. Jantungku berdegup senang, menaruh kepalaku dipundaknya sekarang, mengigit bibirku sendiri menyembunyikan senyumku dari pandangannya. Aku akan  jadi adiknya yang suka menggodanya saja.


“Itu sulit dicari.”


“Oh ya?”  Aku tertawa, dasar PD-nya selangit.


“Iya.”


“Minta dijodohin sama Papa kamu.” Aku meringis.


“Aku anti dijodohin, dan Papa juga gak mau ngejodohin anaknya. Dia korban dari perjodohan. Keluarga kami yang  kacau korban dari perjodohan.”

__ADS_1


“Ternyata  begitu.”


“Iya.” Mungkin dia tahu aku menyukainya. Dia harusnya tahu.Tapi  sekarang aku bisa memiliki pundaknya dan dia tak keberatan. Seperti ini saja sudah membuatku terlalu bahagia. “Udah- senderannya, udah, makasih Ko. Udah selesai cash baterenya.”


“Cash batere?!” Dia ngakak. Dia tidak keberatan, mungkin dia tergoda juga sekarang, setelah perjalanan hiking kami Minggu itu, mungkin di rumah Cecilia mengatakan sesuatu padanya. Aku tak tahu, mungkin seperti itu... Sehingga dia tak keberatan aku begini padanya.


“Hmm...” Aku biasa lagi, tak ingin menempel lagi padanya, meluruskan dudukku. Mungkin nanti aku bisa memanfaatkan alasan cash batere ini lagi untuk menyentuhnya lagi.


“Cecilia kuliah di mana?”


“Brown.”


“Ivy League.”Derrick mengangguk, rona kebanggaan seorang Ayah jelas terpancar dalam wajahnya.


“Anak itu pintar, saya bersyukur perceraian tidak membuatnya terluka, tapi mungkin karena saya dan mantan istri bersahabat. Walau dia hanya tahu kami bercerai karena tidak cocok, tapi cuma itu. Dia menerimanya dengan baik. Ayah tirinya baik, tidak membedakan dia dengan anaknya. Kurasa dia cukup bahagia, dia juga bisa menerima nasihat soal pacar-pacarnya, dia anak  yang baik.”


“Iya, Cecilia anak yang sangat terbuka, supel. Kurasa  dia lebih dewasa dari usianya, dia bercerita dia ingin memutuskan pacarnya. Bisa kau bayangkan, dia benar-benar playgirl.”


“Kau benar. Pikirannya logicnya jalan, dia tidak seperti anak-anak seusianya mendewakan cinta.”

__ADS_1


“Tidak juga , dia bilang putus cinta itu  menyengsarakan. Tapi mungkin tak kama untuknya.”  Kami tertawa membicarakan Cecilia. Jika aku dan Ko Derrick bersama, apa kami bisa punya seorang anak. Sekarang pertanyaan yang terlalu jauh itu melintas ke kepalaku. Bayangkan aku mempunyai seorang anak melintas begitu saja. Kurasa semua wanita nalurinya begitu. Bergerak dari zona adik saja belum,  kutepis  bayangan yang terlalu jauh itu dengan menghela napas.


Biarlah semua berjalan apa adanya, mungkin satu saat dia bisa melangkah dulu dan memegang tanganku.


__ADS_2