TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 5 Part 19. The Real Reason.


__ADS_3

POV Julie


"Apa kau tidak ada pekerjaan lagi di case yang kemarin Kelly." Entah kenapa aku senang sekali melihat Louis kesal. Aku belum selesai membalas dendam padanya kukira.


"Ehm, kau ditarik dari kasus itu oleh Thomas. Tidak akan masuk lagi ke sana. Aku tak tahu detailnya tapi nampaknya karena lobby dari temanmu yang bernama Louis itu. Mereka punya data jauh lebih lengkap dari kita. Arah penyelidikan lebih terfokus sekarang, kami tidak lagi menarik data random." Aku ditarik karena lobby Louis?!


"Bagaimana bisa?! Karena dia aku ditarik dari case?!" Kenapa Louis bisa mengendalikan kasus ini darimana dia mendapatkan kekuasaan dan apa yang ditawarkannya pada Thomas?


"Iya, malah perintahnya lebih spesifik. Kami tidak bisa melibatkanmu sama sekali."


Bangsat Louis itu! Apa sebenarnya yang diinginkannya?!


"Aku tak boleh terlibat dalam kasus ini sama sekali?"


"Bukankah ini menyenangkan kau jadi bebas tugas. Kenapa kau marah. Lagipula alasan utamanya mungkin untuk keselamatanmu sendiri." Untuk keselamatanku sendiri? Aku sudah setidaknya lima tahun jadi agen, apa dia bisa menilai kemampuanku? Bertemupun hanya beberapa kali.


"Kenapa aku marah? Kenapa dia bisa mengaturku di operasi ini. Keselamatanku? Dia pikie dia bisa menilai kemampuanku? Aku tidak terima ini. Dia pikie dia siapa?! "


"Ehm Julie.. aku sebenarnya tak tahu detailnya. Mungkin kau bisa menelepon Thomas saja untuk tahu jelasnya." Kelly nampaknya takut juga aku akan marah dan mengacau.


"Aku akan menelepon Thomas sekarang."


Sekarang dengan amarah di ubun-ubun aku menelepon Thomas.


"Julie? Ada apa?" Dia langsung mengangkat teleponku.


"Kenapa si bangsat Louis itu bisa merekomendasikan aku tak bisa ikut operasi yang berkaitan dengan Alberto Tosar?!"


"Itu untuk keselamatanmu sendiri."


"Apa maksudmu untuk keselamatanku? Bagian mana dia bisa menentukan keselamatanku, memangnya dia tahu kemampuanku?"


"Bukan begitu. Tidak ada yang meragukan kemampuanmu, tapi ada satu agen yang mirip denganmu dan itu beresiko karena mereka bahkan membunuhnya. Kami takut kau disangka salah seorang yang terkait saudaranya. Jadi memang ini untuk keamananmu sendiri." Thomas menjelaskan alasannya.


"Aku jadi tak percaya ini."


"Ini lebih bagus bukan. Kami tak ingin menaruhmu dalam bahaya."


Keputusan Thomas final tidak bisa di ganggu gugat lagi. Ini menyebalkan. Rasanya seperti kalah lagi dengannya. Arghhh, menyebalkan sekali.


"Kau memang menyebalkan!" Aku tak bisa bertahan untuk tak menelepon dan mencercanya. "Kau pikir kau hebat bisa mencampuri hidupku, bahkan pekerjaanku?! Apa hakmu menarikku dari operasi?!" Dia tak menjawabku sesaat sehingga emosiku naik karena merasa di abaikan.

__ADS_1


"Kau tak dengar aku?! Jawab aku." Sekarang aku berteriak.


"Terserah padamu, tapi bayangkan jika orang yang kau cintai harus menangisi jasadmu. Mungkin kau akan merubah pikiranmu. Aku pernah ada di posisi itu dan aku menyesal seumur hidup dan masih sampai sekarang. Pikirkan itu? Tak selamanya itu akan menjadi keren."


Dia menutup telepon seketika itu juga.


Ganti aku yang terdiam. Apa maksudnya? Layar teleponku menghitam. Tapi aku tak bisa lepas memandang layar hitam itu.


'Bagaimana jika orang yang kau cintai harus menangisi jasadmu?'


Aku teringat potongan percakapan kami di Tokyo.


"Lalu kenapa kau tidak bersamanya sekarang. Kau begitu mengingatnya."


"Karena kami memang tak bisa bersama."


"Sepertinya kisah yang menyedihkan." Setelah itu dia tidak menjawabku.


Jangan-jangan itu yang dimaksudnya sebagai "ada saatnya itu tidak keren lagi." , mungkin mereka pernah merasa bangga dan keren bisa menyelesaikan tugas yang berhasil.


Tak salah lagi agen yang di bunuh itu kekasihnya.


Dan dia menyalahkan dirinya sampai sekarang karena kejadian itu? Mirip denganku? Itu juga menjelaskan sikap anehnya padaku. Melihatku seperti dia mengenalku sebelumnya. Kemungkinan besar aku mirip kekasihnya.


Aku duduk dan terdiam lama memikirkannya, kenyataan bagaimana dia melihatku sebagai pengingat kekasihnya. Aku jadi kasihan, pembunuh utamanya tidak bisa ditangkap sampai sekarang. Bagaimana dia menanggung kenyataan itu... Rasa bersalah tidak bisa berbuat apa apa.


Mungkin aku harus minta maaf padanya, karena dia benar memikirkan keselamatanku. Bahkan dia tak mau aku menyukainya, dia masih punya banyak hal yang belum diselesaikan. Kasihan sekali sebenarnya.


Aku mengirim pesan kepada Thomas.


'Thomas, kau tahu apa yang ditembak Alberto Tosar itu kekasih atau mungkin temannya Louis ?'


'Aku tak tahu, penghubungnya hanya bilang orang dekat Louis, aku sama sekali tak tahu hubungannya.'


'Kau tahu dimana Louis sekarang?'


'Tidak.'


'Apa boleh aku meminta nama dan nomor penghubung Louis, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padanya.'


'Kuminta izin dulu padanya. Nanti kuberikan bila dia memberikan izinnya.'

__ADS_1


Aku harus menunggu kemudian. Tak lama kemudian sebuah nomor dan nama dikirimkan padaku. Nomor penghubung Louis, tertulis nama Kimberly, bukankah dia yang kutemui di rumah Louis saat itu, wanita itu juga bernama Kimberly.


Aku menelepon nomor yang diberikan Thomas.


"Hallo?" Suara seorang wanita, aku tak ingat suara wanita yang kutemui di apartment Louis sebenarnya.


"Hallo, ini Julie Harris, aku mendapatkan nomormu dari Thomas. Apa kau Kimberly yang pernah bertemu denganku sebelumnya?" Aku yakin dia ingat padaku.


"Iya, aku Kimberly yang pernah bertemu denganmu. Ada apa?"


"Apa Louis baik-baik saja?" Kimberly tertawa kecil di ujung sana.


"Dia baik tentu saja, jangan khawatir padanya. Yang sebenarnya dia lebih mengkhawatirkanmu. Maaf aku terlibat sandiwara kemarin, kau pasti sudah tahu tujuannya sekarang bukan. Atau belum? Kupikir kau dapat menangkap gambaran besarnya dari potongan ceritanya."


"Ehm jadi wanita yang dibunuh Alberto Tosar itu kekasih Louis?"


"Istrinya, mereka baru saja menikah. Dia ditembak di Paris, clear shot 1x tembakan di kepala. Louis menemukannya sudah tewas saat dia kembali dari membeli makanan." Aku terbelalak, istrinya?! Dalam masa bulan madu!?


"My Lord..." Aku tak menyangka itu istrinya, pantas saja dia sangat terpukul, apalagi pembunuhnya bebas berkeliaran.


"Itulah ceritanya, di satu sisi dia juga tahu kau menyukainya, di sisi lain dia punya banyak masalah yang belum dia selesaikan, dan di sisi lain dia merasa kau seperti istrinya yang mirip, sangat mirip ceritanya. Sebenarnya ini untuk melindungimu,..."


Aku diam. Kasihan sekali Louis, masa bulan madu mendapatkan kekasihmu tewas terbunuh di depanmu.


"Aku mengerti. Apa aku tak boleh membantunya sama sekali."


"Kau membantunya dengan tidak menghubunginya. Kami sedang berusaha mengendalikan situasi disini, berkat bantuan timmu, kami sedang berusaha untuk memerangkap Alberto Tosar dan aku yakin kami akan berhasil. Jika situasi sudah tenang kau bisa menghubunginya lagi." Kimberly menjelaskan panjang lebar apa yang mereka sedang lakukan sekarang.


"Begitukah. Dia tidak membenciku bukan?" Kimberly tertawa dengan pertanyaanku.


"Jika dia membencimu bagaimana dia berpikir untuk melindungimu. Tentu saja dia tidak membencimu." Dia tidak membenciku. Akhirnya aku bisa lega.


"Tak adakah sesuatu yang bisa kulakukan untuknya, tadi aku marah-marah padanya."


"Tak apa dia lebih bisa menangani kau yang marah-marah daripada kau yang tersenyum padanya." Sekarang aku tertawa, itu nampaknya berlebihan. Tapi baiklah bagaimana aku tak mengangģu jika dia harus memikirkan aku yang terlalu mirip dengan istrinya mungkin dan menghadapi ancaman pembunuhan di saat yang bersamaan.


"Aku mengerti. Ya baiklah, bisakah aku mendapatkan berita jika kalian sudah selesai menangani kasusnya."


"Aku akan katakan padamu."


"Itu melegakan. Terima kasih Kimberly. Aku menghargainya."

__ADS_1


Akhirnya aku bisa tenang. Louis terima kasih. Walau mungkin kau melakukannya dengan kejam, tapi aku akhirnya tahu kau tidak kejam. Kau melakukannya untukku.


__ADS_2