
Mama banyak menghabiskan waktunya di Hongkong dan Shenzhen, kami banyak mengobrol, makan bersama, berbelanja, bahkan Mama mengajariku memasak, hal-hal yang tidak bisa kulakukan dulu jadi kenyataan.
Cheng Xin, nampaknya dia tak punya kesempatan menganggu Mama lagi. Entah bagaimana akhirnya tapi kudengar dia menerima saran Mama untuk memperoleh bantuan profesional akhirnya.
"Akhirnya Mama bisa melihat laporan operasionalnya, tak terlalu buruk, dia masih punya keuntungan. Walaupun dia tak bisa membelikan istrinya tas Birkin dari itu tapi jelas itu cukup untuk hidup layak dan membiayai keluarganya."
"Baguslah, tak seburuk apa yang kita pikirkan berarti."
"Ya setidaknya dia masih bisa menghasilkan untuk keluarganya, tidak ada kerugian. Jika dia ingin lebih dia harus memikirkan caranya."
Setidaknya itu berakhir dengan hanya mengorbankan rasa sombong. Bagaimana dia bertahan dengan mengorbankan egonya itu urusannya sendiri. Yang penting Mama di sisi lain tidak makan hati mendengarkan rengekannya setiap hari.
Belakangan semuanya terasa cukup menyenangkan, walaupun kami punya banyak pekerjaan tapi tak terasa memberatkan. Mungkin karena aku punya Oliver. Semuanya jadi terasa lebih ringan.
Dan sekarang kami berada kembali di Hanoi, menghadiri pembukaan hotel tempat kami bertemu setahun yang lalu. Aku sudah tak sabar melihat seperti apa rupa hotel yang aku sudah liat berkali-kali designnya itu.
"Nona Sandra, Tuan Oliver, senang melihat kalian berdua ..." Ternyata Nguyen yang menyambut kami.
"Tuan Nguyen, kami juga senang melihatmu lagi." Bisa dibilang kedekatan kami juga sebagian besar karena jasa Nguyen, dia yang memberikan saran ke Oliver apa yang harus dilakukan. Dia lebih mengerti apa yang kupikirkan, Oliver yang berbeda latar belakang denganku tak akan sampai kesini jika dia tidak mengikuti saran Nguyen.
"Kenapa kau di Hanoi, tidak berada di proyek."
"Aku baru cuti sekarang setelah berbulan-bulan di proyek, proyek selesai, bos memberi cuti, karena yang mengurus pernak pernik pembukaan bukan aku, bos memberi keluarga kami menginap gratis juga, karena sudah bekerja setahun ini mengawal proyek ini. Tapi mereka sudah disana tadi pagi, bersama rombongan lainnya, aku menunggu kalian."
"Kau baik sekali menunggu kami." Aku tersenyum padanya.
"Kita memang tim yang baik Nona Sandra, dari awal. Bukan begitu Tuan Oliver."
"Tentu saja Brother Gyuyen, kau harus memperkenalkan kami kepada keluargamu."
"Tentu saja, ada putraku dan putriku dua-duanya ikut liburan. Mereka adalah semangatku. Semoga kalian juga punya anak sendiri secepatnya."
"Terima kasih Tuan Nguyen, semoga doamu terkabul."
"Kau tak pernah merasa anakmu sebagai beban Nguyen?" Oliver tiba-tiba bertanya pada Nguyen.
"Anak sebagai beban? Tidak karena aku menginginkan mereka tentu saja, ya jika kau punya anak tentu kau punya tanggung jawab finansial tentu saja, tapi itu penyemangat untukku, melihat mereka tumbuh dengan tercukupi setiap orang tua akan merasa begitu. Tentu aku harus hadir sebagai Ayah, tapi kebanyakan istriku yang 24 jam di rumah bersama mereka. Asal uang bulanan cukup kurasa dia punya kemampuan mengatasi apapun... Tapi tentu saja itu team work, tapi saat aku harus bekerja dia bisa diandalkan." Nguyen tertawa. Oliver diam dan berpikir atas pernyataan Nguyen.
"Aku bisa mengatasinya." Aku berbisik padanya. Oliver tersenyum padaku tapi dia tak mengatakan apapun kemudian. Kuharap dia berubah pikiran setelah mendengarkan Nguyen.
Kami sampai di hotel kemudian sekitar lewat jam makan siang. Aku sudah bisa membayangkan bagian depannya. Sesuai dengan apa yang kubayangkan, lobby megah dengan lampu-lampu kristal gantung yang mengagumkan. Dibelakangnya langsung hotel 15 lantai menghadap ke laut lepas dan villa-villa khusus, dengan faselitas kolam renang infinity besar yang terhubung ke teras lautan dan beberapa restoran, ruang pertemuan besar.
Karena sudah diratakan dan bebas dari semak-semak, pantainya jadi terbentang biru di horizonnya. Restoran utama itu akan jadi acara puncaknya, mereka punya langit-langit yang bisa terbuka. Aku menunggu melihatnya.
Kami bertemu dengan kepala proyek dan wakilnya kami dari awal proyek yang kukenal juga, mereka mengucapkan selamat kepada kami yang sudah resmi jadi pasangan .
Dan anak-anak Nguyen yang sudah asyik bermain di pantai. Putrinya mungkin baru berusia tiga tahun itu sedang lucu-lucunya. Anak perempuan itu membiarkanku menggendongnya, dia ramah.
"Kau mau di gendong spiderman, ..." Aku menunjuk kepada Oliver yang saat itu sedang memakai baju kaus Spidermannya. Dia bahkan menjulurkan tangannya ke Oliver. Oliver langsung kebingungan sekarang.
"Me?" Dia membuat muka tak berpengalaman mengendong siapapun.
"Cobalah... dia menyukaimu,..." Akhirnya dia tersenyum juga saat anak perempuan itu tersenyum padanya.
"Uncle..." Dia bahkan menyebutnya uncle. Sekarang Oliver mulai tersenyum. Rupanya orang tuanya mengajarkannya bahasa Inggris juga. Nampaknya dia menyukainya, dia bahkan berani mengajaknya berjalan-jalan sebentar dalam gendongannya dan anak itu bersikap tenang dalam gendongannya.
"Terima kasih Paman." Saat dia mengambalikan dalam gendongan Ibunya anak itu mengucapkan terima kasih. "Kis*s ..." Dia menunjuk pipinya.
"Ki*ss me or I kis*s you?" Oliver sekarang membulatkan matanya.
__ADS_1
"Dia yang memberi ciu*man." Sekarang Ibunya yang menjelaskan.
"Ayo mau kiss Paman, Bibi gendong." Dan ciu*man keajaiban itupun terjadi. Dia tertawa dan pipinya sekarang agak memerah, nampaknya dia benar punya kelemahan dengan ciu*man di pipi.
"Astaga Uncle pipimu memerah." Semua orang tertawa sekarang.
Dan sekarang didepan sana pantai landai luas dengan pasir putih dan air jernih bagai permata. Aku melihatnya dengan mata berbinar.
"Sudah setahun, lihatlah betapa indahnya ini." Mengandengnya di garis pantai ini lagi. Kami pernah berdua disini setahun yang lalu, menatap bintang di langit yang sama, kali pertama aku melihat bintang jatuh, tak pernah membayangkan orang yang menemaniku malam itu akan menemaniku lagi setahun lagi kemudian.
"Hmm... iya sudah lewat setahun sejak kita bertemu di Bali." Aku tertawa, dia malah teringat pertemuan yang menyebalkan itu. Awal dari semuanya yang terjadi sampai sekarang.
"Cara pertemuan kita lucu bukan."
"Tidak lucu sama sekali aku membencinya." Dia tidak berkata-kata, aku jadi heran sekarang. Aku melihatnya dan dia menatapku. "Apa..."
"Tidak apa. Kupikir walaupun cara bertemu kita sangat tidak biasa, entah bagaimana itu sudah digariskan harus begitu... Jika tidak begitu maka kita tidak akan bertemu."
"Hmm... benarkah?" Aku menyusupkan diriku dalam pelukan lengannya, sementara angin meniup rambut kami.
"Benar. Aku harus berterima kasih pada Anna yang sudah begitu berisik malam itu." Sekarang aku tertawa.
"Terima kasih sudah membuatku begini bahagia. Aku sudah tak sabar melihat restoran putar itu."
"Kau akan melihatnya malam ini kita bahkan akan membuka rooftop untuk pesta kembang api."
"Benarkah...."
Dan benar saja, ada makan malam pembukaan meriah malam sebelumnya, tamu-tamu undangan sudah berdatangan, dan langit-langit restoran besar dengan langit-langit tinggi itu terbuka menghadap ke langit, cahaya ruangan meredup, cahaya bintang-bintang terlihat, semua orang melihat bagaimana suasana berubah seperti disihir dari terang benderang dengan lampu-lampu dekorasi di langitnya menjadi syahdu dengan cahaya lembut keemasan seperti candle light dinner di restoran terbuka.
Dan dentuman besar pertama di langit membuat semua orang terpesona, itu seperti bintang-bintang yang berhamburan, menyusul dentuman lain kembang api besar yang membuat semua mata berbinar.
"Kalian benar-benar punya design mengagumkan."
"Aku tak bisa membayangkan lampu-lampu nya bisa menghilang seperti itu. Bahkan lampunya seperti bisa seperti terlipat masuk. Jenius..."
"Itu ada senimannya, aku pernah melihat dia mengerjakannya skala kecilnya di sebuah pameran, jadi kupikir dia bisa mengerjakan skala besarnya juga. Dia yang jenius sebenarnya."
Teras menatap bintang ini memang luar biasa. Tapi dia bilang ini bukan tempat menatap bintang yang sebenarnya. Aku penasaran dimana, mungkin diatas hotel ini ada tempat khusus.
"Katamu bukan tempat ini yang dinamakan teras melihat bintang?"
"Memang bukan."
"Lalu dimana?"
"Kau akan segera melihatnya." Dia mengandeng tanganku selesai acara, kami malah kembali ke kamar kami. Mungkin di lantai atas?
"Kenapa kita kembali ke kamar?"
"Kutunjukkan teras melihat bintang untukmu." Kami berada di lantai teratas hotel, kamar besar suite yang berada di lantai teratas, tadi gorden itu masih tertutup, sekarang ada kontrol khusus yang menarik semua gorden di depan kamar utama suite itu, kamar menjadi gelap dan ternyata di depan sebuah sofa besar itu bidang langit luas terbuka. Bahkan bagian atasnya bisa mundur dan muncul kaca jernih. Seketika cahaya bulan setengah yang baru naik di horizon timur memenuhi ruangan.
Aku terpukau dengan pemandangan dibawah. Pesisir terlihat bercahaya, diatas bulan dan bintang juga bertaburan.
"Kau suka..." Dia membawaku duduk ke sofa yang ternyata bisa menjadi sofa besar panjang yang sama sekali rata. Sehingga kau bisa berbaring dan melihat ke atas.
"Indah sekali." Aku hanya mengucapkan itu karena terlalu terpana.
"Kau tak akan takut pada hujan, kilat dan guntur. Mode normalnya akan langsung menutup bagian atasnya, tapi jika kau mau tidur dengan melihat hujan jatuh diatasmu juga bisa. Hanya ada 4 kamar yang seperti ini disini." Aku tersenyum padanya.
__ADS_1
"Kau benar-benar membuatnya untukku..." Aku ingat aku bilang akan sulit jika ada hujan kilat jika tidur beratapkan langit.
"Iya." Aku tak tahan untuk tak menciumnya di remang cahaya bulan itu. Tiba-tiba aku sadar mungkin kami bisa dilihat orang.
"Ini kaca one way khusus, diluar lebih terang tak ada yang melihatmu..." Dia tiba-tiba tahu apa pikiranku. Aku tertawa geli... tapi kemudian melanjutkan ciu*ma*nku sepenuh hatiku.
"I love you... " Apa lagi yang bisa kukatakan sekarang selain aku mencintainya.
"I love you too, sweetheart." Dia menatapku sesaat di bawah kilauan cahaya bulan. "Will you marry me?" Dan tiba-tiba sebuah cincin solitaire berkilau di bawah cahaya bulan di depan mataku sekarang.
Aku terdiam sesaat, rupanya dia merencanakan lamaran ini.
"Please say yes sweetheart,..." Dia rupanya tak tahan dengan kediamanku, padahal aku hanya hanya ingin meyakinkan diriku apa aku tidak tidur dan bermimpi dibawah cahaya bulan dan bintang ini.
"Ya, tentu saja iya. Bagaimana mungkin tidak pemilik teras bintang." Dia memakaikan cincin berkilau itu dibawah cahaya bulan. Membuatku terharu dan mataku tiba-tiba panas.
"Melamarmu harus membuatkanmu sebuah teras bintang berharga fantantis, kau boleh berbangga hati." Aku tertawa sekarang.
"Jika di teliti, ini bukan uangmu, malah aku yang memberikanmu ide ini karena kau jatuh cinta padaku dimsum." Dia tertawa dan menci*umku dengan gemas.
"Bicara hitungan uang dengan orang Asia kau tak akan menang. Harusnya aku menyadarinya."
"Bagus kau tahu."
Sekarang kami berpandangan satu sama lain, galaksi bimasakti memberikan cahayanya untuk kami. Melihat ke atas dan sebuah bintang jatuh lewat begitu saja di horizon.
Aku menyebutkan sebuah permohonan di dalam hatiku.
"Apa permohonanmu?" Dia tiba-tiba bertanya.
"Apa permohonanmu? Katakan dulu punyamu." Aku ingin tahu apa yang ada di hatinya.
"Aku ingin punya putri yang mencium pipiku setiap aku pulang kerumah." Aku langsung memeluknya dengan erat, aku terlalu bahagia malam ini.
"Kau yakin itu permintaanmu?"
"Iya." Dia tersenyum.
"Kau sangat lemah hati jika dicium pipi?" Dia tertawa sekarang.
"Entahlah, kurasa hanya kau yang tahu rahasia kecil itu. Dan kau akan jadi Mama putri kita, apa kau bersedia mengabulkannya."
"Tentu saja, karena permohonanku juga sama."
Mungkin seperti sebelumnya. Sang bintang jatuh itu juga baik hati bisa mengabulkan permintaan kami.
Bintang jatuh itu nampaknya sangat baik hati, pertama dia mengirimkan Oliver, kedua dia mengirimkan Mamaku, dan sekarang dia memberiku harapan kami akan punya seorang putri yang cantik.
Harusnya mungkin aku mencari tempat melihat bintang jatuh dari dulu....
END
OLIVER ❤ SANDRA
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Akhirnya selesai juga Season 2
Season 3 kita akan masuk ke cerita Cherrie
__ADS_1
See You Tomorrow in new Season yaak
Jangan lupa komen, vote dan giftnya