TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 2 Part 11. Farewell Hanoi


__ADS_3

Aku sarapan dengan semangat setelah tidur nyenyak semalaman tanpa terganggu. Rasanya pagi ini indah sekali.


"Selamat pagi,..." Aku langsung tersenyum dan menyapa Oliver. "Kau mau kuambilkan sesuatu."



"Kau terlihat sangat menyilaukan pagi ini." Aku membawa satu-satunya dress maxi berwarna peach casual yang kupakai pagi ini. Dia langsung mengomentari penampilanku saat aku menyapanya dengan senyum lebar.


"Itu hanya perasaanmu saja. Tidur lelap di kasur empuk setelah 3 hari tidur di hutan adalah balas dendam menyenangkan dan hari ini jadwalnya hanya hotel dan bandara."


"Kau nampaknya jarang bekerja di hutan?"


"Jarang, mungkin dibilang ini pertama kali aku harus ikut berkemah seperti ini, setelah mungkin dulu pernah karena harus ikut pelatihan di lapangan, tapi itu sudah lama. Di Hongkong hanya ada hutan beton dan bukit belakang gedung." Dia tertawa.


"Ya kau benar juga,..." Dia diam sebentar. "Kau tak ada rencana kembali ke Hongkong?"


"Hmm tidak, aku sudah tinggal di Singapore dan Malaysia beberapa tahun belakangan, dan sekarang Jakarta."


"Tak merindukan tanah kelahiran."


"Tanah kelahiran tak begitu ramah padaku seingatku Aku tak merindukannya kukira." Aku tersemyum masam. "Sudah kubilang kita tak akan mungkin bertemu lagi."


"Aku akan merindukan bertengkar denganmu kurasa." Aku ngakak tertawa.


"Carilah gadis di Hongkong untuk kau ajak bertengkar."


"Tak ada yang sepertimu yang bisa memukulku dan menendangku ke kolam." Aku meringis lebar dan tertawa, itu tak akan terlupakan nampaknya seumur hidupnya.


"Ada, kau tinggal minta pada gadismu. Dia bisa melemparmu kemanapun termasuk berc*inta di kolam seperti kemarin. Kenapa kau tak mengajaknya kali ini?"


"Aku kesini untuk bekerja sudah kukatakan padamu."


"Dia pacarmu?"


"Bukan."


"Ohh." Ternyata hanya pacar sementara. Ya sudahlah tak heran untuk orang sepertinya, dia bahkan menawarku 30K. Apa yang kau bisa pikirkan lagi.


"Ayo kuambilkan kau sarapan, Sir Russell. Yang biasa bukan? Tunggu disini. Aku masih dalam tugas." Aku bergerak dengan cepat dari depannya. Dan mengambilkannya semua yang kuingat ada di piringnya beberapa hari yang lalu. Dan segelas kopi tentu saja.


"Terima kasih." Dia menerima piringnya đari tanganku dengan senyum terima kasih.

__ADS_1


Tapi tampaknya tidak berniat untuk sarapan sama sekali. Hanya meminum kopinya sedikit.


"Ada apa? Kau terlihat tidak begitu bersemangat. Kau istirahat dengan baik?" Aku begitu bersinar dan berbinar, tapi dia nampaknya diselimuti awan kelabu. Ada apa dengannya.


"Aku baik-baik saja." Dia bergerak makan kemudian. Dia melihat piringku, apa yang kuambil sama banyak Guoi Con, bak pau daging dan telur. "Boleh aku minta itu." Dia menunjuk ke Gioi Con-ku.


"Tentu saja boleh, cobalah dengan sausnya." Dia mencobanya, mukanya mengerenyit sedikit, "Ayolah rasanyanya tak seburuk itu." Aku memotongkan sausage untuknya di piringnya menyuapkan padanya untuk menetralisir rasanya.



"Sekarang rasanya lebih baik." Dia membuatku tertawa. Sebuah senyum yang tercipta di wajahnya membuatku mabuk. Senyumnya manis sekali, hangat. Aku harus mengalihkan pandanganku ke makanan. Tak salah wanita manapun meleleh begitu saja di depannya, dia punya senyum begitu manis. Tapi tiga jam lagi matahari ini akan berlalu. Chapter ini akan berlalu. Anggaplah ini chapter bonus.


"Habiskan,..." Dia nampaknya melihat spring roll sayuran itu dengan perjuangan. "Ayo akan kupotongkan sausagenya untukmu." Dia akhirnya memasukkan gigitan terakhirnya dan rewardnya dia mendapatkan suapan sausagenya. Aku bertepuk tangannya untuknya dan dia tertawa lagi sekarang. Aku senang bisa memicu senyum manis memabukkan itu lagi. Kali ini aku menatapnya terang-terangan sambil bertopang dagu.


"Apa ada yang salah di wajahku? Atau ada sayuran di gigiku. Kenapa kau menatapku begitu."


"Tidak, apa kau tak boleh ditatap." Aku tersenyum dan mengalihkan pandanganku darinya. Sekarang ganti dia yang tersenyum melihatku.


"Kenapa kau memakai baju begitu cantik pagi ini." Dia mulai lagi, aura Don Juannya secara alami mulai menguar.


"Acara hari ini cuma sarapan dan ke bandara. Ini baju yang nyaman untuk penerbangan. Yang jelas bukan untuk memikat species lain jenis."


"Suatu saat kau akan menyesal mengatakan itu padaku."


"Ayo kita makan, sarapannya enak. Kita harus bersiap ke bandara jam 10."


"Ini akhir pekan mau ikut ke Hongkong sebentar denganku. Kubayar tiketmu..." Aku tertawa kecil, dia masih penasaran heh.


"Aku tidak..." Dia mengangkat tangannya.


"Itu hadiah, kau tidak punya kewajiban menemuiku sama sekali. Mungkin kau ingin kembali sebentar." Manis tapi mana mungkin dia memberiku hadiah tanpa mengharapkan balasan tapi baiklah dia sudah mencoba bersikap baik.


"Tidak terima kasih, kau baik sekali. Besok aku sudah punya tugas baru di Jakarta."


"Aku serius soal kau tak usah menemuiku, kau pikir aku berbohong?"


"Kenapa kau memberiku hadiah? Aku tak merasa melakukan apapun."


"Karena sudah bersikap jujur dan bersedia menjadi temanku." Apa dia serius soal itu, belakangan aku merasa hanya memikirkan hal yang kebanyakan buruk tentangnya. Bagaimana itu bisa dikatagorikan menjadi jujur dan menjadi teman?


"Aku juga tidak bohong soal aku sudah punya tugas besok. Pekerjaan ini tidak memandang akhir pekan, jika kau punya VIP Quest ya kau harus lakukan, aku tak bisa libur. Tapi terima kasih ..."

__ADS_1


Dia menghela napas. Aku memandangnya, dan dia memandangku, merasa dalam film romance seperti ini tak akan berarti apapun untukku.


"Mau ikut ke supermarket di bawah, kita beli jajanan Vietnam. Kita masih punya dua jam disini..." Aku memutuskan melakukan sesuatu yang lebih berguna daripada terperangkap dalam pesonanya.


"Ayo."


Akhirnya kami memutuskan turun di supermarket lokal yang direkomendasikan oleh staff hotel. Aku membawa Guoi Con yang sudah di pack, beberapa item fashion lokal seperti celana dengan motif print gajah. Mencoba roti banquette ala vietnam bernama Bahn Mi, yang bisa kami bawa ke pesawat untuk makan siang, aku harus menempuh 7 jam ke Jakarta. Sementara perjalanan dari Hanoi ke Hongkong hanya 2 jam saja.



Akhirnya kami menyeret koper kami ke bandara.


"Penerbanganku akan berangkat setengah jam lebih awal. Kita berpisah di sini saja." Kami harus berpisah akhirnya di ruang tunggu yang berbeda. Menatapnya sambil tersenyum. Ini akhirnya, cerita ini akan berakhir sampai disini...


"Ya kita berpisah disini. Terima kasih..." Kami berdiri berpandangan satu sama lain.


"Sudah tugasku." Aku menatap senyumnya, aku punya pikiran gila karena kami tak akan bertemu lagi. Kali ini saja aku ingin bersikap gila dengan Don Juan ini. Pertemuan pertama kami di Bali sudah cukup gila, aku ingin membalasnya.


"Lihat disana..." Aku menunjuk lintasan, dia menoleh ke arah yang kutunjukkan. Dan saat itu aku mendekat dan berjinjit mencium pipinya.


Dia menoleh padaku yang sudah mundur mengambil jarak. Mengelus pipinya yang kucium singkat.


"Selamat tinggal species lain jenis yang ganteng. Senang bisa bertengkar denganmu. Jaga dirimu, jangan ingat masa lalumu lagi. Kau berhak untuk yang lebih baik. Aku pergi." Dan setelah membungkuk singkat aku berbalik pergi dengan cepat, senyum dibibirku mengembang. Rasanya menyenangkan mencuri ciuman di pipinya.


Aku berbalik melihatnya, dia masih diam di sana melihatku. Aku melambai padanya dan berjalan melalui eskalator cepat ke ruang tungguku.


Ini akan menjadi kenangan manis untuk diingat.


Farewell Oliver, I hope you doing well ahead...


Farewell Hanoi, I wish I can see the falling star once again in your night sky.


Farewell ...



**


Aku pamit Oliver, kuharap kau akan baik-baik saja di depan


Aku pamit Hanoi , kuharap aku bisa melihat bintang jatuh sekali lagi di langit malammu

__ADS_1


**


__ADS_2