
Pagi-pagi Sayuri dan Yuke setelah sarapan bersama kami mereka sudah pamit untuk ke Yoshino.
"Berhati-hatilah, jangan lupa kabari kami kalian sudah sampai. Salam ke Bibimu." Papanya memberikan pesan sebelum mereka pergi.
"Iya, kami pergi. Papa dan Kakak Shiori bersenang-senanglah hari ini." Aku melambai ke mereka, akhirnya sampai besok siang kami akan berdua saja di Osaka, walaupun kamar kami terpisah tetap saja ini mendebarkan.
"Mau pergi sekarang?" Jam 9 kami sudah naik lagi ke atas dan bersiap untuk pergi.
"Ini masih terlalu pagi." Aku duduk bersamanya di sofa, mengganti channel televisi di depan kami. Dia melihatku, aku jadi balik melihatnya.
"Apa." Sekarang dia merangkul pinggangku. Aku kaget walau tak menolak rangkulannya. Debaran jantungku mulai tak menentu. Tapi aku menyukainya, semalam bahkan dia tak mengangguku di kamarku dia membiarkanku istirahat dengan tenang dan hanya mengucapkan selamat malam dengan manis. Aku menyukai kesabarannya.

"Apa kau senang dengan perjalanan ini."
"Tentu saja."
Aku melihat matanya matanya begitu dekat, berpikir kenapa dia bisa menjadi milikku, mungkin ini hanya mimpi sampai tanganku menyentuh dagunya dan merasakan bekas tajam cukurannya menggelitik jariku. Rasanya seperti tersengat, aku tertawa kecil dan menariknya lagi dengan cepat.
"Tidak apa." Dia tertawa dan malah menangkap tanganku menaruhnya di dagunya sehingga aku tertawa kegelian. Aku jadi menyisir rambutnya yang lebat dengan tanganku. Pertama kali aku menyentuh rambutnya.
__ADS_1
"Rambutmu halus." Sekarang dia menatapku terlalu dekat. Wangi napasnya bisa tercium olehku. Wangi parfumnya membuat degup jantungku terlalu kencang saat ini. "Dan kau wangi apple." Aku meracau karena tegang pertama kali terlalu dekat padanya.
Kami begitu dekat, aku seperti tertarik begitu saja padanya, sebuah ciuman lembut membuatku tak bisa bernapas sesaat seakan waktu terhenti begitu saja.
"Kau suka?" Dia tersenyum kecil menatapku yang terlalu terpaku padanya dan menarikku lebih dekat ke pelukannya, ini nyaman tapi sekaligus mendebarkan.
"Wanginya enak." Aku menyusupkan wajahku ke lekuk lehernya, menyembunyikan wajahku di kehangatan dadanya. Tak sanggup memandang matanya terlalu dekat. Dan membuat dia bisa memainkan rambutku sementara mataku tertuju ke televisi.
Duduk saja begitu berdua terasa menyenangkan kemudian, terlalu tenang dan membuatku bertanya apa yang dia pikirkan.
"Apa yang kau pikirkan?" Aku bertanya dan menemukan dia menatap televisi.
"Tak ada. Hanya senang bisa duduk bersamamu begini." Dia memang terlalu tenang. Kucuri ciuman di pipinya yang membuatnya melihatku dengan senyum dan mengelus pipinya.
"Terima kasih membuat Sayuri begitu senang kemarin. Sudah lama aku tak melihatnya begitu bahagia. Dia seperti punya orang yang bisa dianggapnya sebagai Kakak."
"Apa kau juga bahagia?"
"Jika aku tak bahagia, aku tak akan duduk bersamamu seperti ini. Apa tidak terlihat aku bahagia bagimu. Kau mau sesuatu dariku? Hadiah, mungkin ada sesuatu yang kau inginkan? Jika kau mau kau bisa mengatakannya." Dia murah hati bukan.
"Tidak." Aku dengan cepat menggeleng.
__ADS_1
"Kau sudah memberikan banyak hal."
"Aku? Memberikan sesuatu? Apa? Kurasa belum selain aku membawakan makanan. Apa itu dihitung." Dia berpikir apa yang dia pernah berikan padaku.
"Kurasa aku hanya ingin sebuah hubungan yang berhasil dan tenang, Mama dan Papa yang tidak merasa bersalah lagi dan memaksaku kembali ke NY. Dan aku bisa menemani mereka di sini."
"Mereka memaksamu kembali ke NY?"
"Iya dua tahun belakangan mereka semangkin khawatir padaku. Bahwa aku mengorbankan hidupku sia-sia disini."
"Itu biasa. Orang tuamu mengkhawatirkanmu."
"Aku terpaksa harus terus ikut Omiai karena mereka dua tahun ini. Sampai aku bosan dan ingin membantai orang secepatnya." Aku meringis sendiri, kasihan yang terakhir, kurasa aku kejam padanya.
"Kau memang kejam." Dia mengetuk keningku.
"Kenapa kau menyukaiku kalau kau tahu aku kejam."
"Ya karena aku tahu kau logis melihatnya, kau tidak mau menghabiskan waktu sia-sia, cuma caranya ...agak menakutkan."
"Jadi aku tak menakutkan bagimu?"
__ADS_1
"Kau hampir terbunuh karena aku, itu lebih menakutkan." Dia mencium keningku singkat, membuatku memejamkan mataku dan tersenyum.
Aku ingin tetap disini. Hanami ini terlalu indah untuk dilupakan.