
"Kau sudah selesai berkemas?" Oliver mengetuk pintu kamarku, melonggok melihatku menutup koperku. Dia duduk di sofa di kamarku.
"Sudah, tak banyak yang kubawa ini koper yang sudah standard."
"Kartuku bawa saja oke, jika kau perlu pakailah."
"Terima kasih."
"Tidak usah berterima kasih." Sekarang dia menarik aku ke pangkuannya. Aku kaku, sedikit tidak nyaman dengan ini, kedekatan fisik agak memberiku rasa khawatir.
"Sorry, kau merasa tidak nyaman?"
"Aku belum terbiasa, maaf." Dia tampan, dan menarik, hanya aku yang punya masalah dengan kedekatan fisik yang tiba-tiba.
"Tak apa. Jika kau tak nyaman kau harus bilang. Baiklah duduk disampingku boleh?" Dia tersenyum. Aku hanya mengangguk, bersyukur dia tidak pengertian. Aku duduk disampingnya dengan menyelipkan lenganku di lengannya. Dia menyalakan televisi yang ada di kamar tamu. Hanya duduk berdua begini rasanya menyenangkan.
"Sudah mengirim jadwalmu ke Ibumu."
"Sudah..."
"Kau senang bertemu dengannya?"
"Entahlah kurasa aku tak akan bisa tidur malam ini memikirkannya. Tapi tiba-tiba semuanya berubah drastis, aku punya Ibu, kemudian aku punya kekasih, hal yang sebulan yang lalu tak pernah terbayangkan tiba-tiba hari ini terjadi dalam satu kejapan mata."
"Ini sesuatu yang baik, kau akan baik-baik saja ke depan." Aku memandangnya, sebuah pertanyaan ada di benakku... "Species lain, saat berpisah di Hanoi kupikir kita sudah selesai, kenapa sebenarnya kau membawamu kesini lagi." Dia tertawa kecil sekarang.
"Karena kau me*nci*um pipiku, itu meremehkanku."
"Apa?"
"Aku tak bisa melupakan ciu*m*an itu berhari-hari kemudian." Sekarang aku yang tertawa.
"Bagaimana mungkin kau tidak bisa melupakan ciu*man pipi. Don Juan kau menyedihkan..." Dia meringis kutertawakan.
"Jangan kau tanya aku, mungkin kau bertemu mantra yang bagus di Hanoi sehingga bisa membuatku teringat begitu. Percayalan aku juga kesal dengan diriku sendiri tak bisa melupakanmu. Seperti ciuman anak belasan tahun yang bisa membuatku melupakannya."
Kadang aku setengah percaya apa yang dia katakan tapi kalau dipikir-pikir dia punya pilihan banyak daripada mengejarku. Mungkin dia terkena karma karena kucium di pipi, yang lain tidak menciumnya di pipi...
Sekarang kucium pipinya sambil tersenyum lebar. Dia mengelus pipinya yang kucium. Don Juan ini sangat aneh, dia mencariku lagi karena menci*um pipinya.
"Seperti itu?" Aku tertawa.
"Sekali lagi..." Dia tersenyum, menarikku lebih mendekat dan menunjuk pipinya. Aku tertawa dan mengabulkannya. Tapi ternyata itu hanya tipuan. Karena dia merubah arah wajahnya dan memeluk pinggangku dengan erat itu jadi sebuah ciu*man yang sebenarnya.
Aku sesaat tak bisa bergerak, aku tersentak mundur, tapi tak bisa karena dia mengunciku. Semuanya berhenti dalam sesaat. Ciuman pertama kami, mencium harum napasnya untuk yang pertama, aku dipelukannya.
"Aku bisa membalasmu sekarang." Dia tersenyum dan aku tak tahu apa yang harus kulakuan selain menyembunyikan wajahku yang panas dalam dadanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Penerbangan dua setengah jam ke Shanghai itu membuatku bisa menyiapkan diri. Mambayangkan apa yang harus kukatakan pada Mamaku. Walau aku tak yakin itu akan berguna.
__ADS_1
Sekarang aku berjalan keluar gate cukup ramai dengan penjemput, aku tahu wajahnya dan warna baju yang dia pakai. Aku mencarinya ke kerumunan.
"Sandra, ..."sebuah suara membuatku menoleh. Itu dia, dengan wajah ingin menangisnya. Aku berjalan menghampirinya, tapi dia berlari menyongsongku sehingga aku menjadi takut dia jatuh tersandung.
"Putriku, akhirnya aku bisa memelukmu lagi." Dia memelukku begitu kuat sambil terisak. Seorang Ibu yang merindukanku di seumur hidupnya.
"Mama, ..." Air mataku akhirnya jatuh juga, semua kata yang telah kususun dalam pikiranku musnah tak berbekas. Aku hanya bisa memeluknya dan menangis bersamanya disana, melupakan semua disekeliling kami dan hanya saling memeluk satu sama lain.
"Putriku, aku berdosa padamu, tapi sekarang kau kembali. Kumohon jangan pergi lagi."
"Ma, aku juga tak ingin pergi darimu."
"Anak baik...Anak baik." Rasanya pelukan itu abadi. Entah diumur berapa kami dipisahkan tapi catatanku mengatakan itu di usia 10 bulan. Di catatan orang yang meninggalkanku hanya tanggal lahirku.
"Kita akan jadi tontonan orang-orang disini." Dia tertawa kecil dan melepasku. "Ayo kita pulang kerumah. Kau sudah pernah ke Shanghai?"
"Sudah beberapa kali jika ada tamu VVIP yang harus aku kawal,..." Aku menceritakan apa pekerjaanku sekarang padanya saat kami mencapai mobilnya dan sopir mulai menjalankan mobil kemudian.
"Bagaimana kau bisa bekerja di Hong Lung..." Kuceritakan padanya bagaimana aku lari dari panti asuhan saat berumur 15 tahun, menjalani kehidupan di Kowloon, sampai akhirnya bertemu group Ko Derrick."
"Ini dosa Mama padamu..."
"Sudahlah Mama, waktu sudah berlalu, sudah takdirku berjalan di sana. Yang penting sekarang kita sudah bertemu."
Dia bilang dia melahirkanku di usia ke 18, karena berpacaran dengan teman sekolahnya. Ayahnya yang jodoh sendiri untuknya sangat marah saat itu, walaupun pacarnya itu sebenarnya dari keluarga baik tapi Ayahnya tak memberinya maaf.
Akhirnya orang Kakekku membawa bayinya pergi ke Hongkong. Aku membayangkan betapa usia 11 bulan dipisahkan dengan Ibuku.
"Aku tinggal sendiri, anakku sudah berkeluarga..."
"Suamimu?"
"Kami sudah pisah rumah lama." Pisah rumah, berarti mungkin mereka masih terikat perkawinan. "Yang penting kau sudah disini, kita bicarakan tentangmu saja oke...."
Dia bertanya tentang bagaimana liontin itu bisa berada pada Derrick sekarang, kuberikan cerita lengkapnya. Mama sekarang menghela napas panjang.
"Kupikir kenapa kau bisa melepaskan giok itu, mungkin kau begitu membenciku sampai satu-satunya penghubung kita kau jual. Dia bilang kau menjualnya, Ternyata dia merampasnya darimu, sungguh orang yang jahat. Walau aku bertemu denganmu karena dia tapi mendengar apa yang dia lakukan, rasanya... Mama tak ingin memberinya apapun lagi."
"Kata Ko Derrick jika Mama mau memberikannya, berikan saja untuk melepaskan semua urusan diantara kami, ..."
"Kau ini punya Kakak penjaga ya, Ko Derrick mu ini nampaknya dia baik sekali padamu."
"Ya dia memang baik. Aku beruntung punya orang yang bisa kuanggap Kakak."
"Mama harap Mama bisa berterima kasih dengannya sendiri."
Kami kemudian sampai ke sebuah rumah yang cukup besar di Pudong. Satu orang pengurus rumah menyambut Mama dan membawakan koperku.
"Ini rumah Mama, hanya ada 3 penjaga rumah satu sopir disini, rumahnya tak terlalu besar tapi tanah luas dibelakang untuk kebun. Mama cuma tinggal sendiri, ini sudah cukup." Ukuran tidak besar disini sangat berbeda dengan Hongkong. Aku yang 35 tahun hidup1 di Hongkong memang sedikit sensitif soal ukuran meter persegi dan kaki persegi.
"Ini kamarmu... Kau suka?"
__ADS_1
"Iya Mama, aku tinggal di HK , beberapa apartment lebih kecil dari kamarku." Dia tersenyum.
"Maafkan Mama, baru bisa menemukanmu sekarang, sudah beberapa detektif swasta mama sewa tapi tak bisa menemukan jejakmu. Kakekmu membawa rahasia keberadaanmu sampai dikubur."
"Mama, suami Mama tahu Mama punya anak."
"Pernikahan kami cuma perjodohan, aku melahirkan anak untuknya, selanjutnya kami hanya berusaha tidak bertengkar satu sama lain, dan ya berusaha kami terlihat baik-baik saja."
"Papaku..." Mama melihatku dengan sedih.
"Papamu sudah meninggal. Dia juga berusaha mencarimu. Papamu adalah Liu Nen Hao, keluarga Liu dan Zhao tidak punya hubungan baik di masa Kakekmu masih hidup, tapi kami bertemu dan kemudian jatuh cinta... Kami tadinya berencana pergi ke Taiwan setelah kami sudah mengumpulkan uang,memulai usaha di tempat baru, yang penting kami jadi keluarga, tapi ternyata aku tertangkap duluan. Hanya seminggu sebelum kami pergi, ... dan selanjutnya ternyata aku hamil."
Mama dan Papaku ternyata punya cinta yang penuh perjuangan.
"Setelah itu Mama dianak tirikan, dengan modal uang seadaanya dan bantuan dari Bibimu, Mama waktu itu berjualan tekstil dan menjadi eksportir di Shenzhen dengan tangan Mama sendiri tanpa bantuan keluarga. Mama dinikahkan dengan seorang yang punya kedudukan di militer untuk mendukung keluarga, tapi sudah jelas dia pun tak suka pernikahan dengan Mama apalagi dia tahu Mama sudah pernah punya anak. Akhirnya Mama membuat kesepakatan bahwa kami akan menikah tapi hidup terpisah, dia bebas punya wanita yang dia cintai, dan Mama hanya harus melahirkan satu anak, merawatnya dengan baik untuk wajah keluarga. Dan berpura-pura kami keluarga bahagia asal dia juga terlibat dengan kehidupan putranya. Sementara Papamu juga menikah dengan wanita lain..." Aku mendengarnya dengam trenyuh.
"Di lain sisi bisnis Mama meningkat, Mama bisa mengembalikan semua modal Pamanmu, meminjam lagi untuk usaha lain, sampai punya saham terbesar di sebuah perusahaan manufacturing pakaian jadi yang partner dengan Mama, lalu akhirnya memberanikan diri menanam sekitar 20% majority ke Ping An yang bergerak di Real Estate Developer sekitar sembilan tahun yang lalu, itu sedikit riskan tapi di tangan CEO yang waktu itu Mama percaya Ping An menjadi salah satu yang diperhitungkan sekarang. Boss-mu berkenalan dengan Mama di Ping An mungkin sekitar setahun yang lalu."
"Mama business woman yang hebat,..."
"Mama ingin berdiri sendiri, terlepas dari kakekmu, Mama sangat dendam dia membawamu entah kemana, dan memikirkan hidup matimu, kau harus menjalani hidup yang begitu keras karena Mama tak mampu melindungimu. Mama tak menyangka kau bisa dibuang Kakekmu sampai ke Hongkong. Betapa jauhnya dia memisahkan kau dengan Mama hanya karena dia membenci keluarga Lui, mama memohon sampai menangis darah dua puluh lima tahun sampai menjelang kematiannya dia tak mau mengatakan dimana kau. Hanya liontin yang diberikan Papamu diam-diam yang saat itu Mama tahu kau memakainya menjadi tanda, itupun jika tidak dijual oleh orang. Tapi ternyata langit masih mengasihani Mama diujung hidup Mama..." Dia mengengam tanganku.
"Mama mohon tinggallah dengan Mama lebih lama. Mama hanya menggendongmu 10 bulan...Kau bahkan belum bisa memanggil Mama." Dia menangis lagi. Aku tak tahan dengan air matanya.
"Mama, apapun yang Mama inginkan... Jangan menangis lagi, bukankah kita sudah bertemu." Aku memeluknya untuk menenangkannya kemudian.
"Maafkan Mama, mama hanya terlalu emosional. Mendengarmu harus menjalani apa yang kau jalani, rasanya... Mama yang tersiksa." Dia berusaha tidak menangis lagi, aku yang melihatnya tak bisa berkata-kata.
"Sudah takdirku Mama, bukan salah Mama, hanya nasibku mungkin memang begitu, karma hidupku memang begitu."
"Kau tak menikah, Mama memikirkan dan mendoakan kau mungkin hidup baiķ-baik saja dengan sebuah keluarga bersamamu dan suami baik hati bersamamu. Tidak seperti Mama..."
"Mama tahu sebenarnya aku kemarin baru menerima seorang kekasih..."
"Benarkah ceritakan kepada Mama..." Aku bercerita bagaimana kisah kami, Mama melongo mendengar apa yang kualami dari awal sampai akhir.
"Sepertinya dia buruk..." Aku tertawa mendengar kesimpulan Mama. "Kau yakin kau mau bersamanya, kau tahu Western itu... entahlah... aku tak pernah terlalu suka dengan mereka." Dia melihatku dengan pandangan skeptis, aku tahu apa yang kualami membuat siapapun tak akan menaruh garis yang baik pada Oliver. Tapi dia sudah mengusahakan banyak hal untuk bersamaku.
"Dia baik Mama, dia mengusahakan banyak hal untukku..."
"Baiklah, lupakan dia. Kita mengobrol lama sekali, kita harus makan, Mama memasak untukmu dari pagi Mama sudah siapkan." Aku tersenyum saat dia menarik tanganku, makan hasil masakan Mamaku, rasanya hanya ada di mimpi tapi sekarang itu yang terjadi.
Dan membantunya di dapur hanya kami berdua disana, menghangatkan makanan, aku yang tidak terlalu terbiasa dengan perkara memasak melihatnya dengan tertarik, makanannya enak, hampir terharu mendapatkan dia menyuapiku untuk mencoba makanannya dengan tangannya sendiri. Terlalu banyak air mata haru yang datang bersama kebahagiaan hari ini.
"Mama kau jangan terlalu sibuk, ini sudah banyak. Aku tak bisa memasak, biarkan aku mentraktirmu apa yang ingin kau makan." Dia tersenyum mendengarku.
"Aku harap umurku lebih panjang untuk membayar waktu yang kulewatkan."
Aku juga berharap begitu. Mendapatkannya 40 tahun kemudian adalah keajaiban. Mungkin aku bisa berbakti padanya sekarang untuk membayar waktu yang kami lewati
\=\=\=\=\=
__ADS_1
up selanjutnya jam 12-an tetap.