TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 5 Part 37. We're Lover Now


__ADS_3

Kami akhirnya meninggalkan restoran. Entah kenapa aku melihat Louis sedikit diam kali ini.


"Langsung saja ke lobby. Kita langsung jalan." Apa ada hal serius yang terjadi? Kenapa Kelly tidak mengabariku sama sekali?


"Kami akan pengalihan boss. Ada dua, masih mengikuti." Sopirnya langsung mengatakan sesuatu yang tak kupahami. Apa orang itu mengerikan sekali sehingga pengawalnya sangat mencurigai siapa saja yang kebetulan sengaja berpapasan dengannya.


"Ada dua yang mengikuti kita? Maksudmu karena aku bertemu orang tadi."


"Iya Nona." Dua orang? Kupikir satu tadi yang di dalam restoran. Pengamanan seketat itu. Siapa orang yang ku intai itu.


"Anda mau konfrontasi Sir?"


"Tidak."


"Mengerti. Kembali ke apartment Nona Julie. Pengalihan rute, beritahu jika kalian sudah siap." Mobil kami berjalan. Sementara Louis sibuk dengan ponselnya.


"Anna, aku minta data." Dia menelepon seseorang. "Tidak, aku tak punya konfrontasi tapi aku ingin tahu siapa dia, apa keterangan yang kita punya soal orang ini."


Dia bahkan punya akses langsung ke sumber informasi, tidak sepertiku hanya agen lapangan. Louis keren. Dia bahkan punya foto real time? Tadi dia membawa berapa orang sebenarnya ke restoran? Aku hanya tahu dia membawa sopir, apa ada beberapa orang pengintai sebenarnya tadi, dia bahkan tak meminta data dariku atau Kelly.


"Hmm... " Terdengar wanita itu bicara padanya sementara Louis mendengarkan. "Apa ini pasti?" Wanita itu bicara lagi.


"Kau bisa hubungi boss besar, katakan kita mungkin mendapatkan buruan yang mungkin diinginkannya. Ada orang MI6 yang masih mengikutinya, jika mereka perlu memastikan indentitasnya kukira mereka bersedia kerjasama, aku bisa mendapatkan lokasinya sekarang." Berarti orang itu tadi juga buronan di US?


"Aku menunggu. Hubungi aku segera jika kau sudah mendapat konfirmasi..." Louis memutuskan telepon.


"Louis, siapa pelayan itu? Tadi kau punya pengintai sendiri?" Louis melihatku, sementara mobil kami menyelipkan diri diantara padatnya lalu lintas Manhattan.


"Orang yang berbahaya, kau tak usah tahu. Tak ada gunanya. Menambah beban pikiran tak perlu. Lagipula kau memang bukan tactical. Anggap saja kau kebetulan mendapatkan buruan besar." Dia tidak memberitahuku dengan siapa aku berhadapan.


"Kau agen level tingkat tinggi bukan, kau bahkan punya izin mengakses data." Pacarku ini keren, dia bahkan punya pengawal sendiri. Sekarang aku merasa bisa mengandalkannya.


"Aku bertemu banyak orang. Banyak diantaranya adalah penjahat. Kau tahu aku tak bisa cerita detail soal pekerjaan. Lebih baik kau tak tahu..." Kali ini dia mengengam tanganku. Rasanya berada di tangan yang tepat, menegangkan. "Lain kali dengan subjek berbahaya seperti ini mintalah perlindungan tambahan."


"Mereka bahkan tak tahu siapa orang itu. Jika aku punya subjek berbahaya mereka memang memastikan aku tak diikuti."


"Begitu? Benar juga, kalian tak tahu siapa dia."


"Iya tenang saja. Thomas tahu aku berharga." Dia meringis sekarang. Tak lama teleponnya berbunyi.


"Boss setuju? Aku akan menghubungi orang MI6. Kirimkan datanya padaku." Dia sibuk dengan ponselnya. Dan akan menelepon seseorang yang kutebak adalah Thomas.


"Thomas, kau lihat apa yang kirimkan padamu. Orang yang kita temukan hari ini, semua datanya di situ. Mau kubantu untuk menangkapnya? Karena kebetulan dia juga orang yang kami cari."


"Oke. Kau bisa suruh orangmu menelepon ke nomor yang aku berikan nanti, dia akan mengaturnya dengan resources di sini. Banyak pengawal yang mengikutinya. Akan berbahaya menyergapnya tanpa perhitungan." Dia menunggu Thomas bicara.


"Baiklah, tunggu dariku." Dia fokus pada teleponnya, sementara mobil kami membuat manuver penghilangan jejak yang nampaknya sudah terlatih untuk orang-orangnya.


"Kita sudah berhasil lolos dari kuntitan?" Aku bertanya ketika dia sudah berjalan tenang.


"Sudah Nona. Kita akan mengarah kembali." Mobil kami memutar agak jauh sampai mereka yakin orang yang mengikuti kami tak bisa mengikuti lagi. Dan akhirnya kami sampai ke apartment dengan selamat.


"Istirahatlah. Kau besok ada pekerjaan bukan." Dia menyuruhku kembali, tapi aku tak bisa melepasnya begitu saja sekarang. Aku ingin dia tinggal. Minggu depan aku harus ke LA, kapan aku akan melihatnya lagi.



"Kau tidak naik sebentar. Besok jadwalku siang. Bisakah kita mengobrol saja." Aku berbisik padanya. Dia tahu apa arti permintaan kecilku itu.

__ADS_1


"Baiklah." Jantungku berdebar senang karena jawabannya. Aku mengandengnya, memasuki lift tanpa bicara. Debaran menyenangkan ini, aku menyukainya setelah sekian lama.


"Masuklah." Kami tiba kembali ke apartmentku. Aku menarik tangannya ke dalam. Begitu pintu tertutup dia menarik tanganku lagi ke arahnya. Aku jatuh ke pelukannya.


"Apa yang ingin kau diskusikan Julie, pelajaran menjadi mata-mata yang baik?" Pertanyaan yang tak perlu dijawab, sebuah ciu*ma*n membuat dia memelukku lebih erat.


"Tuan Bond, kurasa kau bertanya terlalu banyak. Aku hanya ingin pelukan dan ciuman kekasihku." Aku melepas ciu*manku. Pandangan kami bertemu. Aku menariknya ke sofa sekarang.Bergelung dalam pelukannya terasa menyenangkan.


"Dadamu masih sakit?" Aku meraba dadanya.


"Bekasnya jelek. Aku masih belum diperbolehkan latihan cardio dan beban."


"Boleh kulihat..."


"Apartment ini berjendela tinggi, kau ingin aku jadi tontonan gedung sebelah sana." Aku meringis, kuajak dia ke kamarku.


"Gadis nakal, kenapa kau perlu melihatnya." Aku melepas kancingnya dan dia memeluk pinggangku.


"Karena kau sudah milikku."


"Aku ingin melihat rambut halusmu lagi." Dia membuat sebuah gerakan yang membuat wigku terlepas.


"Kau tahu melepasnya?" Bahkan tahu cara membereskan jaring untuk merapikan rambutnya.


"Aku sering melihat istriku dulu melepaskan ini. Dia kadang bekerja dengan penyamaran." Dia melihatku. "Kau tidak tersinggung bukan jika aku membicarakannya." Saat dia selesai, dia merapikan rambutku, menyisirnya dengan jemarinya dengan lembut.


"Tidak, dia kenangan manis. Bukan seperti mantanku yang adalah kenangan buruk. Dia sangat berharga di ingat, aku tahu dia akan selalu punya tempat di hatimu." Kata-kataku membuat dia memandangku.


"Kadang aku merasa aneh kenapa kau bisa jatuh cinta padaku. Kenapa kau tak membenciku saja setelah semua yang kulakukan."


"Aku membencimu. Tapi aku tak bisa bertahan ketika kau terluka dan tahu alasan sebenarnya. Kenyataannya aku tak bisa membencimu, saat membencimu pun aku memikirkanmu." Itu yang sebenarnya, hatiku akan selalu kembali padanya.



"Kadang sedikit jika aku salah bergerak." Dia merengkuh dalam pelukan dan cium*annya sekarang. Aku menyisipkan jemariku menyentuh kulitnya, membalas menciu*m dan memeluknya.


Aku terengah ketika dia mencium leher dan daguku. Semuanya memanas dengan cepat. Merasakannya menginginkanku membuatku juga menginginkannya, semua sentuhan dan cium*an itu tidak cukup lagi.


"Julie,..." Dia memanggil namaku ketika aku duduk di pangkuannya tanpa penghalang apapun yang bisa menghalangi kami.


"Biarkan aku..." Aku duduk diatasnya membiarkan bagian dari dirinya menembusku, menge*rang dengan puas ketika dia memenuhiku, sementara bibir*nya membuat is*ap"an yang melenakan.


"Gadis nakal, kau suka memegang kendali." Eranga*nku tak bisa kutahan, aku terlalu menikmat*inya, dia lebih baik dari siapapun.


"Louis..." Aku memel*uknya erat saat gelom*bang melenakan itu datang padaku.


"Sayang, lihat dirimu. Apa yang kau lakukan, sudah puas..." Dia menbantingku ke posisi bawah. Aku mengigit bi*birku, gelanya*rnya masih terasa, napasku terengah saat dia menciu*mku dan memperdalam dirinya.


"Louis." Kali ini dia yang mengejar yang ingin dia dapatkan. Aku pasra*h pada irama yang dia mainkan.


"F^uck, baby..." Eran*gan dan napas beratnya membuatku ikut mengera*ng saat dia berhasil melepasnya diatasku.


Kami sama-sama terdiam menenangkan diri. Saling tersenyum dan memandang satu sama lain.


"Tinggallah denganku, minggu depan aku akan ke LA. Kapan kita akan bertemu lagi. LA dan NY itu jauh, aku akan merindukanmu, kau sibuk, aku juga sibuk... Bersikap manislah sedikit padaku. Apa aku menganggumu? Apa kau takut aku jadi bebanmu?" Baru hari ini dia menerimaku tapi kami harus berpisah lagi nanti. Kapan aku akan melihatnya lagi.


"Tinggallah di NY jika kau mau." Aku melihatnya dengan tak percaya. Apa dia serius dengan perkataannya.

__ADS_1


"Tinggal di NY bersamamu? Kau serius?"


"Aku serius."


"Maksudmu kita tinggal bersamamu?" Aku ingin memastikan lagi apa maksudnya tinggal bersamanya. Apa secepat itu.


"Kau ingin tinggal bersamaku? Kau tahu kau bisa datang kapan saja ke apartment. Jika kau ingin tinggal bersamaku kita bisa mengaturnya. Tapi jika kau ingin tinggal di tempatmu juga tak apa. Kita bisa saling mengunjungi, kita di kota yang sama, apartmentku tak jauh darimu, kau sering ke kota lain, demikian juga aku. Yang aku maksud jadikanlah kota ini rumahmu." Dia serius soal ini. Aku benar-benar kekasihnya. Dia dan aku akan bersama.


"Baiklah, aku akan menjadikan kota ini tempat tinggal utama, aku akan kembali ke NY jika tak ada pekerjaan. Mungkin aku akan mengambil lebih banyak pekerjaan disini."


"Iya, kupikir memang seperti itu lebih baik."


"Jadi kau benar-benar kekasihmu sekarang."


"Kau kekasihku. Tidak ada yang lain. Aku kekasihmu baby.... Tapi mungkin aku masih tak percaya gadis sepertimu bisa jatuh ke pelukanku." Kali ini dia yang menciumku keningku singkat. Pandangan lembutnya menyapuku, jemarinya merapikan rambutku, entah kenapa dia suka sekali merapikan rambutku. Jika dia sudah terbuka padamu dia memang manis.


"Jangan tanya padaku. Aku juga tak tahu, mungkin aku hanya terkena sihir di kuil musim gugur. Aku hanya tahu aku takut kehilanganmu saat kau tertembak, sangat takut... Aku tak tahu kenapa. Tapi kau disini bersamaku sekarang... Aku tak perduli awalnya kau menganggapku mirip istrimu, kau tahu aku bukan dia."


"Kau bukan dia... Kau tahu tadinya saat aku tertembak kupikir aku akan menemuinya. Aku berdoa begitu, tapi begitu aku sepenuhnya sadar yang kulihat adalah kau. Tuhan menendangku kembali padamu. Mungkin karena kau terlalu banyak berdoa untukku." Aku diam, dan memeluknya. Itu adalah hal yang harus kuterima, bagian dari masa lalunya. Jika dia bisa menerimaku bukan berarti dia harus menghapus masa lalunya.


"Apa aku membuatmu terbeban Louis."


"Bukan terbeban, hanya aku takut kejadian yang sama terulang padamu. Jika kau punya tugas bisakah kau mengatakannya padaku... Itu mimpi buruk yang tak ingin kuulangi lagi. Membuatku merasa bersalah seumur hidup."


"Iya aku akan mengatakannya, tapi kau tahu aturannya aku tak bisa detail."


"Iya baiklah. Asal kau memberitahuku. Setidaknya aku bisa mengantisipasi yang akan terjadi. Dimana kau berada. Nanti akan memberimu gelang yang harus kau bawa, entah kau pakai atau kau bawa oke. Itu pelacak."


"Iya baiklah. Jika kau lebih tenang seperti itu."


"Satu lagi..."


"Apa."


"Berlatihlah bela diri lagi." Aku meringis, bagaimana aku berlatih bela diri jika aku saja tak yakin bisa menyediakan waktu.


"Ehm... akan kuusahakan. Aku tak yakin aku sanggup."


"Kau harus mengusahakannya. Aku akan melatihmu jika kau kesini, ini untuk keselamatanmu sendiri, kau pasti sudah melupakan latihanmu yang sudah lima tahun berlalu itu."


"Kau belum boleh masuk gym."


"Kami punya tempat latihan khusus di NY, banyak yang bisa melatihmu, teman sekaligus bossku yang memilikinya, istrinya juga mata-mata, bahkan satu keluarganya juga intel."


"Benarkah? Seperti aku?"


"Iya sama. Bahkan dia juga dikirim untuk meyelidiki kami."


"Wow? Seperti aku menyelidikimu?"


"Dan berakhir jatuh cinta pada targetnya. Kenapa kalian seperti itu..." Aku tertawa.


"Entahlah. Siapa suruh kau terlalu baik sekaligus kejam padaku."


Malam masih panjang. Tapi hari ini kami adalah kekasih saling memiliki satu sama lain seutuhnya.


\=\=\=\=

__ADS_1


ini jatah 2 hari digabung jadi 1


jangan protes dikit 😁


__ADS_2