
“Hai Andrew, gimana kabarnya.” Aku menyalaminya dengan gaya pertemuan formal, aku jarang membalas chatnya dengan alasan sibuk, kalau malam kadang kubalas di ujung-ujung saja, aku punya alasan ingin istirahat, atau sekalian masih disite produksi.
“Hai, akhirnya bisa ngajak kamu makan siang. Sibuk banget kamu ya.”
“Iya sudah mau libur sebentar lagi, aku ada cuti, kuusahakan selesaikan banyak kerjaan dulu.”
Pembicaraan berjalan lancar, dia cukup ramah dan sopan. Baiklah, Andrew dan Benny tidak buruk juga, setidaknya untuk pertemuan pertama kami semuanya baik-baik saja, tidak ada yang membuatku illfeel dengannya. Dia normal gak terlalu pamer untuk ukuran anak boss. Aku menunaikan janji satu kali makan siang dengan Andrew dan Benny, demi melancarkan kerjaan dan tapi malah merasa seperti menunaikan kewajiban meeting dengan klien daripada sebuah makan siang perkenalan.
Akhirnya tiba waktu harus ke Hongkong. Pagi ini aku sudah sampai di ruang tunggu siap untuk penebangan lima jam itu. Entah kenapa aku senang bisa melihat Ko Derrick lagi.
“Hei Ko...” Aku baru ketemu Ko Derrick lagi setelah dua minggu lalu. Kali ini kami diantar oleh sopirnya ke bandara.
“Tante Yun kamu sudah nanya apa saya sudah jemput kamu.” Dia melihatku masuk kursi penumpang dan duduk disampingnya, tapi kemudian perhatiannya balik lagi ke ponselnya, dia terlihat tampan dengan hanya kaos t-shirt, sebuah kemeja casual yang tidak dikancing dan jeans, sesaat aku terpesona begitu saja dengan senyumnya yang baru kulihat lagi. Rasanya ingin masuk ke jangkauan lengannya lagi, terakhir dia menawarkanku rangkulan itu masih kuingat.
Aku bertanya kenapa aku lebih senang bertemu aki ganteng ini daripada bertemu Andrew dan Benny, plus kelihatannya Ko Derrick berkali -kali lipat lebih keren dari mereka. Entah penampilannya yang casual pun sangat menarik ataupun cara ngomongnya yang tenang.
Aku pasti sudah gila, aku harus berhati-hati dengan perasaanku sendiri, dia hanya menganggapku adik, dia sudah banyak menolongku, jika aku punya perasaan padanya dia pasti menertawakanku. Dan aku berakhir seperti Lisa, bertepuk sebelah tangan. Aku menghela napas panjang. Tata, sadar- Ko Derrick ini terlalu jauh dari jangkauanmu. Dia cuma Koko!
“Kenapa?”
__ADS_1
“Hah?” Aku melihatnya.
“Kenapa menghela napas begitu?”
“Ohh, gak pa pa.”
“Yakin ga pa pa.” Dia memperhatikanku membuatku langsung salah tingkah. Sial, sebelumnya aku tidak pernah merasa seperti ini. Kenapa hari ini aku jadi aneh. Liat dia pakai t-shirt kaya anak muda pun udah terpesona.
“Iya. Udah jangan kepo.”
“Saya gak kepo. Atau mungkin anak boss yang kemarin bikin kamu kepikiran, siapa namanya? An... Andreas.”
“Andrew.” Aku tersenyum.
“Ya gitulah.”
“Terus?” Interogasi buat laporan ke Papa nih kayanya.
“Ya biasa aja. Baru makan siang sekali doang. Anggep aja buat ngelancarin kerjaan.”
“Udah? Gitu saja?”
__ADS_1
“Udah.”
“Kamu kalau ada hati sama dia ngomong, ntar Koko bilang Papa buat aturin.” Aku langsung kecewa dia ngomong begitu, rasanya sakit, seperti didorong ke belakang begitu saja. Bener, dari awal dia juga nganggep gue sebagai kewajiban dari Papa, saat dia bilang adek ya adek.
“Lu jangan bikin gosip ya Ko.” Sekarang aku menunjuknya dengan kesal. Dia senyum-senyum melihatku. “Udahlah, males ngomong sama lu lagi Ko, kalo saya bilang gak suka ya gak suka.”
“Iya-iya, marah bener.” Aku diam tidak mau melihatnya. Ko Derrick yang melihatku ngambek tanpa alasan itu tertawa. “Hei, Koko becanda. Kamu sensi amat, lagi PMS ya.” Dia menoel bahuku. Tapi aku malah tambah kesal sekarang.
“Lu emang nyebelin pagi-pagi Ko, jauh-jauh sana!” Aku marah tapi sebenarnya marah kepada diriku sendiri kenapa aku begini.
“Astaga cewe kalo lagi PMS memang seram. Sorry tadi cuma bercanda doang.” Dia mencoba berdamai pagi ini. Kudiamkan saja dia, lebih baik menenangkan diriku sendiri. Aku yang membuat diriku kacau lagi sekarang.
Di perjalanan aku melamun, tidak ingin melihatnya sama sekali, aku pasti salah, pasti perasaanku lagi kacau, yang muda-muda saja tidak membuatku tertarik, Marcello lebih ganteng, Benny juga lebih ganteng, Andrew baik, sabar sepertinya orangnya. Harusnya aku melihat mereka saja, nanti balik ke Jakarta aku akan lebih bisa punya pilihan kencan, ntar gak mau ketemu Ko Derrick dulu lah. Ini mengelikan, gak mau akhirnya kaya Lisa. Malu...sakit hati, masa dianggep adek malah punya perasaan aneh-aneh sama dia.
“Tata kamu kenapa sebenarnya? Marah kok sampai begitu? Ada masalah?” Sekarang dia bertanya lagi setelah aku benar-benar mendiamkannya sepanjang perjalanan.
“Ga.” Aku menjawabnya tanpa melihatnya.
“Serius? Cerita kalo ada masalah.”
“Ga ada.” Aku memilih benar-benar tak mau melihatnya sepanjang perjalanan ini. Ini hanya pagi yang aneh perasaan ini akan hilang nanti.
__ADS_1
“Fine. Kalo mau cerita kita masih punya berjam-jam di pesawat.”
Aku takut bercerita padanya sekarang, takut aku menceritakan hatiku dan dia mengetahui kebodohanku.