
"Simon Tam ini memang sedang Koko awasin, dia lagi ditugaskan bikin masalah ke salah satu perusahaan Group Koko, koko koordinator keamanan utama keamanan Direksi dan CEO group Hong Lung di Malaya dan Vietnam. Jadi Koko kemarin berusaha narik Sandra pindah ke group keamanan Koko lagi... Itu tujuan Koko bukan buat yang lain. Dan kemarin Koko deal sama dia. Dia akan kerja dibawah Andy dan Johny, assisten Koko tapi khusus menangani tim keamanan Jakarta. Jelas? Iya, Koko salah batalin janji dan gak jelasin alasannya. Sorry, sorry dan sorry lagi..."
Aku melihatnya dengan sebal. Masih betah ngambek.
"Jealous nya udah please. Koko gak ada apa-apa sama Sandra. Cuma teman yang baru ketemu kemarin, kalau dia gak mau masuk group Koko terpaksa Koko harus buat perhitungan buat menjatuhkan dia." Dia merangkul pinggangku. "Baikan, jangan cemburu sampai segitunya..."
"Sorry, cium nih kalo gak jawab."
"Koko jelek." Aku masih bersunggut.
"Iya Koko jelek. Tapi kamu tetep sayang kan." Sekarang dia kupukul. Dia tertawa menerima pukulanku yang tak ada tenagaku itu.
"Tata damai..."
"Gak mau."
"Mau kue masih ada?" Masih bawa-bawa kue. Bikin emosi naik lagi.
"Ishhh." Sekarang kucubit perutnya.
"Sakit. Sadis ya kamu." Dia memelukku, dan mengunciku. Dan menciumku dengan paksa. Aku tak mau tapi lama-lama aku membalasnya juga. Dia melonggarkan pelukannya karena merasa aku membalasnya.
Aku jadi bisa mendorongnya sekarang tapi dia tak melepasku dari pelukannya.
"Koko emang jelek." Dia tersenyum, tapi aku ikut tersenyum.
__ADS_1
"Awas Sandra itu berani colak-colek Koko. Pernah tidur sama Koko gak?"
"Ya kaga lah, Sandra mah tomboy temen berantem."
"Cakep gitu..."
"Gak percaya, Koko kenalin entar." Aku melihatnya, jadi menangis semalam memang bodoh. Itu hanya pikiran cemburuku. Cinta memang buta, cemburu itu lebih buta lagi.
"Udah Tata sayang, minta cium boleh." Kucium saja pipinya. "Kamu kemana kemarin."
"Selingkuh cari cowo baru. Ditinggal sama Sandra juga kan." Dia meringis. Padahal aku hanya main kerumah Yenni kemarin.
"Ohh gitu."
"Iya gitu." Tiba-tiba dia menciumku tapi tangannya kemana-mana, aku tersentak sekarang. Belum terbiasa dengan sentuhan dan cumbuan ahlinya. Dia mendorongku kebawahnya, menyerangku hingga aku terengah kewalahan. Aku suka bagaimana dia memaksaku.
"Kok berenti...Lagi Ko, nanggung..." Dia melihatku.
"Kamu yakin kamu perawan. Ada ya perawan semesum kamu." Mukaku memanas langsung.
"Kokooo jelek!" Aku mendorongnya dengan kesal.
"Iya-iya, sorry...sorry, maksudnya bukan gitu, koko cuma nanya, kalo udah engga, koko gak punya masalah apapun, ngaku aja kita bablasin. Jangan nyiksa Koko lama-lama..." Dia tak melepasku sekarang, tertawa sendiri dan menciumku lagi singkat. "Sorry Tata cuma nanya. Bukan ngatain kamu. Sorry ..."
"Sorry melulu." Lengan kekar dan dada bidang ini terlalu sulit untuk ditanggung, apalagi melihatnya bentuk perutnya yang seperti itu, perawan saja langsung memimpikannya.
__ADS_1
"Ya kan nanyanya beneran, kamu pikir enak digantung. Sakit kepala bisa mulai tapi gak bisa akhir...."
"Kan bisa kaya kemarin." Aku menciumnya lagi, iya aku mengerti bagian itu, tapi aku tak ingin sampai terjadi.
"Kaya kemarin?"
"Kan bisa..." Aku membisikkan cara yang kutonton dari situs nyeleneh. Dia tertawa.
"Kamu ini kebanyakan nonton gak bener." Aku menciumnya lagi karena menginginkan cu*mbuannya lagi, kali ini dia membalasku dengan serius, apa yang terjadi tak ada jeda lagi. Aku membantunya hingga selesai, banyak cara membantunya bukan.
"Yang koko cerita tadi simpen buat kamu aja. Jangan cerita ke yang lain termasuk Papa kamu, atau Cecil, buat keamanan kamu juga. Ngerti."
"Iya tahu. Kokoku emang keren..." Dia tersenyum. Dia memang gangster yang bisa menghajar orang sampai jadi korlap se asia tenggara. "Level gangster multinasional ya Ko..." Dia tertawa.
"Itu kelihatan keren tapi kerjaan memusingkan."
"Mau belajar berantem juga boleh?"
"Sasana kita gak ngajarin bela diri praktis, itu tempat latihan level yang serius, isinya 95% cowo. Ntar kalo mau ada tempat latihan temen Koko yang ngajarin bela diri pertahanan wanita."
"Pake jurus langkah seribu alias kabur saja." Dia tertawa.
"Kalo sempet berpikir kabur, kalo panik udah mantek aja disitu. Kalo pernah latihan, seenggaknya sudah ada persiapan dan bisa tenang, karena sudah tahu teknik selanjutnya yang bisa digunakan kalau gak bisa kabur..."
__ADS_1
"Liat entar aja. Hari ini ayo jalan-jalan aja udah selesai ngambeknya..."
Akhirnya hari ini berakhir damai. Kuharap seperti yang dia katakan Sandra itu hanya teman.