TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
Part 78. Sandra Lai 2


__ADS_3

"Aku yang menghajar Simon Tam."


"Apa? Kau yang ..." Dia melonggo, sebelum tertawa terbahak-bahak. Dia malah tertawa jadi aku yakin kemungkinan besar dia juga tak menyukai bossnya.


"Baiklah-baiklah, aku hanya mendengar dia bertengkar di tempat karaoke, jadi sebenarnya apa yang terjadi."


Kuceritakan semua kejadian dengan Tata, dia meringis saja mendengar rincian ceritaku, tapi juga termasuk bahwa aku sudah mengawasi Simon Tam karena kasus SCI, dia melihatku dan meminum birnya. Nampaknya dia sudah tahu apa tujuanku mengajaknya kesini.


"Aku akan jujur padamu. Jika bisa aku tak ingin berhadapan denganmu Sandra, pindahlah ke unitku. Simon Tam arogan sialan itu, kau tahan bekerja dengannya?!"



Dia duduk menyender melihatku. Tersenyum kecil padaku. Seakan semua ini lucu buatnya.


"Sandra, demi masa lalu kita, Koko ini memohon padamu... Apapun yang kau mau? Kau dibayar berapa? Akan kuganti lebih tinggi daripada Simon sialan itu."


"Kau tahu, kau lebih licik darinya Koko..." Dia tertawa.


"Jelas saja, dia cuma menang licik di hukum, tapi dia cuma bede*bah sombong arogan anak kemarin sore. Bicara melebihi sombongnya langit."


"Kau benar soal itu..." Dia meringis.


"Jadi kenapa kau masih disana, kau menghabiskan waktu berhargamu mendengarkan omong kosongnya."


Dia menghela napas, ...


"Sebutkan berapa dia membayarmu Sandra."

__ADS_1


"Kau benar-benar berusaha rupanya...."


"Sejak aku tahu kau bekerja padanya aku sudah menyusun rencana, aku tak ingin melawanmu, kau harus jadi timku, pertemuan kita di restoran bukan kebetulan, orangku sudah mengawasimu. Apa aku pernah tidak membelamu dari dulu, kenapa kau tak meneleponku dan meminta ganti penempatan dari dulu... Kupikir kau baik-baik saja di HK dibawah Kent." Dia masih tak menjawabku.


"Bagaimana jika liburan ke Bali dua minggu sebelum kau bekerja... Bilang saja kau sedang depresi, dan butuh healing, atau apapun alasanmu, permintaan maafku karena lama aku tak meneleponmu."


Dia tertawa.


"Kau menang Koko, aku resign, tak akan melawanmu bagaimanapun juga aku tak akan menang darimu, suruh Simon sialan itu saja yang pusing, tapi aku tak bisa memberimu informasi apapun soal pekerjaan sebelumnya dan satu lagi aku jika bisa tak ingin bertugas di Hongkong, lempar aku kemanapun aku tahu Inggris, Mandarin atau sedikit Korea. Nampaknya aku harus belajar Melayu."


"Oke... cukup adil. Deal. Kent yang berkuasa di Hongkong, kau tak akan bekerja di Hongkong, aku hanya menangani semenanjung Malaya, ditambah Vietnam sekarang."


"Deal. Bali 2 Minggu..."


"Kuatur besok, katakan saja kau ingin mulai kesana tanggal berapa. Tiket, Akomodasi, dan uang jajan."


"Boss yang baik hati,..."


Berhasil setelah seharian berusaha aku punya satu orang pimpinan tim yang bisa kupercaya.


Aku mampir ke toko kue untuk membelikan Tata kue. Semoga dia tidak marah aku mengingkari janji kami. Aku akan mengantinya besok.


Aku sampai hampir jam 10 ke Jakarta. Akhir pekan jalanan selalu macet. Tapi aku tak melihat mobil Tata di garasi. Apa dia sedang keluar?


Bibi membukakanku pintu.


"Bi, mana Tata."

__ADS_1


"Non Tata pergi Tuan. Tidak tahu kemana, jam 6an perginya." Bertepatan dengan aku membatal janji kami. Aku merasa ini agak tidak bagus, sepertinya dia akan marah.


"Ya sudah saya tunggu saja."


"Tuan mau minum teh atau kopi?"


"Engga, nanti saya bisa ambil sendiri di kulkas."


"Ohh ya sudah. Bibi ke belakang dulu Tuan."


"Iya makasih Bi."


Tak lama suara mobil masuk ke gerbang. Tata pulang, dia masuk dan melihatku, mukanya tak ada senyum. Masalah...


"Ta, Koko beli kue buat kamu ada di kulkas."


"Ohh jadi lu pikir bisa ganti batalin janji dengan kue. Lu pikir gue anak kecil disogok makanan." Ngomongnya sudah pakai lu gue, ... masalah besar dia marah-marah. Kue gak bisa jadi sogokan.


"Ta, kan Koko kasih tahu Koko gak bisa...."


"You kasih tahu jam 6, seenaknya, pake satu sms, kalo ngasih tahu tuh, berapa jam sebelumnya, alasannya jelas, jangan cuma 'Koko belum selesai kerjanya', lah kerja lu kan ngobrol sama temen lama lu yang cakep itu, jadi ya sudah dia lebih dia lebih penting kan?!"


"Ta, Koko gak gitu maksudnya, mana mungkin.... Oke oke sorry... Koko je-" Baiklah aku salah menberitahunya jam 6. Dia memotongku lagi.


"Udah! Gue lagi males ngomong, lagi tensi, ngomong besok aja, pulang sana! Saya mau tidur! Ngobrol saja sama Sandra."


"Tata, dengerin dulu."

__ADS_1


"Bawa pulang kuenya!" Dia naik ke kamar tak dan tak memberiku kesempatan bicara.


Sekarang aku salah perhitungan! Kue gak mempan. Dia cemburu buta. ****!


__ADS_2