
"Nona, kau memang bebal, begini saja, sekali lagi kau berkata bohong, peluru ini akan menembus telapak kaki kananmu." Penerjemah yang langsung menerjemahkannya bergidik ngeri dengan ancaman Richard.
"Jadi apa kau memukulnya." Sekarang suara pengaman yang dilepas membuat mentalnya ciut. Dia mulai menangis mengiba.
"Iya, aku yang melakukannya ...tolong lepaskan aku, tolong ampuni aku. Aku berjanji tak akan melakukannya lagi." Dan sekarang dia mulai memohon dan penerjemah mengatakan apa yang diucapkannya sambil terisak itu.
"Ohh sekarang kau mengaku. Tampar dia dua kali untuk gantinya." Ohh itu balasan yang sangat ringan dibanding dengan gegar otak yang di derita Shiori sampai membuatnya harus di rumah sakit selama seminggu.
"Jadi empat hari yang lalu, kau mengirim tukang pukul untuk mendatangi rumah Shiori dan memukul Ayahnya sampai masuk rumah sakit."
"Kau mau membunuhku?! Kau bangsat!" Dua tamparan lagi, kali ini Richard sendiri yang memberikannya. Pasti setelah ini wajahnya akan membiru. "Bangsat kau!" Nathan menarik kursinya mendekat, memegang dagu gadis itu setelah mendengarkan perkataannya.
"Membunuhmu? Itu terlalu mudah cantik. Bagaimana jika aku merusakmu seperti barang bekas pakai dulu, terutama wajahmu yang cantik ini, sebelum itu kita beri kau kepada gangster lawan Ayahmu untuk sedikit dinikmati, lalu aku akan mulai membunuh keluargamu, mulai dari Ayahmu, Ibumu, Kakakmu dan meninggalkan kau sendiri di dunia ini, mau tak mau kau membunuh dirimu sendiri karena sebenarnya kau yang menjadi penyebab kematian mereka." Penerjemah langsung mengatakan apa yang dikatakan oleh Richard dengan jelas.
Hanya kedua matanya yang bisa dilihat Yuna sekarang dan mata itu akan membuatnya mimpi buruk.
"Kau mau mencobanya? Apa kau berpikir aku bisa melakukannya?"
"Tidak. Ampuni aku, aku tak akan mencobanya lagi." Sekarang nampaknya gadis itu menyerah. Tak mau melawan lagi. Yang dipikirkannya hanya menyelamatkan nyawanya sekarang.
__ADS_1
"Kau tak akan mencobanya lagi?"
"Tidak, aku tak akan mencoba, demi apapun aku bersumpah, aku tak akan mencobanya."
"Benarkah? Aku sama sekali tak percaya padamu. Mungkin sebaiknya kubunuh saja kau di sini masalahku langsung selesai. Lagipula Ayahmu punya banyak musuh, banyak orang yang akan dengan senang hati membunuhmu, atau mungkin istri selingkuhanmu memutuskan dia ingin membunuhmu, membunuhmu di sini lebih mudah. Aku tinggal membuangmu ke Okigahara yang katanya berhantu itu. Melemparmu dengan batu pemberat ke dalam sungai. Atau mungkin termudah adalah menembakmu disini dan menguburmu di belakang. Kau pilih yang mana." Sementara Richard sengaja bicara pelan agar gadis itu bisa meresapi kata-katanya dengan baik.
Sekarang gadis itu sudah gemetar ketakutan. Keberaniannya melawan terbang sudah. Dia tak berani mengatakan apapun hanya menangis tersedu-sedu.
"Aku bisa membayarmu kumohon jangan bunuh aku, aku mau hidup, aku bersumpah demi nyawaku sendiri, tak akan mencoba mengganggu Shiori lagi." Nampaknya permohonan terakhir.
"Membayarku?! Kau meremehkanku dengan uangmu hah!?" Satu tamparan lagi. "Sebaiknya kubunuh saja kau." Ben dan Antonio tahu bossnya itu tidak akan membunuh gadis itu, dia hanya sedang menakutinya sampai dia benar-benar sangat ketakutan. Sementara penerjemah berusaha menyampaikan ancaman dari Richard dengan sebaik-baiknya.
"Wanita bangsat kau tidak pantas diampuni. Kau pikir tak ada yang berani melawanmu di Tokyo hah, berkali-kali kau di ancam Ryohei, kau menganggapnya angin lalu bukan."
"Tidak, aku bersumpah.... aku bersumpah, aku masih ingin hidup."
"Ohh, setelah ini kau pulang kau akan mengadu kepada Ayah tersayangmu dan aku harus membereskan kekacauan lagi, aku tak suka membuang waktu untuk hal yang tidak bisa kukendalikan. Bunuh saja dia di Aokigahara, biar dia jadi arwah penasaran... Kalian lakban mulutnya, ikat yang kencang, tinggal bunuh besok." Penerjemah menerjemahkan kata-kata Richard sambil bergidik ngeri, menyangka dia akan segera menyaksikan pembunuhan salah satu putri Yakuza Tokyo.
"Mengerti." Tapi Ben mengerti maksud bossnya. Dia ingin menyiksa mental Yuna Aize sampai titik kritis dimana gadis itu bahkan tidak berani menyebutkan nama Shiori lagi.
__ADS_1
Richard keluar. Sementara Ben menambah perintah.
"Aku ambil tali tambahan dan lakban dulu." Ben akan keluar, tapi sebelumnya dia menitip pesan dengan berbisik ke penerjemah itu dulu. "Bilang padanya kami akan mencari tambahan tali dan lakban, buat dia percaya sampai ketakutan." Sekarang barulah sang penerjemah mengerti apa tujuan mereka. Saat Ben keluar penerjemah itu melanjutkan siksaan.
"Kumohon jangan bunuh aku. Kumohon jangan bunuh... Tuan...Tuan... tolong aku."
"Maaf Nona, mereka akan membunuhmu. Nampaknya kau akan di masukkan ke Aokigahara, lalu dibuang ke bagian terdalam. Sehingga kau dibiarkan mati membusuk disana."
Yuna Aize gemetar sampai ke tulang tidak berani membayangkan apapun lagi.
"Kumohon aku tak ingin mati, aku akan menyentuh Shiori lagi, Tuan aku belum mau mati, Tuan tolong aku. Kumohon tolong aku, bicara dengan gaijin itu, kumohon ..." Dia terus mengiba sampai gemetar.
"Maaf Nona saya tak bisa membantu Anda." Ben datang kemudian dan mengikatnya dengan kencang melakban mulutnya. Dia dibiarkan disana sampai dua jam berikutnya sampai dia sangat ketakutan.
Dan akhirnya setelah dua jam kemudian. Richard datang kembali, sementara Yuna sudah menyangka sekarang waktunya dia mati.
"Aku berubah pikiran, aku sedang senang, kuberi kau kesempatan. Jika kau berani menyentuh Shiori lagi dan aku terpaksa datang lagi ke sini. Akan kubuat kau bunuh diri.... Ingat itu."
"Aku tak akan berani. Aku bersumpah demi nyawaku."
__ADS_1
Dengan kata-kata itu. Yuna dibius kembali dan ditinggalkan di sebuah hotel murah di pinggir kota. Pelajaran itu tak akan pernah dilupakannya.