
Beberapa hari kemudian dia bekerja cepat. Seseorang kurir mengirim dua tabloid, satu dalam bahasa Canton satu lagi Mandarin.
...'Chen Ye Zhuan punya anak gelap bernama Jonathan Wong dari Camilla Chai.'...
...'Bukankah Mirip, Anak Camilla Chai yang ternyata Mirip Chen Ye Zhuan."...
Private investigatorku dengan senang hati mengirimiku tiga copy masing-masing tabloidnya.
Judul yang sangat bombastis. Dengan foto jelas anak wanita itu Jonathan Wong di sandingkan dengan Chen Ye Zhuan. Mereka memang mirip. Walaupun awalnya ini hanya di media gosip, besok akan menyebar ke seluruh media Hongkong cetak maupun elektronik bagai kobaran api.
Ibuku harus melihat ini, kukirim fotonya. Ini adalah pembalasan kami kepada wanita itu. Dan pembalasan kami kepada Papa yang sudah memilih wanita ular itu dibanding kami.
Mama langsung meneleponku.
"Cherrie! Benarkah? Jonathan bukan anaknya?"
"Aku tak tahu, tapi mereka memang mirip sekali bukan. Aku yang menemukan cluenya secara tidak sengaja." Kuceritakan padanya bagaimana tiba-tiba aku sampai ke kesimpulan itu karena kak Shi Shi.
"Astaga, ini seperti berita kedatangan UFO di siang hari. Akan kukirimkan foto ini ke semua temanku." Mama tertawa.
"Bahan gosip panas bukan Mama, sekarang Papa akan menyesal mempercayai wanita ular itu. Tak udah diragukan lagi, dia akan langsung pulang meminta tes DNA. Aku akan memberikan ini padanya untuk menamparnya. Dia selalu membela wanita ular itu. Tenang saja ini belum apa aku akan membersihkan nama Mama."
"Sana berikan padanya. Dia pantas mendapatkan itu!" Mama langsung bersemangat melihat Papa harus menerima kenyataan.
"Kau tak ingin memberikannya sendiri Mama."
"Mama rasa Mama sudah capek mengatakan padanya. Kau saja yang berikan itu di mukanya."
"Hmm baiklah, akan kukatakan padanya Mama."
Aku membawa tabloid itu ke ruangan Papa. Meminta sekertarisnya mengatakan padanya aku ingin bertemu siang ini.
Papa melihatku masuk, menungguku bicara lwbih dulu nampaknya, dia melihat tabloid yang kubawa.
"Apa yang kau bawa itu."
"Berita tentang anak laki-lakimu."
"Apa maksudmu?"
Kutaruh dua tabloid itu di mejanya sambil tersenyum. Kenapa dia tega membuang kami demi wanita itu. Wanita ular yang bahkan berani menipunya soal anaknya sendiri.
Matanya membelalak membaca judulnya. Dia tak akan percaya begitu mudah, tapi dia tak akan bisa mengesampingkan faktanya dengan bukti begitu jelas.
"Selamat, anakmu adalah bukan anakmu."
"Bagaimana ini bisa..."
__ADS_1
"Tanyalah istrimu, ular itu, mungkin dia bisa mengatakan padamu bagaimana itu terjadi."
"Ini tidak mungkin, berita tabloid seperti ini tidak bisa dipercaya. Kau pikir Papa akan percaya berita seperti ini." Dia langsung mencoba menyangkalnya tentu saja.
"Entah, tapi menbayangkan kemiripan putra tersayangmu itu dengan pacar istrimu siapa yang tahu, semua orang akan percaya bukti fisik, kalau kau tak percaya ya itu hakmu. Tapi kusarankan kau jangan terlalu bodoh." Aku tertawa dan melipat tanganku melihat dia akhirnya membaca beritanya dengan seksama.
"Akan ku tuntut orang yang berani menyebarkan berita bohong seperti ini."
"Ya sudah, mungkin kau memang baik hati membesarkan anak orang lain. Sihlakan saja... Tapi kau tahu kau bisa melakukan tes DNA untuk membuktikannya bukan."
"Kau yang merencanakan ini?" Aku tertawa.
"Tebak, siapa yang merencanakannya. Papa, apa kau tidak salah bertanya, harusnya yang kau tanya itu istri tercintamu itu, dia membohongimu belasan tahun. Kau memang sudah di cuci otak."
"Ini tidak mungkin benar." Sekarang dia pergi dari depanku membawa tabloid itu.
Sayang sekali.
Baru kali ini matamu bisa terbuka bahwa kau hidup bersama ular yang menghancurkan hidupmu. Di saat dia sudah menarikmu ke bawah dan menghancurkan semuanya.
Aku turut berduka Papa, tapi nikmati saja drama ini. Karena kau bahkan membuang kami semua demi wanita itu.
Ini jadi karmamu sendiri sekarang.
\=\=\=\=\=\=\=\=
'Aku tak tahu apapun soal ini. Camilla Chai tak pernah memberitahuku apapun.' Chen Ye Zhuan sudah mengeluarkan statement resminya terhadap berita itu sementara istri Ayahku menghilang di telan bumi. Sayang sekali padahal aku ingin melihat ekspresi muka pucatnya didepanku. Sungguh tak seru.
Aku jadi tak tahu apa yang terjadi, tapi berita yang ramai hari cukup menjadi hiburan.
"Cherrie!? Kau tahu soal berita tentang anak Camilla itu?" Paman masuk ke ruanganku tiba-tiba siang ini. Nampaknya dia baru tahu. Aku meringis saja.
"Paman kau kaget sekali, duduklah dengan tenang. Kau mau popcorn. Jangan terlalu kaget, dramanya bagus bukan?" Aku tertawa sendiri karena menawarinya popcorn.
"Dramanya bagus? Maksudmu kau yang mengarang ini? Ini hanya berita gosip atau bagaimana sekarang Paman sangat penasaran." Paman duduk tegak di depanku siap mendengarkan cerita.
"Mengarang tidak, aku menemukannya dengan tak sengaja ketika menghabiskan waktuku membaca berita gosip tentang wanita ular itu. Ternyata usahaku tidak sia-sia, aku tiba-tiba diberi petunjuk oleg temanku soal dia pernah melihat wanita itu makan malan di restoran sebuah hotel dengan Chen Ye Zhuan, dan melihat foto masa muda Chen Ye Zhuan kau bisa langsung menarik kesimpulan anak Camilla itu bukan anak Papa. Tapi iya aku yang sengaja menyebarkan beritanya kepada wartawan gosip."
"Astaga jadi benar kau yang melakukannya."
"Itu adalah kebenaran, Paman tak lihat betapa miripnya mereka. Mustahil dia bisa mengelak dengan kemiripan itu. Jika aku bisa sudah kuambil sendiri darahnya lalu kubawa ke lab, hasilnya kulempar ke muka mereka. Sayangnya private investigatorku bilang aku bisa di tuntut. Jadi hanya ini yang bisa kulakukan."
Paman duduk di depanku berpikir.
"Kau tahu semua drama keluarga ini sangat ... membuat sakit kepala. Paman jadi kasihan padamu. Apa kau tak apa Cherrie?"
"Bukannya itu seperti karma Paman, dulu Ibu melakukan hal yang sama kepada Papa Lam. Sekarang dia mendapatkan balasannya. Lalu aku disuruh membenci Papa Lam, di beritahu Papa Lam tidak menginginkan aku menjadi anaknya lagi, sementara adikku masih di sana. Tidakkah kau berpikir itu kejam buatku. Papa Lam tak pernah mengatakan hal seperti itu padaku. Aku tumbuh dengan perasaan terbuang, bersalah, dan Papa kandungku hanya menyuapku dengan uang yang banyak." Paman sekarang diam.
__ADS_1
"Saat itu Paman memang juga bersikap kurang bijak, Paman minta maaf Cherrie." Aku tersenyum getir.
"Tak apa, Papa Lam yang mencariku, mengatakan padaku semua, aku memaafkan apa yang terjadi, tak pernah membencinya lagi, sudah selesai, adikku tumbuh dengan bahagia, dia punya Ibu tiri yang tidak membedakannya dengan anak-anak nya yang lain. Dia banyak menolongku termasuk memenangkan Paman. Dia dekat dengan Philip, Cece Tata anak Paman Lam menikah dengan salah satu pimpinan bisnis Philup di Asia Tenggara, dari situlah aku punya akses ke Philip Leung selain keluarga Cheung membantu."
"Benarkah?"
"Aku sudah menceritakannya padamu Paman, kuharap kau tidak membenci Papa Lam lagi."
"Suasana memang kacau saat itu, kami salah, Paman salah, kau yang jadi korban, Paman harus meminta maaf padamu, mungkin ke Arnold Lam juga sekarang." Paman menghela napas panjang.
"Ini memang karma, dulu kami merendahkan Arnold Lam, sekarang malah kami dikhianati orang yang kami bela. Sungguh ini karma hidup." Paman duduk di depanku dan menyesali masa lalu. Apa yang bisa dikatakan semua sudah terjadi, sekarang saatnya menuai hasil perbuatan di masa lalu yang kembali padamu.
"Jadi kau berbaikan dengan Papa Lam?"
"Iya."
"Paman harus minta maaf padanya. Dulu Paman memberikannya banyak kesulitan, tapi sekarang dia tak mengingatnya bahkan bersedia membantu Paman." Aku tersenyum sekarang.
"Itu bagus Paman, aku bisa mengantar Paman nanti. Akan bagus memaafkan banyak hal dan meminta maaf, ingat kau sudah tua Paman." Paman tertawa dengan perkataanku.
"Keponakan kurang ajar, kau ini sekarang memang sok tua. Mungkin terpengaruh Anthony Cheng yang pembawaannya seperti Paman-paman tua itu." Aku tertawa ngakak. "Tapi dia jago berkelahi juga selain otak bisnisnya encer. Kapan kalian menikah, kenapa lama-lama, kau sudah menemukan orang yang tepat."
"Paman, jangan tanya aku, tanyalah pada Anthony, bukankah pria yang harus melamar wanita, kau bertanya padaku seakan aku tahu kapan dia melamarku."
Paman tersenyum dan mengangguk. "Nanti Paman tanyakan padanya. Paman janji. Ohh ya masalah kau berbaikan dengan Papa Lam, Mamamu sudah tahu?"
"Tidak belum, aku belum memberitahunya."
"Ya sudah, nanti Paman cari waktu yang tepat untuk bicara dengan Mamamu, akan Paman coba selesaikan untukmu."
"Terima kasih Paman. Paman dan Bibi-bibi juga banyak menolong Mama. Jika tidak ada kalian aku tak bisa bayangkan betapa depresinya Mama."
"Itu namanya keluarga Cherrie, keluarga harus menolong satu sama lain."
"Aku tak akan berhenti di sini, akan kubersihkan nama Mama yang difitnah ingin membunuh anaknya selama bertahun-tahun. Dia harus meninggalkan Hongkong dan kariernya hancur. Akan kuseret dia dengan kasus penggelapan pajak juga, dia pikir ancamanku gertakan."
"Paman mendukungmu, apapun yang kau ingin lakukan, jika kau perlu bantuan beritahu Paman, pasti Paman akan usahakan."
"Bantu bicara pada Mama saja, semoga dia tidak membenci Papa Lam lagi."
"Iya akan Paman lakukan. Tenang saja. Ya sudah Paman sudah tak penasaran lagi. Mamamu pasti sangat suka dengan drama yang kau ciptakan ini. Kau sudah membuatnya sangat senang."
Aku tertawa, wanita ular itu memang harus sampai menangis darah.
Kapan aku bisa bertemu dengannya. Tak sabar lagu melihatnya kalah dan meneteskan air mata. Ular, kau akan lihat bagaimana aku membuat kau tak berani terlihat di Hongkong lagi.
Pergilah ke rimba Vietnam sana, banyak ular di sana. Mereka yang adalah keluargamu.
__ADS_1