
“Ini hanya 300 meter diatas permukaan laut, kau tidak akan mendapatkan kawah gunung berapi, hanya bukit 300 meter.” Derrick mengatakan faktanya. Ternyata begitu, kupikir ada trail setinggi ribuan meter diatas tapi ternyata 300 meter.
“Ini trail versi Hongkong Tante Tata. Papa aku sudah ingin balik ke Indonesia lagi. Kenapa aku sibuk sekali dengan pelajaran...” Aku tertawa mendengar keluhannya.
“Bagaimana liburanmu?” Ko Derrick menanyaiku.
“Tante Yun mengajakku jalan-jalan dan makan terus tiga hari ini, kurasa timbanganku sudah naik lima kilo dalam tiga hari ini, aku sangat perlu hiking ini.” Giliran mereka yang tertawa sekarang.
“Jika kau tidak naik timbangan kau tidak ke Hongkong Tante.”
Kami tiba di pantai Shek-O, lalu menyusuri jalan ke trail pendakian, 20 menit atau lebih, kami akan tiba di Shek O Peninsula Viewing Point dengan pemandangan Pantai Shek O Beach di kaki bukit, dan juga dua pulau selepas Semenanjung Shek O. Benar saja kata Cecilia, Derrick meninggalkan kami dan mendaki dengan cepat ke pemberhentian pertama. Sementara aku dan Cecilia membiarkannya berjalan sendiri ke depan sana.
“Kenapa kau tidak pernah ikut Papa sebelumnya Tante.”
“Oh, Tante baru ketemu Papa belum lama, sebenarnya Tante juga mengerjakan iklan perusahaan Papa di Jakarta.”
“Ternyata begitu.”
“Apa Tante dan Papa pacaran?”
“Ohh, tidak.”
“Benarkah? Kukira iya?” Menarik, kenapa dia bisa menyangkaku pacaran dengan Papanya.
“Kenapa kau menyangka kami pacaran.” Aku tak tahan untuk tak bertanya.
“Entahlah, aku sering bertanya pada Papa, apa dia tidak menikah lagi seperti Mamaku, aku kasihan dia sendiri, aku saja sudah punya pacar sejak umur 14 tahun, tapi dia tidak pernah memperkenalkan seseorangpun padaku. Kupikir Papa dan Tante pacaran, baru kali ini dia mengajak seseorang untuk hiking dan pergi bersama.”
“Kami hanya berteman, Papamu sudah banyak membantu. Tante menggangapnya sebagai Koko.”
__ADS_1
“Tante tak suka Papa, dia tampan bukan....” Aku ngakak sekarang. Cecilia ini rupanya sedang menjadi marketing Papanya.
“Papamu tampan tentu saja. Tapi di usia kami, kurasa butuh lebih dari sekadar tampan dan cantik untuk mengatakan sesuatu, banyak pertimbangannya, banyak yang sudah kami lalui.”
“Kedengarannya sangat rumit Tante.”
“Memang rumit.” Aku tersenyum.
“Mungkin aku akan mengalaminya juga seperti kalian, aku sudah putus cinta dua kali, memang rumit. Rasanya sangat menyengsarakan.” Aku tersenyum menanggapinya.
“Kau akan kuliah di USA, apa kau memutuskan pacarmu yang sekarang?”
“Iya, kurasa hubungan jarak jauh itu agak tidak mungkin. Kami masih muda, jika kami punya takdir, mungkin kami akan bertemu lagi. Mama juga berkata begitu, pacaran di usia muda hanya untuk main-main dan mengenal orang.”
“Itu benar tentu saja. Percayalah, lebih baik mengejar karier dan impianmu dulu, ... Nanti banyak yang akan datang.”
“Entahlah, mungkin di masa depan Cecilia, Tante tak tahu, biarlah takdir dewa jodoh yang memutuskannya, tapi untuk sekarang kami hanya teman baik. Oke”
“Kau menyukai Papa bukan Tante?” Aku tertawa dan memutuskan tidak menjawabnya saja...
“Sudahlah, ayo kita susul Papamu. Dia akan mengatakan kita berdua berjalan lebih lambat dari kura-kura.”
Pemandangannya bagus, dengan jalan yang tidak terlalu sulit kau bisa mendapatkan pemandangan keseluruhan wilayah ini beserta semenanjung begitu sampai ke anjungan di ujung Puncak Shek O Peak (284 m) merupakan tempat terbaik untuk melihat panorama garis pantai semenanjung Hongkong Island. Hatiku juga gembira, karena seperti yang kuduga ternyata Cecilia tak pernam menentang Papanya untuk punya seorang pendamping.
“Kalian berdua memang kura-kura. Lambat sekali.” Ko Derrick berkacak pinggang menunggu kami di perhentian ke-dua itu.
“Ini bukan treadmill Papa. Tante ayo foto berdua disini,...” Kami mengabaikannya dan bicara berdua saja. Ko Derrick mengelengkan kepalanya saat dia melihat kami heboh berfoto lagi. Tapi biarkan saja
__ADS_1
Kami terus berjalan menyusuri punggung naga melihat pemandangan indah Teluk Tai Tam di sebelah barat Semenanjung Shek O. Hari cerah, Pulau Lamma di barat daya Pulau Hong Kong terlihat dari dek. Setelah melalui punggung bukit, kami tiba di Pottinger Gap. Di sini kami akan melihat gedung-gedung bertingkat tinggi Chai Wan dengan lanskap berhutan. Perjalanan ini memanjakan mata juga.
Dan akhirnya kami tiba di Teluk Big Wave, dengan pasir putihnya. Perjalanan yang cukup melelahkan itu akhirnya berakhir. Langit bitu dan pantai putih itu menjadi saksi akrabnya kebersamaan kami.
Aku merasa gembira, ini perjalanan yang berharga untukku, melihatnya Ko Derrick masuk ke air laut dan hanya memakai celana hiking selututnya membuat mataku terlalu silau. Bagaimana aki-aki ini punya case begitu bagus, jangankan aku wanita-wanita disini sudah semuanya tersihir olehnya.
“Apa kau sengaja pamer, kau sedang mencari kencan disini, kenapa duduk disampingku?” Dia duduk disampingku topless di pasir sementara Cecilia masih berada di air.Dia meringis lucu melihatku. “Apa ada yang lucu?”
“Kau dan Cecilia nampaknya sangat cocok rupanya?”
“Kami sama-sama wanita, wanita punya banyak hal dibicarakan dari ujung hingga ujung kaki.”
“Begitu?”
“Iya, memang begitu.” Dia diam dan melihat ke arah pantai. Entah apa yang ada di pikirannya, aku tidak bisa menebaknya. Aku hanya mencuri pandang ke dada bidangnya. Terlalu menyakitkan mata untuk tak dilihat.
“Tidak masuk ke air?” Sialnya dia memergoku meliriknya.
“Nanti, masih cape...” Aku masih betah duduk di bawah payung pantai yang kami sewa.
“Sekarang saja,...” Dia menarik tanganku sekarang.
“Hei Ko!”
“Ini pantai Tata, kau sama sekali tidak seru, ayo ke air!”
Matahari masih panas, kurasa kulitku sudah gosong sekarang. Tapi berikutnya percikan air membuatku berteriak kaget karena dia sengaja memercikkannya padaku. Sekarang aku basah kuyup, dia malah tertawa. Aku melihatnya dengan kesal, tak lama aku terpaksa bergabung dengan Cecilia yang duduk di air dangkal.
__ADS_1
Aku gembira hari itu, sangat gembira.