
Sebuah sentuhan di keningku membangunkanku. Senyum yang kulihat di wajahnya membuatku balas tersenyum.
"Pagi." Kali ini sebuah ciuman gemas di pipi menyapaku. Tangannya sedang memegang ponselnya. Jam delapan aku tertidur pulas di sampingnya.
"Ini liburan, kau masih boleh tidur."
"Kau sudah chat pagi-pagi sekali, menemukan sesuatu tentang penyerang kita semalam?"
"Tadi malam aku menarik data kamera dashboard. Kukirimkan ke seorang bawahan Philip di wilayah ini. Dia bilang dia akan menemukan mobil itu segera. Siapapun yang berani memulai ini akan membayar akibatnya."
"Kau akan menunggu investigasinya di sini."
"Tidak aku tetap kembali ke Hongkong sesuai jadwal. Investigasi mereka yang menjalankan sesuai rencana. Tidak akan ku biarkan jadwalku terganggu."
"Mereka akan kembali? Kau tak perlu pengawal yang menemanimu?"
"Tidak. Jangan khawatir mereka hanya ditugaskan menghancurkan kaca mobil. Dia pikir aku takut menghadapi ancaman semacam itu. Kita lihat apa dia akan tertawa nanti."
"Aku takut kau dalam bahaya, kali ini tanganmu yang luka kali lain mungkin yang lain."
__ADS_1
"Ini hanya goresan. Jangan melebih-lebihkannya." Dia menujuk tangannya sambil tersenyum. Aku menariknya mendekat, memintanya memelukku.
"Pulanglah ke Hongkong dengan selamat. Setidaknya jangan mengemudi sendiri Koko." Dia membalas pelukanku.
"Aku akan pulang ke Hongkong Cherrie sayang, setelah urusan pemindahan CEO Shing Wang berakhir, aku akan meminta Ibu mengatur lamaran resmi. Setuju." Aku tersenyum padanya sekarang.
"Kau ini, tak sabaran sekali."
"Aku iri kepada teman-temanku, mereka sudah punya anak yang mengikuti mereka kemana-mana, aku kemana-mana sendiri, setiap ditanya orang aku seperti pria yang kesepian dan punya masalah. Aku ingin keluarga, denganmu."
"Jadi kau punya masalah juga rupanya. Kali pertama bertemu kau memang terlalu nyaman dengan status lajangmu. Bisa punya banyak pacar yang memujamu."
"Katakan iya padaku, kau setuju kita segera menikah?"
"Kubelikan apapun yang kau mau nanti, hanya katakan ya..." Dia memelukku, tapi juga menggodaku dibawah sana, box*er tipis itu tak bisa menyembunyikan dirinya lebih lama lagi.
"Apa yang kau lakukan ..." Dia mendesakku dan mengenai titik yang tepat sehingga des*ahanku terlepas bersamaan dengan eran*gannya. "Lepaskan aku..." Aku bergerak, tapi sens*asi yang ditimbulkannya membuatku terse*ngal.
"Kenapa baju tid*urmu setipis ini, sangat mudah menyelesaikan ini... Kau sengaja, kau memang kekasih pen*ggod*a ...Melepaskanmu, setelah kau selesai mengeja*ng saja bagaimana." Beberapa gerakan aku sudah dalam kekuasaannya.
__ADS_1
"Dasar pemaksa, ...Koko!" Aku suka berpura-pura berkaya menolaknya, mendorongnya menjauh tapi aku menggigit bibirku menggodanya, mataku setengah terpejam karana gerakannya, dia tahu itu. Aku suka dipaksa olehnya.
"Kau menikmatinya bukan, pacar penggoda..." Dia mengunci lenganku, aku suka permainan pagi ini.
"Kau biasanya cukup sopan, aku hanya menyiapkan rencana cadangan, jika kau tak mempan hanya dicium saja."
"Pacar penggoda, harusnya kita bikin bayi saja sekarang, aku ingin melepasnya saat berada di dalam."
"Jangan berhenti lagi. Lakukan saja tugasmu." Aku merajuk karena dia membuat gerakan pela*n kembali. 1
"Pacar tukang perintah, kau menang perlu dihukum." Sekarang aku mendes*ah senang, sampai di titik aku menguncinya dengan kuat karena sampai pada titik pelepasannya.
"Lepas." Dia membuat gerakan tersentak dan menjauhiku. Aku menguncinya dan meremasnya di dalam sana. "F*uck! Cherrie!" Dia membelalak menatapku. Karena itu sudah terlepas. "Apa yang kau lakukan? Kau membiarkanku?"
"Tenang saja, ini bukan harinya... tak akan terjadi apapun." Aku tersenyum padanya sekarang. Dia menghela napas lega.
"Kupikir kau ingin kita..." Dia tertawa kecil.
"Aku ingin anakmu, tapi tidak sekarang. Pulanglah ke Hongkong dengan baik-baik saja. Dan temukan siapa yang menyuruh gangster itu, dan bereskan masalah itu dulu."
__ADS_1
Beberapa hal harus diurus sebelum kami punya keluarga. Tapi tidak dengan seorang bayi, itu harus menunggu saat yang tepat.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=