
"Wah adik ipar, lama tak melihat istrimu yang ini, sudah dua tahun kau tak membawanya. Sekarang dia muncul lagi." Paman sekarang menyindir terang-terangan suami Ibu saat kami datang ke rumahnya siang itu.
"Iya, dua tahun yang lalu, ada keluarganya meninggal, dia takut membawa nasib buruk jika kesini Kakak Ipar, baru sekarang dia bisa bergabung dengan kita lagi." Suami Ibu membela Istrinya.
Dan aku melihat sikap istrinya itu berusaha tak mengambil hati, mungkin dia tahu yang dia hadapi adalah kepala keluarga, suaminya saja berusaha berdamai maka dia juga harus melakukan hal yang sama.
Patriarki ini memang membawa banyak tekanan ke wanita, tidak bisa disangsikan, wanita yang harus pandai-pandai mengendalikan hatinya agar tetap bisa hidup dengan damai.
Tapi apa yang dilakukan suami Mama mungkin bentuk terancamnya egoismenya dengan Mama sudah menemukan aku. Pun sebenarnya jika Mama mau Ibu bisa menceraikannya kapan saja.
Sementara para Mama, Paman dan Bibi berkumpul di mejanya sendiri, para sepupu berkumpul di ruangan yang lain. Kali ini mereka menatap Oliver dengan pandangan kagum.
"Sandra ini yang kau bilang arsitek itu bukan, ganteng sekali. Oliver kenapa kau bisa jatuh cinta pada Sandra?"
"Aku tak tahu, cinta hanyalah cinta, aku tak punya logika untuk menjelaskannya." Ucapan syairnya di sambut riuh sorakan semua orang.
"Adik sepupu, ini yang namanya rejekimu bagus." Aku tertawa tentang tanggapan mereka. Oliver bersedia menjadi bintang sekarang, dia ditanya segala macam oleh sepupu-sepupuku yang sudah terpesona padanya.
"Kapan kalian akan mengirimi kami undangan? Kalian akan menikah kapan."
"Kami baru sekitar empat bulan Kakak, aku baru mamantapkan perkerjaan di Hongkong. Kami masih harus membereskan banyak hal." Aku menjelaskan kepada mereka.
"Ahh ternyata begitu. Baru empat bulan kalian sudah mengenalkan masing-masing pasangan ke orang tua masing-masing itu sangat baik." Adik iparku yang lain menyambung pembicaraan.
Kami kemudian membuat kelompok yang lebih kecil terdiri dari perempuan-perempuan. Sementara para laki-laki membuat kelompoknya sendiri.
"Dan Chang An, kulihat kau tak membawa tas Birkin kebangganmu itu. Atau kau sudah membeli yang baru? Kau bawa tas apa?" Oh ya aku baru sadar, sekarang tas apa yang dibawanya, apa dia tidak mau pamer didepanku.
"Adik ipar, benar mana tas kebanggaanmu itu, kau punya tas baru, kenapa kau tak tunjukkan kepada kami." Aku ingin melihatnya pamer sekarang, akan kusindir lagi dia habis-habisan.
"Ahh tidak, aku pakai tas biasaku saja, Mama saja tak memakai tas mahal." Semua orang melihat satu sama lain sekarang, nampaknya mereka tahu entah bagaimana omelanku berhasil pada adik iparku itu. Dia tak berani lagi bertingkah pamer di depan semua orang. Setidaknya tidak didepan keluarga ini walaupun di belakang sana dia pasti masih melakukannya.
"Ohhh begitu, selama 8 tahun baru kali ini aku mendengarmu berkata begitu. Nampaknya kau diberi arah yang baik oleh orang bijak." Satu sepupuku tersenyum menanggapi kata-katamua sekarang.
"Aku hanya mendengarkan saran yang kuanggap baik."
"Padahal biasanya pas tahun baru begini kau selalu membawa tas baru biasanya dengan cheongsam yang warna senada. Kami menjadikanmu inspirasi kadang." Wow, jadi cheongsam sutranya itu selalu match dengan tas yang dibelinya.
"Ahh kakak, tahun ini aku tak membeli tas lagi." Tentu saja karena mulai dari sekarang Mama tak akan memberimu cek lagi untuk segala kebutuhanmu.
Lebih baik menghindari berkata-kata soal adik iparku, lebih tertarik ikut pembicaraan lain. Yang penting tak ada insiden apapun di tahun baru ini.
Nampaknya semua baik-baik saja hari ini. Kami sudah akan kembali ke rumah. Aku pamit ke toilet di bagian dalam rumah. Tak disangka aku bertemu dengan suami Ibuku.
"Sandra, ...." Aku melihatnya ketika dia memanggilku.
"Iya Paman." Dia sekarang berdiri di dekatku. Bagaimanapun dia orang asing bagiku, bicara berdua dengan orang yang tidak menyukaimu tidak pernah terasa nyaman.
__ADS_1
"Kau jangan macam-macam dengan kehidupan anakku di Shanghai." Aku diam, maksudnya dia terganggu dengan kehadiranku di sini.
"Aku hanya bertemu Mama, aku tak menganggu anakmu. Kau terganggu aku bertemu Mamaku Paman?"
"Dia Mamamu, tapi begitu kau mempengaruhi istriku untuk menyusahkan anakku aku tak akan tinggal diam. Kau ingat itu."
Dia pergi begitu saja setelah mengatakan itu. Paman Ayah Cheng Xin itu mengancamku mempengaruhi dompet anaknya. Lucu... sangat lucu, dia menjadikan istrinya sendiri dompet bagi anaknya. Orang tua macam apa itu.
Aku kembali ke ruang tengah berkumpul dengan yang lain. Apa yang bisa dilakukannya. Mencelakaiku? Apa dia memang punya niat begitu.
"Kita bertemu lagi tahun depan Sandra, Oliver. Setiap tahun baru pulanglah ke Shanghai, ini juga rumah kalian." Paman dan Bibi melepas kami, kami hanya sekitar 3 hari disini, besok kami sudah kembali ke Hongkong.
"Tentu aku akan selalu kembali Bibi, Paman. Paman kau harus mengajak Bibi ke Hong Kong juga, Mama punya apartment nyaman di sana, kalian bisa jalan-jalan di Hongkong."
"Kami akan kesana, tunggu Mamamu kesana juga." Kami berpamitan kepada semua orang setelah berjanji akan kembali.
"Mama, kau tahu tadi suamimu mengancamku."
"Suamiku mengancammu?!" Kuceritakan apa yang dikatakannya.
"Kau tak usah dengarkan dia, nanti aku akan mengancamnya balik, berani sekali dia mengancam. Dia pengecut yang hanya berani menggunakan kata-kata. Tak usah pikirkan kata-katanya. Aku hidup dengan mengabaikan kata-katanya."
Mama berkata begitu. Entahlah semoga dia benar. Ancaman suaminya hanyalah bualan kosong.
\=\=\=\=\=\=\=
Walaupun margin keuntungan jadi kecil jika bekerja dengan mereka tapi cukup membantu, restoran jadi terlihat ramai, yang akhirnya menarik pelanggan baru lebih cepat.
Membayar untuk ulasan dari blogger makanan pun adalah keharusan. Dan syukurlah laporan pemasukannya sangat mengembirakan.
"Kau terlihat senang belakangan, pulang kerumah selalu dengam senyum semangat, kau tak lelah sayang." Oliver melihatku pulang dan mencium pipinya.
"Tidak, aku senang-senang saja." Dia tertawa.
"Boss nampaknya sedang ramai restorannya hari ini." Aku tertawa.
"Iya restoran sedang ramai jadi aku senang sekali...." Mungkin jika begini terus sebelum tiga tahun aku bisa mengembalikan investasi.
"Kenapa kau memusingkan uang itu, putar saja untuk restoran baru lagi, atau kau ingin membuka sesuatu...." Aku tersenyum padanya.
"Mama juga bilang seperti yang kau bilang, dia bilang lebih baik aku memikirkan lokasi baru yang menguntungkan jika itu benar berjalan dengan baik. Aku senang di puji oleh Mama, bagaimanapun apa yang ku lakukan belum seujung kuku Mama.
"Kerjamu bagus, Mamamu memulainya di usianya masih dua puluhan, dia sudah 40 tahun bekerja, kau jangan berkecil hati, 20 tahun lagi, nanti kembalikan invetasasinya berserta bunga-bunganya untuk pensiunku." Aku tersenyum padanya Oliver.
"Dimsum, kau terlalu lama tinggal di Hongkong, kata Mama kau itu tukang aduk semen, tapi sekarang kau sudah pandai menghitung uang sampai ke sennya sekarang nampaknya." Dia ngakak dan menarikku dalam pelukannya.
"Sayangku, apa kau lupa kita harus pensiun bersama... Jangan terlalu pelit padaku."
__ADS_1
"Pensiun bersama. Aku tak mau pensiun, rasanya menjadi tua dan tak berguna itu tak enak, mau seperti Mama saja, masih kemana-mana, jalan-jalan, tetap bekerja."
"Tentu saja kita akan jalan-jalan dan masih bekerja. Aku bisa jadi kasir restoran, nampaknya aku sudah jago menghitung uang."
"Baiklah, kita harus punya banyak cabang jika begitu."
"Semangat yang bagus sweetheart. Hotel di Vietnam sudah hampir tahap akhir, mungkin sekitar 4 bulan lagi kami bisa on shecdule pembukaan. Minggu depan aku harus pergi ada tahap akhir yang harus kuawasi sendiri kali ini mungkin sekitar tiga minggu oke."
"Baiklah, aku tak sabar ingin ke sana lagi dan melihat teras bintang itu. Bawakan aku oleh-oleh makanan seperti biasa. Jangan lupa."
"Tentu saja, salad yang kau puja itu pasti ada."
Mama datang beberapa hari kemudian ke Hongkong. Mukanya sedang tidak senang ketika aku mampir ke unitnya, kali ini dia mengajak Paman dan istrinya bersamanya.
"Mama, kenapa kau?"
"Mamamu baru menerima telepon anak tak berguna itu lagi. Rutinitas biasa adikmu, minta jatah tambahan modal." Istri Pamanku menjawabku.
"Ya sudah, tak usah diberikan."
"Benar adik. Kenapa kau pusing, jika perlu tinggal saja di sini. Tak usah perdulikan dia." Istri Pamanku yang mengiyakanku.
"Dia terlalu lemah hati ke anaknya itu. Jika aku jadi kau sudah lama aku tendang dia dari rumah. Sudah diberikan modal begitu besar tapi di sia-siakan. Orang tua mana yang sebaik kau." Paman memberikan pendapatnya ke Mama.
"Adik Ipar, menantu tak tahu dirimu itu juga tukang menghabiskan uang. Sekali kau memberinya, dia akan membeli tas baru untuk di pamerkan di Weibonya yang jutaaan pengikutnya itu."
Mama terlihat menghela napas.
"Aku akan menguatkan hati sekarang, aku akan menguatkan hati. Aku tak tahan lagi."
"Dia tidak akan mati kelaparan adik, kau yang akan mati kesal jika terus menurutinya." Bibi mencibir dengan kesal. Nampaknya semua orang sudah tahu begitu parahnya kelakuan Cheng Xin, satupun tak ada yang membelanya.
"Kalian sudah makan, aku membawa makanan dari restoran."
"Belum, tadi di Bandara kami sudah makan. Bagaimana restoran-mu Sandra."
"Restorannya ramai, makanannya memang enak, Koki keluarga temannya itu memang punya resep khusus, dia juga menjadikan restorannya sebagai target turis, jadi nampaknya selalu ramai. Restoran baru yang selalu ramai pasti mengundang keramaian lebih besar." Mama membanggakanku.
"Ahhh kau harus membuka di Shanghai juga Sandra tahun depan. Paman akan kongsi denganmu, tapi sebentar harus cari tempat yang bagus dulu... Aku mau melihat restoranmu."
"Datanglah Paman, Mama sudah tahu alamatnya."
"Seharusnya Cheng Xin itu diberi modal kecil saja awalnya seperti Sandra, daripada dia membuka banyak jaringan tak terurus seperti ini, dia tak mengawasi kualitas masakan, tidak ada sistem pengawasan, hancurlah semua. Banyak review jelek kulihat, bagaimana mungkin orang mau mampir dengan review jelek begitu."
"Sebenarnya aku juga berpikir begitu Kakak, bukan aku tak pernah menasehati dia, tapi akhirnya semua saranku dimentahkan semua."
"Ya sudah dia tak mau mendengarmu, kau jangan mendengar dia lagi... Kaburlah ke Hongkong saja, pulang saat kau perlu saja ke Shanghai, tinggal di rumahku juga boleh."
__ADS_1
Sekarang setelah Mama berusaha menolaknya aku penasaran apa yang akan dilakukan suaminya padaku. Apa dia akan mengancamku lagi.