TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 5 Part 10. Meiji Jingu 1


__ADS_3

Aku membuka hadiah dari Mark, sebuah gelang dari merk terkenal. Ini hasil scammer mungkin, menipu orang yang tak tahu apa-apa, mungkin orang tua dengan pensiunnya, mungkin menipu seorang ibu rumah tangga yang menbutuhkan komputernya dan tak tahu cara memperbaikinya. Membuatku bersalah menerimanya. Lain kali aku akan menolaknya saja.


Tapi sekarang Louis meneleponku. Kejutan aku bisa melihatnya lagi setelah sekian lama.


"Louis, bagaimana kabarmu?" Aku menerima teleponnya, merasa tak punya masalah dengannya.


"Baik, bagaimana kabarmu. Mangkin terkenal sekarang nampaknya." Aku tertawa kecil.


"Kau menyindirku atau apa? Terima kasih tadi kau sudah menolongku. Pria itu menyebalkan sekali."


"Penggemarmu? Nampaknya dia sangat baik padamu, kulihat dia bahkan menyiapkan hadiah untukmu."


"Dia politisi di Inggris, sering muncul di televisi, pengusaha sukses katanya tapi aku sama sekali tak menyukainya."


"Kau memang sulit." Sekarang dia memakai kata-kata yang pernah kutakan padanya. Aku mau tak mau tertawa. "Tampan, kaya, politisi, bersikap baik padamu, membawakan hadiah, bahkan datang dari London untukmu tetap tidak menggerakkanmu. Sekarang aku penasaran siapa yang bisa mengajakmu berkencan."


"Aku tidak menyukainya. Kaya, tampan, baik, banyak yang begitu. Tapi dibelakangnya siapa yang tahu. Intuisi kurasa, entahlah kurasa kau benar aku orang yang sulit." Lebih baik menertawakan diriku sendiri didepannya. Entah kenapa aku tak punya kesan buruk jika bicara dengannya, walaupun aku tahu dia tak lurus-lurus juga. Sama-sama penuh intriknya dengan yang lain.


"Di belakangnya siapa yang tahu, jika kau mengecapnya seperti itu berarti kau tahu sesuatu bukan."


"Dia politisi bukan hal yang mengherankan. Aku tak suka politisi kurasa. Sudahlah, jangan bicarakan dia lagi. Kenapa kau tiba-tiba muncul sekarang?"


"Aku hanya teringat malam-malam berbintang kita pernah menghabiskan malam berdua makan pizza." Apa dia sedang mencoba merayuku. Dia tahu itu tak akan berhasil, aku tetap orang yang sulit.


"Kau yakin langit saat itu berbintang. Kurasa kau saat itu sedang berawan." Giliran dia tertawa.


"Baiklah, kau yang menang, mau jalan-jalan denganku besok. Makan siang di Meiji Jingu?"


"Meiji Jingu? Apa itu?"


"Itu taman dekat Kuil Meiji, sedang musim gugur, kau bisa melihat daun-daun menguning di sekelilingmu. Kita bisa makan street food saja seperti wisatawan lainnya."


"Kelihatannya menyenangkan. Boleh, aku baru ada acara besok malam."


"Kujemput kau jam 11 besok di lobby hotelmu, beri tahu aku dimana kau menginap oke."


"Baiklah. Kita bertemu besok, aku menginap di Four Season, telepon saja jika kau sudah sampai di lobby, aku mau istirahat sekarang. Hari ini cukup melelahkan."


"Baiklah. Sampai bertemu besok." Kupikir begini bagus juga, bisa menghilangkan kecurigaannya padaku. Aku tak menghindarinya dan ini hanya jalan‐jalan sehabis makan siang.


Jam 11 pas dia mengirimkan pesan dia sudah ada di lobby hotel. Aku segera turun dengan celana , kemeja lengan pendek santai.


Aku mencarinya di lobby sekarang. Belum aku temukan dia di bagian lobby yang mana ketika seseorang terasa berdiri di sampingku.


"Kau juga menginap di sini ternyata. Mau pergi rupanya." Mark Ivanir, dengan senyum lebarnya. Apa dia sengaja mengikutiku ke sini semalam? Bangsat penipu ini benar-benar berniat mengejarku?


"Ohh Tuan Mark. Benar saya mau pergi. Rupanya Anda menginap di sini."


"Saya tidak bertemu saat sarapan sayangnya."


"Saya sarapan di kamar, jarang ke restoran."

__ADS_1


"Kalau begitu besok bagaimana jika kita bertemu di restoran untuk sarapan."


"Saya akan usahakan. Tapi tidak berjanji." Aku masih bisa menghindar, jika perlu aku akan ganti hotel.


"Pasti Anda membawa ponsel Anda, nomor Anda yang diberikan assisten Anda hanya dijawab saat Anda bersama assisten Anda." Dia tidak akan mendapatkannya.


"Tak apa, Anda bisa menitip pesan ke dia. Ponsel saya yang lain juga dibawa assiten jika saya sedang syuting. Saya harus pergi, sampai jumpa Tuan Mark." Aku berniat meninggalkannya, sudah berbalik pergi. Tapi dia menangkap tanganku. Aku reflek menariknya, tapi dia menahannya.


"Julie sayang, ayolah hanya nomor telepon aku sudah mengusahakan banyak untuk bertemu denganmu."


"Lepaskan saya Tuan Mark." Aku masih menahan emosi.


"Hanya nomor telepon saja dan janji kita sarapan bersama, berapa nomor kamarmu?"


"Lepaskan saya, atau saya akan teriak mempermalukan Anda di lobby ini. Saya mau pergi." Pemaksa ini perlu mendapatkan di hajar.


"Anda tahu siapa saya?"


"Tentu saja saya tahu."


"Saya bersikap sangat baik pada Anda. Tapi memberikan nomor telepon saja sangat sulit. Anda pernah diajar untuk membalas kebaikan dengan sedikit kebaikan?"


"Oh Anda bicara tentang hadiah Anda rupanya, saya akan kembalikan hadiah Anda. Tidak usah khawatir, berikan dimana alamat saya bisa mengirimkannya di London... Nomor telepon pribadi saya hanya bisa diakses oleh keluarga dan sahabat dekat."


"Sekarang Anda menghina saya dengan mengembalikan hadiah saya. Saya tahu Anda kaya, tapi saya baru tahu Anda sangat sombong." Aku baru mau membalasnya ketika Louis tiba di sampingku.


"Ada apa ini?"


"Lepas." Aku merasa punya pembela sekarang, aku menarik tanganku tapi dia tak mau melepaskan.


"Jangan ikut campur." Kalimat itu selesai dengan cepat, secepat itu juga sebuah bogem mentah menemui sasarannya dan genggamannya terlepas sekarang, Mark Ivanir jatuh terjengkang ke belakang. Astaga aku tak menyangka Louis langsung menghajarnya. Agen pemerintah ini benar-benar tahu menghajar orang.


"Aku tidak bicara dua kali." Perkataan itu dikatakan sambil menuding langsung ke Mark.


Keamanan langsung datang menghampiri kami.


"Tuan orang ini, ingin mengangguku temanku menghajarnya karena dia tak mau melepaskan tanganku." Sekarang Mark bangkit, matanya nyalang menatap kami.


"Kalian akan membayar ini." Ganti dia yang menuding kami.


"Anda tidak diperkenankan membuat keributan disini." Keamanan memperingatkan kami.


"Jangan menggangu kami lagi. Aku tak ingin berurusan denganmu." Aku yang sekarang menarik Louis pergi.


"Orang itu mengikutimu sampai sini?"


"Aku tak tahu, dia mesum dan kriminal. Melihatnya membuatku merinding. Aku pindah hotel saja."


"Apa maksudmu dia kriminal, memang apa yang dilakukannya?" Aku terlalu banyak bicara. Bagaimana aku mengetahuinya, itu akan sulit dijelaskan. Aku berpikir sebentar.


"Aku hanya mendengar dia orang yang tidak baik." Aku sudah keluar lobby tapi tak tahu harus mengarah kemana. "Kemana kita?"

__ADS_1


"Ayo, tunggu disini." Dia menarikku mengikutinya. Nampaknya dia familiar dengan Tokyo. "Aku menyewa mobil, cuma sekitar 20 menit dari sini, dia mengetik di ponselnya. Tak lama sebuah mobil yang punya sopir orang Jepang, menjemput kami di muka lobby.


"Kau punya sopir orang lokal? Punya cabang perusahaan di sini?"


"Ada investasi besar di sini, tapi tak ada kantor cabang." Dia melihatku setelah memberikan alamat kami pada sopirnya. "Memang perbuatan kriminal apa yang orang tadi lakukan, namanya siapa kau bilang?" Dia masih penasaran dan mengejarku dengan pertanyaannya.


"Dia terlibat bisnis tidak baik. Mark Ivanir."


"Bisnis tidak baik macam apa, sudah ada dakwaan?"



"Belum, aku hanya tahu dari temanku di terlibat bisnis itu."


"Bisnis apa tepatnya, kau bicara jangan setengah-setengah. Kau tak tahu kau bermain dengan siapa."


"Kau tidak punya urusan dengannya."


"Kalau dia punya bisnis penjualan senjata ke Yakuza, dia bisa menculikmu dengan bantuan Yakuza. Kau tahu! Kau mau menanggung resiko itu, atau kau punya pengamanan mumpuni disini? Kenapa tak ada seorangpun yang mengikutimu sekarang?! Kau pertama bertemu dengannya atau kau sudah diincar olehnya sampai kau bisa satu hotel dengannya? Kau tak tahu dia mengancam akan membalasmu? Kenapa kau menganggap enteng situasimu? Apa kau sengaja menjadikan dirimu umpan?" Rentetan pertanyaan tanpa jeda itu membuatku terperangah.


"Kau menggangap ini terlalu serius."


"Oh ya, kau yakin ini tidak serius? Kutanya sekali dia terlibat bisnis apa?"


"Scammer center." Akhirnya aku menjawabnya.


"Di Jepang tidak ada scammer center." Dia menjawabku cepat.


"Bukan di sini."


"Lalu di mana."


"Tel Aviv."


"Kau bahkan tahu di mana bisnisnya, darimana kau punya info selengkap itu? Informasi seperti itu tidak beredar di lingkaran kolom gosip." Aku terjebak. Dia menatapku meminta penjelasan dan aku tak bisa menjelaskan.


"Aku punya teman yang levelnya bisa menjelaskan itu." Itu penjelasan terbaikku.


"Teman seperti apa yang bisa berbagi informasi sensitif seperti itu."


"Polisi tentu saja." Kujawab saja dia sebisanya. Sudah terlanjur. Siapa lagi level paling rendah yang punya informasi seperti itu.


Sekarang dia diam. Tidak bertanya lagi. Dia terdiam dengan pikirannya sendiri selama perjalanan. Apa yang dipikirkannya aku penasaran.


Kami sampai ke Shibuya.


"Ayo turun di sini saja. Ini sudah Harajuku ." Dia mengajakku berjalan santai di sini. Sebelum kami memasuki wilayah taman luas.



Hari ke 5 di Jepang. Akhir September di Tokyo, musim gugur menampakkan warnanya, aku berjalan Meiji Jingu Gaien yang merupakan sebuah taman luas yang letaknya sekitar 1,5 kilometer (km) timur Kuil Meiji.Daun-daun gingko yang menguning menjadi pemandangan yang menakjubkan di musim ini.

__ADS_1


"Kenapa kau diam sekali?" Dari tadi dia tidak banyak bicara, tapi memperhatikan jalan kami. Pohon-pohon rimbun lebih menarik perhatiannya.


"Sudah lama tak kesini. Seperti ada yang memutar ulang waktu jika kesini." Dia nampaknya bicara sebuah kenangan indah.


__ADS_2