TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 5 Part 5. The Pavilion 1


__ADS_3

Dalam hanya tiga hari berita yang lain menambah hingar bingar dan mempermalukan keluarga McKellan yang berhati tinggi itu. Sampai keluar pernyataan keras oleh Keira McKellan.


"Aku tidak terima dihina begini, keluarga kami merasa sangat terhina dipermainkan begitu rupa, akan ada tindakan lebih lanjut karena mempermalukan kami seperti ini. Baji*ng*an Hopkins itu akan membayar!" Mukanya memerah dengan amarah ketika dia dikejar wartawan dan aku bertepuk tangan melihatnya.


"Nona, bagaimana perasaanmu soal berita mantan pacarmu Gary Hopkins." Aku tersenyum kecil ketika wartawan bertanya padaku.


"Aku bersyukur putus dengannya, sudah lama aku sudah melupakannya dam membuangnya ke tempat sampah, tapi aku kasihan dengan Keira McKellan, playboy itu tak pantas mendapatkan apapun dari kami. Sayangnya dia tidak belajar dari kasusku hingga juga terjebak, tapi harusnya dia bersyukur tak sampai menikah."


"Apa dulu dia juga mengkhianatimu dengan wanita lain."


"Aku banyak mendengar itu, tapi dulu aku terlalu mencintainya kurasa. Sekarang aku mengakui kebodohanku saat itu. Tapi karena itu aku bisa jadi wanita lebih kuat, aku tak jatuh terpuruk, bisa bangkit dan menjadi yang lebih baik sekarang."


Hal-hal seperti itu kukatakan, kemudian karena ingin ikut publisitas, beberapa wanita lain juga mengatakan pernah terlibat dengan Gary Hopkins beberapa hari kemudian, tentu saja wartawan memburu sumber berita itu, entah itu benar atau tidak, atau mereka hanya memanfaatkan kesempatan dengan baik. Kurasa Keira McKellan bersedia mendorong tunangannya itu ke tepi jurang sendiri sekarang.


"Kau tahu sayang, Ibunya dikeluarkan dari sebuah klub oleh groupnya Ny. McKellan dampak dari ramai berita perselingkuhan Gary dengan beberapa wanita."


"Pasti menyenangkan melihatnya Mama." Aku tertawa, dulu Mama direndahkan bahkan tak dianggap ketika mereka membatalkan pertunangan. Bahkan dia merasa tak perlu menjelaskan kepada Mama ketika mereka bertemu.


"Jelas saja. Aku sengaja sekarang tertawa di depannya. Dan kukatakan kepada Ny. McKellan untuk tak membiarkan dia melakukan penghinaan lagi. Malah sekarang dia menjadi temanku."


"Bisa balas dendam memang menyenangkan Mama."


Mama yang menemaniku menangis saat itu. Sekarang rasakan kalian.


Bertepatan dengan itu Louis meneleponku kemudian.


"Hi there, Sir Louis, bagaimana kabarmu."


"Kupikir kau akan memblok nomorku." Aku tertawa.


"Aku tak sekejam itu."


"Kau masih di NY."


"Iya aku masih di NY, tapi Minggu depan aku sudah di LA kurasa."


"Aku boleh menagih janjimu, besok mungkin." Aku terkekeh.


"Baiklah, makan malam besok. Dimana?"


"Kujemput?"


"Bagaimana kalau kita tentukan tempat saja." Kurasa aku tak mau dia menjemputku.


"Baiklah, pilihanku atau pilihanmu."


"Pilihanmu." Tapi aku membiarkan dia yang memilih, sekaligus melihat apa pilihannya.


"De Pavillion, pernah ke sana."


"Belum, kirimkan alamatnya saja padaku."


"Baiklah besok jam 7.30?"


"Deal. Aku harus pergi dulu. Kita bertemu besok."


Dan pertemuan ketiga dengan targetku. Target yang tak boleh mencurigaiku. Aku akan sangat berhati-hati sekarang, pria arogan dan sombong jauh lebih mudah dihadapi daripada pria pintar. Dia berbahaya, dan terlatih. Aku harus memainkan peran wanita manis tapi tak membosankan untuknya. Sulit, tapi harus kucoba.


...----------------...


De Pavillion, restoran Perancis yang unik dan pemandangan yang luar biasa di Grand Avenue Manhattan. Kau merasa seperti di tengah taman, tapi nyatanya kau berada di lautan gedung di Grand Central.

__ADS_1



Aku masuk ke restoran dengan blouse terusan semi casual, warna peach ingin membuat citra manis dan tidak perlu kau waspadai. Semoga aku tidak membosankan nanti.


Dia sudah menungguku, kali ini dia memakai jasnya dengan kemeja warna terang. Walau casual tanpa dasi, kali ini dia memakai kacamata, ehm... nerd yang sexy. Aku membaca datanya dia memang lulusan keuangan Harvard, dia terlalu pintar untuk menganalisa angka. Ditambah agen pemerintah ini pasti punya pelatihan khusus. Tiba-tiba aku nervous di depannya sekarang, kuhela napasku panjang.



"Hi,... " Aku menyapanya duluan, akan kumanfaatkan rasa nervous ini sebagai keuntungan saja untuk lebih berhati-hati.


"Nona Harris, kejutan kau datang." Dia masih berpikir aku akan mengakalinya. Aku mau tak mau tersenyum.


"Aku tak akan ingkar janji jika aku sudah mengucapkannya. Jika tidak kau tidak akan dipercaya, lagipula kau menarik untuk dijadikan teman bicara." Walaupun aku rasa dia orang yang kebal dengan pujian, aku harus mencobanya.


"Kau pintar memuji ternyata."


"Dan kau tak mempan hanya dipuji?" Aku menaikkan alisku padanya. Sekarang dia tersenyum.


"Nona Harris, ..." Aku memotongnya kesopanannya dengan memanggilku Nona Harris.


"Panggil aku Julie saja, atau aku akan memanggilmu Sir Louis, kenapa namamu seperti seorang bangsawan."


"Mungkin Ibuku senang dengan kisah raja Louis."


"Nama lengkapmu Louis Allen."


"Louis Richard Allen. Aku bekerja sebagai CEO di Garcia Corporation, bukan pemilik bisnis sepertimu."


Dia memberikan kartu namanya padaku. Di datanya perusahaan utamanya ini kebanyakan bergerak di bidang property kemudian anak perusahaannya meluas di bidang hiburan di banyak tempat di amerika, pub dan bar dan resto, beberapa club, bahkan sampai investasi di beberapa rumah produksi LA. Nilai keseluruhan kapitalisasi pasarnya lebih besar dari BlueSky kami.


"Orang-orang yang duduk di profesional itu punya otak yang jenius, aku memang pemilik, tapi bisnisku juga dikelola oleh profesional. Aku menyerah dengan angka-angka, tapi jika kau menyuruhku pose dan akting, itu dengan mudah kulakukan. Untungnya aku punya profesional yang bisa kuandalkan. Kalian dibayar besar bukan tanpa alasan, tanpa kalian uang orang sepertiku sudah jadi asap. Jadi tak usah merendahkan dirimu sendiri. Kau jenius yang membuatku iri, seperti aku iri kepada kakak-kakakku."


"Baiklah, aku bertaruh Kakakmu pun iri padamu." Aku tertawa kecil dengan jawabannya.


"Kalau begitu mari kita anggap setiap orang punya areanya masing-masing disini.


"Setuju. Mari kita pesan dulu." Dia mungkin jenius nerd, tapi dia bukan orang kaku dalam bicara. Pria tampan dengan brain dan looks hampir sempurna ini memang menarik.


"Beberapa hari ini nampaknya kau sibuk." Deg. Tengkukku dingin, apa maksudmu aku sibuk, apa dia tahu tentang indentitas tersembunyiku. Bagaimana dia tahu, aku sangat berhati-hati.


"Sibuk apa maksudmu?" Aku hampir bersuara gemetar.


"Di mesin pencarian kau sedang trending karena status sindiran ke mantan pacarmu."


"Ohh itu, well, aku hanya sedang mengambil keuntungan atas kemalangannya. Dia pernah meninggalkanku saat aku terpuruk jadi aku melakukan hal yang sama. Aku akan mengumumkan kerjasama film baru, anggap saja publikasi gratis, dia bast*ard jadi aku membalasnya dengan menjadi bitc*h."


"Berita mengatakan kau bahkan sudah putus empat tahun yang lalu."


"Ya benar. Tapi aku bukan malaikat yang suka memaafkan. Jangan berharap aku bersimpati, aku akan bertepuk tangan. Ngomong-ngomong kau pasti sangat baik dalam mengerjakan PR rumahmu." Dia tersenyum atas sindiranku dia bahkan sempat membuka berita tentangku.


"Aku hanya ingin tahu dengan siapa aku berbicara. Lagipula kau terkenal, mudah mencari berita tentangmu." Seperti yang diharapkan oleh


Di tengah pembicaraan aku melihat seseorang yang kukenal di sana. Ibu dari Gary, rupanya dia ada di New York juga. Louis mengikuti arah pandanganku.


"Kau mengenalnya?"


"Hmm, Ibu dari mantan. Mungkin sedang melarikan diri dari London. Tak usah perdulikan dia. Kita bicara tentang kau saja?"


"Tanyalah apapun."


"Punya istri, aku tak mau diberitakan makan malam dengan pria beristri?" Pertanyaan pertama karena aku tak mau di cakar oleh perempuan yang tak kukenal dan dituduh mencuri suaminya. Walaupun dari file data yang diberikan padaku aku tahu dia belum beristri tapi tetap saja aku bertanya.

__ADS_1


"Tidak."


"Pacar?"


"Tidak"


"Kau ga*y?" Dia meringis.


"Tak pernah terpikir."


"Friend with benefit?"


"Mungkin." Aku tersenyum karena mendapatkan clue.


"Apa benefitnya."


"Teman bicara, saling mendukung."


"Ohh sangat sehat, tapi aku tak percaya dengan hubungan semacam itu. Kau yakin dia tidak punya perasaan padamu?"


"Hmm, kami menghindari dengan term saling memiliki, hanya saling mendukung jangka panjang. Kurasa kami cocok."


Teman baik, tapi tak saling memiliki, itu aneh. Jelas aneh, apa bisa wanita mengembangkan perasaan seperti itu, tak punya kecemburuan? Aku tak bisa jelas. Mungkin wanitanya memang tak mau di kekang, hanya ayo bertemu, bicara dengan teman dekat dan sedikit olahraga yang menyenangkan.


"Itu aneh bagimu?"


"Iya. Karena aku tak merasa bisa berada di situasi seperti itu. Ya itu aku, setiap orang berbeda kondisinya."


"Banyak terjadi, kurasa. Kencan singkat sama saja."


"Ohh jelas berbeda. Kencan singkat memang hanya diniatkan singkat. Kau jelas tak punya harapan apapun, tapi jika hubungan pertemanan semacam yang kau katakan, ...ehm ya baiklah anggap saja kalian bisa." Dia tersenyum melihatku binggung.


"Giliranku."


"Kau tak punya pacar."


"Tidak."


"Karena masih kesal dengan mantan."


"Belum ada yang bisa menggerakkan."


"Trauma kepada pria?"


"Tidak. Aku hanya memilih dengan buruk dulu. Mungkin sekarang aku lebih berhati-hati. Itu saja..." Aku melihatnya. "Punya bisnis di London?"


"Tidak, kami tak punya sangkutan bisnis di sana kecuali di mungkin Italia, Spanyol." Ahh, Daniella Ignatova terakhir terlihat di Italia.


"Aku kebanyakan ke Milan atau Paris jika pekerjaan. Madrid, hmm aku tidak pernah bekerja di sana. Malah lebih sering ke Shanghai atau Tokyo kadang."


"Kau lebih banyak tinggal di London?"


"Iya, itu yang kusebut rumah. Walaupun mungki aku menghabiskan berbulan-bulan di kota lain, tapi aku selalu kembali ke London."


Aku membawa pembicaraan ke hal umum dahulu saat makanan kami datang, menanyakan di mana dia tinggal, kelahiran mana, sedikit tentang keluarganya. Hal-hal yang biasa dibicarakan orang yang saling berkenalan.


"Kau ramah, untuk seorang bintang."


"Itu pujian? Kau nampaknya punya pengalaman tidak menyenangkan dengan seseorang?"


"Ada beberapa orang yang memang tidak ramah. Mungkin aku beberapa kali tidak beruntung bertemu dengan mereka. Walaupun tidak terang-terangan tapi mereka jelas mengelimiasi kesempatan untuk seseorang yang bukan pemilik. Kadang aku sengaja mengetes saja bukan tertarik."

__ADS_1


Baru aku mau bicara, seseorang datang ke mejaku.


__ADS_2