
Aku dan Ryohei tidak mengurus bagasi. Belanjaanku hanya sedikit makanan untuk Papa dan Mama dengan koper compact yang bisa masuk ke atas bagasi.
Kami berpisah dengan Tuan Kenichi dan Akada yang masih mengurus bagasi mereka.
"Ayo ikut aku saja." Dia memberi tanda untuk mengikutinya.
"Aku mau pulang dulu. Kau mau mengajakku kemana Ryohei-san."
"Sayuri sudah menunggu di depan, kami sekalian mengantarmu." Sayuri benar-benar menjemput kami dengan sopir ke bandara. Aku melihatnya melambai pada kami di pintu kedatangan.
"Kakak, syukurlah kau baik-baik saja."
"Aku memang baik-baik saja."
"Kakak Shiori tidak baik-baik saja, aku mendengarnya dari Papa. Ayo kuantar Kakak pulang." Dia mengandeng tanganku. Aku merasa benar-benar punya adik baik hati sekarang.
"Kau ini, sudah Kakak baik-baik saja sekarang, hanya kelelahan kemarin karena acara padat. Kau tak perlu khawatir seperti ini."
"Papa yang bilang kita harus mengantarmu. Papa yang khawatir padamu."
"Begitukah?" Aku melihat Ryohei. Tapi dia pura-pura melihat ke arah lain dan tak mendengar percakapan kami.
"Iya Papa mengkhawatirkanmu dari semalam." Aku mau tak mau mengulum senyum. "Papaku baik bukan Kakak Shiori?" Apa yang sedang diusahakan Sayuri, menjodohkanku dengan Ayahnya? Jadi tadi pagi Ryohei benar-benar cemburu aku ngobrol dengan gaijin itu? Ini sepertinya salah.
"Iya Papamu baik." Aku hanya menyenangkan Sayuri saja. Karena Ryohei tak mengatakan apapun.
"Papa Kak Shiori bilang kau baik. Bukankah itu manis." Dia melanjutkan bertanya pada Ayahnya yang berada di sampingnya.
"Sayuri. Kau ganti profesi jadi penerjemah sekarang. Mungkin kau harus belajar Perancis, Kak Shiorimu itu mahir bahasa Perancis."
Sayuri melihat Ayahnya, lalu melihatku.
"Ada kejadian apa yang melibatkan Bahasa Perancis? Kenapa Papa spesifik menyebutkan Perancis, kau menguasai Spanyol, dan China juga." Anak ini otaknya encer.
"Entahlah, mungkin dia baru menonton film Perancis di pesawat." Aku dengan asal menjawabnya.
"Ohh... benarkah."
__ADS_1
Jadi dia cemburu aku bicara dengan gaijin tadi pagi. Dia menyinggung aku menyukai gaijin. Dia menyukaiku? Apa ini tak salah? Nampaknya Sayuri mendorongnya, pacarnya sebelumnya sekelas bintang film, apa benar dia menyukaiku, kenapa? Berbagai pertanyaan muncul.
Logikaku tak bisa menerima dia tertarik padaku, atau dia hanya mencoba mempertimbangkan keinginan putrinya, dia tiba-tiba mengundang kerumah, perkataannya soal jangan menjadi orang asing itu, apa itu sebuah perkataan yang menunjukkan ketulusannya. Apa dia akan mengatakan sesuatu nanti? Aku tak akan semudah itu mengharapkannya karena dia Direktur Matsumoto.
"Papa darimana kau tahu Kak Shiori bisa bahasa Perancis." Sayuri belum puas mengorek perkara bahasa Perancis.
"Sayang, nanti saja bertanya-nya. Hiro parkir dimana?"
"Tak jauh dari sini, ikut aku." Nampaknya bahasan tentang bahasa Perancis ini selesai.
Kami mengikuti Sayuri. Tak lama untuk menemukan mobil yang sudah parkiran.
"Papa dan Kakak Shiori di belakang saja. Aku didepan. Lagi-lagi Sayuri terang-terangan mendorong kami bersama.
Aku duduk bersebelahan dengan Ryohei. Dia jadi salah tingkah sendiri kurasa. Dan aku juga tak bisa berkata apapun.
"Kalian berdua diam sekali." Sayuri menghadap ke belakang melihat kami sambil tersenyum lebar.
"Sayang, Kakak Shiorimu sedang lelah. Kau jangan menganggunya."
"Tidak, kau membuat malu Papamu kurasa." Dia diam melihat wajah Ayahnya yang kaku.
"Hmm... Ya sudah aku diam saja." Dia akhirnya menghadap ke depan.
Aku juga memalingkan mukaku ke luar jendela, rasanya canggung di depan Sayuri. Mungkin dia tak mengerti dia tak bisa mendorong Ayahnya begitu.
Perjalanan yang terasa canggung itu di isi kediaman satu sama lain. Saat sampai rasanya melegakan.
"Aku masuk dulu, terima kasih kalian sudah mengantarku."
"Iya." Ryohei menjawab pendek.
"Sampai bertemu lagi Kak Shiori."
"Iya. Bye Sayuri." Aku melambai pada mereka dan masuk ke dalam rumah dengan cepat. Menghela napas lega aku sudah tak terlibat posisi canggung ini lagi.
Apa yang akan terjadi besok. Akankah ini berlanjut atau sampai di sini saja?
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=
Beberapa hari aku tak mendengar kabar Ryohei-san, aku bertanya-tanya apa yang terjadi sebenarnya. Mungkin dia mundur? Jika iya tak apa. Toh memang dia tak punya hutang apapun padaku.
Tapi kemudian Kamis sore ini, ponselku berbunyi dengan sebuah pesan.
'Shiori, mau makan malam denganku, kujemput jam 7.' Aku berpikir lama. Mungkin dia mau bicara, soal yang kemarin. Dia memutuskan untuk maju, kupikir tak apa memberinya kesempatan.
'Iya boleh."
'Oke. Jam 7."
Pesan singkat itu berakhir. Dan aku menunggunya di bawah kemudian dan duduk bersamanya di samping kemudi.
"Bagaimana kabarmu." Dia mengemudi sendiri, masih dengan baju kerjanya.
"Baik, seperti biasa kukira. Kau baik?" Ini jadi seperti berbalas pertanyaan basa-basi.
"Baik." Dia menjawab singkat sambil mengemudi. Diam sebentar dia akhirnya bicara lagi. "Maaf kemarin Sayuri, agak kelewatan bicara seperti itu." Mungkin dia mau meluruskan bahwa dia tidak bermaksud seperti itu. Aku menebak-nebak arah pembicaraan ini.
"Tak apa, ... aku tak ... menganggapnya terlalu serius." Di pihakku ini berarti harapan orang lain tetaplah harapan orang lain. Jika dia tidak mengatakan apapun aku tak akan menganggap semua perkataan Sayuri berarti. Dia melihatku sesaat sebelum matanya kembali lagi ke jalanan.
"Kau tak menganggapnya serius?"
"Maksudku, dia punya harapan, tapi kau adalah kau. Bukan Sayuri. Tapi terima kasih sudah bersikap baik padaku. Aku menghargainya..."
"Mungkin kita bisa mencoba." Perkataannya seperti tak yakin. "Maksudku mencoba berjalan bersama, mengenal satu sama lain."
"Aku bukan Yuna yang cantik mempesona."
"Aku juga bukan gaijin yang tampan seperti kekasih masa lalumu." Kami saling melihat satu sama lain.
Ini lucu. Penawaran kencan yang tidak biasa. Apa orang berkencan di Jepang saling tawar menawar seperti ini.
●●
bersambung besok ya......
__ADS_1