
Kejadian semalam masih membekas. Aku masih menyeringai bahagia sepanjang pagi memikirkannya.
Sayuri yang melihatku dan bersama turun kebawah nampaknya penasaran kenapa aku tersenyum seperti itu.
"Papa ada apa denganmu, kenapa kau tersenyum creepy begitu. Kau menakutkan." Dia melihatku keluar dari kamar dan langsung bertanya. Aku tertawa sekarang.
"Tak ada hanya baru mengerjai orang saja semalam. Akhirnya Papa tahu bagaimana membuat sang dokter kabur."
"Ohh, ada kejadian apa semalam, ayolah Papa cerita padaku. Yang memalukanpun akan kudengar." Sayuri menahanku untuk turun ke bawah. Aku mengetukkan jariku ke kepalanya.
"Kau masih anak kecil tak pantas mendengarnya."
"Papa nanti aku tak mau membantumu lagi jika kau kesulitan. Ada apa semalam, aku sudah besar, aku perlu gosip panas, apa dia mencoba...menyentuhmu. Ewww..." Sayuri bergidik sendiri. "Papa ayo beritahukan aku, jika tidak akan kuadukan kau ke Kakak Shiori."
"Sejak kapan kau jadi tukang ancam?" Aku mendorong keningnya lagi.
"Papa kau harus memberi tahuku apa yang terjadi. Kau tak boleh turun." Dia berkeras menahanku di lantai 2. Aku menghela napas.
"Itu candaan orang dewasa."
"Papa aku sudah tahu apa itu dewasa, tahun depan aku sudah 17..." Dia masih menahanku. Baiklah...
"Papa mengabaikannya semalam, kau tahu mereka masih mengobrol di ruang tengah, lalu Sobo meninggalkan kami, Papa juga angkat kaki naik ke atas, tapi kau tahu dia mengikuti Papa keatas." Sayuri melongo. " Papa tanya dia mau apa, dia bilang kalo Papa lelah dia bisa memijat Papa."
"Astaga dia berani sekali, murahan sekali, diterima masuk di keluarga manapun, caranya murahan. Lalu Papa jawab apa?" Bagian ini sulit untuk diceritakan.
"Papa cuma bilang dia murahan, dan dia pergi. Tapi besok akan ada masalah. Sobo-mu mengajak makan malam, Papa menduga yang datang hanya Yumi, jadi besok bagaimana kalau kau menemani Papa makan malam besok, kau bisa bolos sedikit, ke kantor Papa sekitar jam 6."
"Besok. Oke."
"Ayo turun."
Kami turun, kejutan. Hanya Ibu yang ada di bawah.
"Ibu kemana yang lain."
"Ohh, tadi mereka pergi ke persiapan pembukaan klinik baru Yumi. Duduklah... Ibu ingin bicara." Aku tahu pembicaraan ini akan datang.
"Ada apa Mama." Aku
__ADS_1
"Apa menurutmu Yumi cantik."
"Ya dia cantik."
"Kau tak ingin berkenalan dengannya, dia baik bukan, dokter, dari keluarga yang baik. Dia juga baik pada Sayuri."
"Kurasa untuk sekarang kami tak menyukainya, dalam beberapa hari ini kami kadang bicara, semua pandangan dan pembicaraan kami tidak sejalan. Sayuri juga tidak. Tapi aku menghargainya sebagai tamu Ibu."
"Kau baru bicara dengannya saat makan malam hari pertama, bagaimana kau bilang pandangannya tidak cocok, Ibu bilang kalian harusnya berkenalan lebih dekat lagi. Sayuri kau juga baru sekali mengobrol panjang, soal dia menyarankan kau ke kedokteran itu, menurut Sobo dia hanya ingin membantumu, lagipula itu tidak sepenuhnya salah."
"Hmm... entahlah Sobo, jika Papa tak suka aku juga tidak suka."
"Mungkin nanti kau akan melihat kebaikannya. Lagipula dia akan sering berada di Tokyo kalian nanti bisa berkenalan lebih dekat."
Mama tetap memaksa. Terserah dia, yang jelas tidak ada ruang lagi baginya. Dia akan pergi cepat atau lambat.
\=\=\=
Tebakanku benar, hanya Yumi yang ada di sana saat kami tiba di muka restoran, dia sendiri yang menunggu kami.
"Benar bukan, dia sendiri. Ini hanya akal-akalan Sobo saja. Jika kita bertanya dia akan mengatakan tak tahu karena datang terpisah. Itu trik yang mudah di baca. Tapi dia tak menyangka kau ikut."
"Kurasa dia memang tak punya rasa malu lagi."
"Papa ayo kita ke restoran Italia itu saja."
"Boleh. Tapi sayangnya kita harus mengajak dia."
"Ya sudah apa boleh buat. Kita cuma makan."
Kami menghampirinya.
"Ohh kalian. Ternyata Sayuri bisa ikut." Dia terkejut melihat Sayuri, lebih tepatnya mungkin kecewa.
"Iya, dia ternyata bisa pulang cepat. Jadi sekalian kuajak makan bersama. Dimana para orang tua kita?"
"Ohh katanya mereka diajak makan malam oleh teman mereka, jadi mereka tak kesini. Aku barj mendapat telepon."
"Kalau begitu ayo kita makan di restoran Italia di sana saja. Aku sudah bosan makan disini. Boleh bukan Kakak Yumi."
__ADS_1
"Tentu saja boleh."
Kami berpindah restoran. Nampaknya Yumi tidak terlalu senang, yang kami kunjungi tadi adalah restoran kaiseki (hi end Japanese restaurant), sedangkan ini restoran Italia Japan fusion walaupun beberapa menu tetap original Italian. Sayuri menyukai restoran ini, akupun suka kami berdua punya selera yang sama.
"Kau pernah makan di Italian fusion seperti ini?"
"Ehmm baru kali ini, aku lebih suka makanan Jepang."
"Ohh kau punya alergi khusus?"
"Tidak, cuma makanan seperti ini, pasta, keju, produk dairy terlalu banyak kalori."
"Kakak Yumi, kau bisa pesan vinegar salad saja. Itu sangat sehat." Sayuri menyindirnya. Vinegar salad dasarnya hanya terdiri dari sayuran, dan dressing salad yang dibuat dari cuka apel, mustard, olive oil, bawang putih, dan lada. Sangat rendah kalori.
"Ahh iya, aku pesan itu saja. Kau jangan sering-sering makan begini Sayuri sayang, tak baik untuk kesehatan." Sayuri meringis. Wanita ini, apa dia tak bisa menghargai sedikit apa yang jadi kesukaan orang, dia sangat yakin dia benar.
"Kau tahu Kakak, gadis Italia itu tidak gemuk, mereka makan dengan baik, makanan mereka dipuji di seluruh dunia." Sayuri tertarik mendebatnya.
"Hmm entahlah, menurut Kakak makanan kita sendiri tetap yang terbaik. Kita punya makanan sehat, produk terbaik, kau harus lebih mencintai makanan Jepang." Percuma saja mendebatnya dia tak mau kalah dan tetap menganggap dirinya sangat benar. Makan pun harus di debat.
"Andai Kakak Shiori di sini Papa, makan malam ini akan lebih baik. Aku kangen mengobrol dengannya." Tiba-tiba Sayuri menyebut nama Shiori, Yumi langsung waspada. Kali ini Sayuri ketus, dia berniat menyinggung langsung Yumi.
"Siapa Kakak Shiori?" Yumi langsung melihat kami bergantian meminta jawaban.
"Bukan siapa-siapa, hanya teman dekat kami."
"Teman dekat kalian?"
"Ayo kita pesan saja Sayuri. Papa sudah lapar." Aku memutuskan mengubah topik pembicaraan. "Kita pesan pembuka? Atau kau ingin langsung menu utama." Tak ingin menjawab pertanyaaannya, lagipula dia bukan siapa-siapa.
"Langsung menu utama saja. Pembukanya cured meat, tak baik untuk kesehatanmu Papa terlalu banyak garam. Tapi kita tak akan melewatkan makanan penutup bukan." Aku tertawa dengan sindiran Sayuri, entah yang disindir merasa tersindir atau tidak.
Kami memesan beberapa menu yang kami suka dengan cepat, kami bisa berbagi makanan, jika dengan Shiori ini akan lebih seru lagi. Benar kata Sayuri, makan malam ini akan lebih baik jika ada dia, aku merindukannya sekarang. Benar-benar ingin dia di sini bersama kami.
"Kau ingin pesan apa? Vinegar salad? Yang lainnya, pasta?" Sementara Yumi terlihat binggung memilih, Sayuri menatapnya dengan sebal.
"Yang tidak punya produk keju?" Dia bertanya kepada pelayan.
\=\=\=\=
__ADS_1