
Pagi yang indah, jam 7 pagi, setidaknya itu yang kupikirkan, bangun pagi, mandi dan menikmati sarapan di restoran hotel. Semalam dia kelihatan kaget dengan kata-kataku. Semoga hari ini dia tidak menjadi menyebalkan lagi dengan mencoba mengetesku.
Seorang duduk di depanku. Oliver Russel dengan kemeja lapangannya dan jeans, sudah siap bekerja. Dia tampan, sudah bawaan dari lahir, anggap saja pemandangan yang indah. Wanita-wanita disini menatapku dengan iri aku bisa bicara dengan pria setampan ini.
"Pagi Tuan Russel, senang melihatmu pagi ini." Aku tersenyum padanya. Dia melihatku tapi tidak membalas senyumku dengan senyum godaannya seperti biasanya. Kurasa benar, kali ini dia sudah menyerah.
Dia jadi Oliver Russel yang serius sekarang.
"Pagi Sandra, Nguyen sudah datang."
"On the way. Ini jam 7.15..." Benar, dia jadi Oliver yang lain pagi ini.
"Ok, ..." Dia mulai makan croissant dan American breakfast, dan mencicipi kopinya. Aku membiarkannya makan dengan tenang. Aku memeriksa rute kami, nampaknya tak ada kemacetan. Sementara piringku penuh dengan bermacam variasi Goi Cuon, bakpau daging dan semangkuk bubur panas yang kusukai.
"Apa itu?"
"Ini Goi Cuon, spring roll vietnam cobalah, ..." Dia melihat isiannya, seperti setumpuk salad dengan topping daging dibungkus dengan kulit bening yang adalah kertas beras.
"Banyak sayuran sekali."
"Ahh kau pembenci sayuran rupanya." Aku tersenyum.
...Goi Cuon ( Spring Roll Vietnam)...
"Apa kita pernah bertemu sebelum ini?" Sebuah pertanyaan mengalihkan mataku dari ponsel.
"Tidak." Singkat, padat dan jelas.
Mungkin dia heran dengan perkataanku semalam, yang dia tak tahu adalah aku bukanlah gadis diumur dua puluhan, aku sudah bahkan sudah berulang tahun ke 40. Mengalami banyak hal, kadang pahit, kadang cukup manis, tapi diantaranya aku sama sekali tak punya kesan baik terhadap kata cinta atau pernikahan.
__ADS_1
Sebenarnya kami mungkin sama, bedanya adalah dia menginjak-nginjak cinta dengan tidak mau terlibat secara emosional, tapi menebarkan benihnya kemana-mana. Aku menginjak-injak cinta dengan sama sekali menghindarinya.
Seperti yang dia bilang cukup sulit menebak umurku.
Andy di lineku pagi-pagi sekali.
"Andy, ada apa?" Andy umurnya dibawahku setahun, tapi dia pimpinan yang baik. Aku menyukai pengaturannya yang demokratis plus dia bisa berbaur dengan kami.
"Kau tidak perpanjang jadwal pengawalan di Hanoi bukan?"
"Kurasa tidak, tidak ada jadwal diperpanjang kukira ..."
"Istri boss Philip akan ada di Jakarta dalam beberapa hari ini, kau bertugas mengawalnya, jadwalnya pas keesokan harinya setelah kepulanganmu."
"Ohh baik. Noted." Putus telepon satu beralih ke telepon lainnya. Kent? Orang yang kubenci di Hongkong sana, kepala keamanan wilayah Hongkong, tapi bukan level Ko Derrick, dia hanya mengurusi keamanan dan beberapa bisnis club hiburan.
"Kenapa kau meneleponku?"
"Iya, kau ada perlu..."
"Hmm, apa kau akan bertugas di Hongkong?"
"Tidak, aku tak akan bertugas di HK. Aku dalam tugas sekarang, klienku akan pergi, sorry aku tak bisa bicara denganmu. Kututup teleponnya, ok?"
Sedetik kemudian aku sudah menutup teleponku tanpa perlu persetujuannya. Lain kali aku tak akan menerima teleponnya lagi, semua kenangan buruk ada di sana. Aku harus menghela napas setelahnya untuk mengenyahkannya, kugigit spring rolls itu dengan cepat, rasa saus asamnya membuatku kembali pada kenyataan bahwa aku aman disini, syaratku bekerja dengan Derrick adalah aku tak akan pernah bertugas di Hongkong lagi, tidak akan menerima perintah darinya karena sekarang aku dalam perlindungan Derrick. Tak pernah bertemu Kent lagi...
Oliver menatap dan mengamatiku dari seberang meja.
"Telepon yang terakhir membuat hari buruk nampaknya." Aku diam saja.
"Di stall sana ada Con Tam, itu nasi dengan pork ala Vietnam yang harusnya kau suka. Kau mau mencoba akan kuambilkan Tuan Oliver? " Dan aku kembali membahas makanan dengan senyum masam.
__ADS_1
"Aku ambil sendiri." Dia berlalu dari depanku.
Aku memusatkan perhatianku pada makanan lagi. Oliver duduk kembali di depanku. Dia mengambilkan sesuatu untukku, cake coklat dan pudding.
"Thanks..." Aku berterima kasih padanya. Dia baik hati juga.
Aku penasaran apa dia fasih Cantonese, apa dia bisa mendengar apa yang kubicarakan. "Kau fasih bahasa Cantonese Tuan Oliver."
"Aku sudah 7 tahun di HK, walau aku tidak bisa bicara lancar, sedikit banyak aku mengerti percakapan sehari-hari."
"Ternyata begitu,..."
"Kau orang Hongkong bukan, kau bilang tadi tak akan bertugas di Hongkong lagi."
"Aku pemegang paspor Hongkong." Kuberikan saja kebenarannya karena dia sudah bersikap baik.
"Kenapa kau tak mau kembali ke sana?"
"Hmm... aku lebih suka tempat baru."
"Orang tuamu tak disana?"
"Aku berasal dari panti asuhan. Tukang berkelahi, seperti pekerjaanku sekarang..."
Hidupku di masa muda keras, dunia tak terlalu baik padaku. Sampai di titik sekarang sebenarnya aku sudah senang. Punya pekerjaan yang baik, punya gaji yang baik, teman-temanku baik beberapa tahun belakangan, Hongkong mungkin tempat kelahiran, tapi aku tak punya keraguan aku ingin pergi dari sana, setelah keluar dari Kent dan bekerja di Wong Hang Corp, aku jarang lebih banyak ditempatkan di Hongkong. Rasanya seperti keluar dari penjara
"Begitu rupanya. Jadi nampaknya ini sudah jadi jalan hidup..." Aku tersenyum padanya.
"Anggap saja begitu. Hidupku tak gemerlap sepertimu Tuan Russel." Dia hanya tertawa kecil menangapiku.
Kami berdamai pagi itu, dia tak mencoba menggodaku lagi seperti semalam. Nampaknya aku hanya akan melihat Oliver yang serius sekarang.
__ADS_1