TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
Part 77. Pengalaman Pertama


__ADS_3

“Ehm,...tadi enak banget.” Aku merapatkan tubuhku padanya dan dia melihatku. Dia beranjak dan membersihkan hasil perbuatannnya yang tertinggal padaku, aku tak akan lupa bagaimana pertama kali melihat ekspresinya tadi.


“Ini pertama kali?” Sebuah senyuman kecil di bibirnya.


“Iya.”


“Berani sekali mancing-mancing ya, menikmati sekali...” Aku menutup mukaku yang panas. Berada di pelukan seseorang yang berani berkelahi untukmu, bukankah itu keren. Aku terlalu berani menggodanya? Iya pikiran untuk menyentuhnya datang begitu saja saat melihatnya terluka untukku. Pelindungku ini begitu keren, tapi dia terlalu sopan kadang, mungkin menganggapku anak Papa, anak temannya, jadi dia tidak berani macam-macam denganku. Tapi aku tak bisa melepaskan pikiranku dari bayangannya saat melihatnya dengan kaus dalaman kemeja pas badan itu tadi.


“Koko ngeledek.” Dia tertawa, merangkul pinggangku dan menciumku lagi. Aku membalas ciumananya, untuk pertama kalinya aku melihat hal seperti tadi, pria yang melepaskan bagian dirinya yang lain. Itu asing, tapi se*xy... Aku tak bisa menahan diri tak menyentuh lagi kulitnya dengan jariku, sementara kulitku menyentuhnya tanpa penghalang lagi, perasaan yang ditimbulkan dari cu*mbuan tadi luar biasa, merasakan tubuh kokohnya menyentuhku pikiranku dan tubuhku tak bisa kukendalikan lagi, aku terbakar dan meremang bahagia, sentakan itu.


“Mau yang beneran?” Aku menggeleng, takut melakukan sampai tahap itu.


“Nanti aja kalau udah merried, ga pa-pa kan. Sorry...”


“Kalau gitu jangan nakal,...” Aku memang nakal, perkataannya membuatku tertawa kecil dan pipiku panas, tapi dia milikku, kekasihku. Menciumnya tak pernah cukup sekarang. Pertama kali bisa menyentuhnya begini dekat, setelah hanya bisa melihatnya dan merasakan pelukan sayangnya. Sekarang sisi lain seorang pria, tapi nyatanya dia bersedia tidak menyentuhku.


“Thanks ...”


“Buat apa?”


“Semuanya.” Aku mengenggam tangannya, buku jari yang terluka membuatku menatapnya. “Dulu Koko bener sering berantem?”


“Keluar dari perusahaan Mama Cecilia, Koko mulai dari jalanan, dulu Koko orang keuangan perusahaan Papa Cecil, ketemu sama anak boss, Mama Cecil, tapi keluarganya gak setuju. Dipaksain akhirnya cerai juga, dua tahun masuk geng, wira-wiri di jalan, berantem udah jadi makanan sehari-hari, jurus andalan mecahin botol di kepala orang, hidup gak bener, sampai akhirnya kenal sama Papa kamu, tadinya dia kenal Koko, akhirnya direkomendasiin kerja sama Papa boss yang sekarang, sampai disana semua lingkaran dalam itu diajarin berantemnya pakai guru martial art, pakai ilmu terukur bukan hanya pakai tenaga saja, nembak-martial art itu syarat masuk tangan kanan boss, sekarang anaknya yang sudah pimpinan tapi Koko tetap dipercaya....”

__ADS_1


“Sampai nembak?”


“Di luar Jakarta ada shooting range punya kita, plus ada bisnis group juga disini jasa keamanan, tapi bukan Koko yang kelola operasional, ada orang khusus.”


“Lalu koko kenapa berantem lagi, ngapain berantem gara-gara kesirem air doang.”


“Kamu gak tahu arogannya omongan dia tadi karena dia pake Canton. Engga cuma berantem sekali ini. Personal, masa saya gak bales kamu dikatain jalan*g, bodoh, padahal cuma kesenggol.” Dia berbohong, seperti tadi dia tak ingin aku tahu dan khawatir, dan aku cuma bisa mengkhawatirkannya, takut dia pulang dengan kondisi terluka atau harus masuk rumah sakit.


“Kenapa harus berantem kali ini. Koko kenal ya?”


“Koko punya alasan, dan sudah tahu memperhitungkan keadaan, bukan emosi. Orang memang harus dihajar, tapi apa tujuannya udah itu urusan Koko. Jangan nanya lagi oke, sudah selesai urusannya.” Nampaknya dia kenal orang itu, tapi aku heran bagaimana dia bisa menyusulnya, dia gak bawa sopir, kecuali dia punya semacam back-up khusus yang bisa sampai ngikutin orang. Aku penasaran dari tadi.


“Jabatan Koko di organisasi bukan sekedar CEO BeautySale ya?” Aku langsung menebak, group ini sampai punya unit shooting range dan jasa keamanan di Jakarta, berarti dia punya orang yang dia bisa perintah, bisa sampai ngikutin orang segala, cuma sekali telepon, kok bisa? Secepat itu? Orang itu tadi padahal papasan, bener-bener papasan, kok bisa dia langsung nyuruh orang ngikutin? Kecuali emang orang itu dia kenal, plus udah diikutin sebelumnya. Orang itu sudah ditargetkan? Dia tersenyum mendengar pertanyaanku.


“Kok koko gak jawab.”


“Ya kan saya orang senior, pasti ada tanggung jawab tambahan. Itu saja.”


“Lebih spesifik.’


“Bawel kamu. Sudah nanyanya- nanti kucium kalau bawel, Koko mau mandi.” Dia beranjak dari sisiku. Tidak mau menjawab lebih spesifik.


“Koko!”

__ADS_1


“Pulang sana. Sudah malem, kecuali kamu mau tidur disini, tapi saya gak tanggung jawab soal apa yang bakal kejadian.” Dia menutup pintu kamar mandi. Ngancem biar aku pulang. Dia PD melenggang memamerkan torso dan pundaknya yang sempurnanya itu. PD sekali...


“Koko!” Dia menjengukkan kepalanya padaku.


“Apa? Mau tidur sini? Ya sihlakan...” Dia tidak akan berani macam-macam denganku. Aku masih penasaran, siapa Koko itu sebenarnya.


Aku menunggunya. Dia sudah mandi, sekarang cuma pakai boxer dan kaus rumahan abu-abu. Rambutnya masih setengah basah. Wangi sabun. Dia melihatku tapi membiarkanku, duduk dengan tenang disampingku, seakan tidak ada masalah yang belum selesai diantara kami.


“Tidurlah, capek, kamu masih kerja besok kan...” Dia membiarkanku menyender padanya, memeluknya yang wangi.


“Koko gak mau kasih tahu beneran.”


“Kamu akan tahu kalau kamu sudah berstatus resmi istri saya, puas sayang.”


“Ohh...” Ternyata ada syaratnya.


“Ya sudah...” Dia melihatku yang menyerah.


“Kamu beneran mau tidur disini?”


“Gak boleh ya?”


“Ya boleh kalau kamu bisa tidur, kalau kamu gak pernah tidur sama orang mana mungkin bisa tidur, kamu disini aja, nanti koko pindah ke kamar tamu aja.” Benar juga aku tak akan bisa tidur disamping orang.

__ADS_1


“Aku pulang, tapi sebentar lagi aja.”


__ADS_2