
Matanya menelitiku dan sekarang berpindah ke Oliver. Oliver yang tahu dia diamati dan dinilai itu memandang ku. Aku langsung tak suka dengannya. Kenapa ada yang salah dengan penampilan kami, mungkin ada jambul phoenix atau tanduk naga diatas kepala kami.
"Hallo Paman, senang bertemu denganmu." Oliver menyapanya dengan simpatik dalam bahasa Cantonese. Mama bilang dia tahu Cantonese.
"Ohhh, kau bisa bicara Cantonese ternyata. Padahal kau orang Western?"
"Iya saya bisa Cantonese, tapi tak begitu lancar sekali."
"Apa pekerjaanmu." Nampaknya pekerjaan sangat penting baginya. Mungkin dia meremehkan Oliver dan menyangka pekerjaannya adalah model juga.
"Paman tahu China National Conventional Center?"
"Iya tentu."
"Coba cek nama arsiteknya Oliver Russell atau bukan."
"Ohh... kau arsiteknya? Perancang bangunan itu? Benarkah?" Sekarang pandangan angkuhnya langsung berubah.
"Iya aku bekerja di AECOM. Aku arsitek utamanya, tentu saja gedung ini dibangun dengan kerjasama tim. Bukan aku sendiri yang merancang setiap detailnya. "
Dia jadi diam sekarang
"Calon menantuku hebat." Mama yang sumringah memuji Oliver. "Anakku juga hebat, dia tak pernah memberatkan Mamanya selama hidupnya." Itu sindiran halus untuk adikku yang selalu meminta uang kurasa.
"Mama, aku mana tega membuat Mama sedih. Mama kita makan sekarang? Semua tamu yang kita tunggu sudah datang?"
__ADS_1
"Baiklah, ayo kita makan sekarang." Mama terlihat gembira. Dengan senang hati mengajak yang lain makan. Menu yang terdiri dari ikan tim, dumpling, mie panjang umur, ayam, dan variasi daging lainnya tersaji di meja di masaknya sendiri dengan sedikit bantuanku karena aku agak kaku dalam memasak.
Tapi malam sebelumnya kami bersama-sama membuat dumpling berdua sambil mengobrol sampai malam, rasanya sangat menyenangkan. Bahkan Oliver pun ikut dalam acara itu.
"Kalian ini membungkusnya tak usah kaku begitu, satunya tukang menghajar orang, satunya tukang mengaduk semen... apa ini?! Pangsit?! Pangsitpun lebih bagus bentuknya dari ini. Kalian bisa membuat leluhur bangkit dari kuburnya." Mama memarahi betapa buruknya hasil kami, aku dan Oliver berpandangan mengakui betapa buruknya dumpling kami sambil menggaruk kepala.
"Kalian makan ini sendiri nanti, ..." dan menyuruh kami memakan sendiri hasil kami, walaupun akhirnya ada yang bagus juga setelah berkali-kali salah.
Sekarang Mama sebagai tuan rumah mengajak semua orang menuju ke meja makan. Dia membiarkan suaminya duduk di tengah meja sementara dia duduk di kanan bersamaku dan Oliver. Istri keduanya duduk di samping kirinya bersama dengan Cheng Xin.
Mama tersenyum, mengambilkan makanan untuk suaminya, kami mulai makan setelah menunggu suaminya duluan makan karena dia yang tertua.
"Semua orang gembira di Tahun Baru ini, ayo kita makan." Suaminya sekarang yang mempersihlakan semua orang. Mama manis ke semua orang hari ini, dia tidak ingin mempermasalahkan apapun. Biarpun suaminya tidak bersikap simpatik padaku dan Oliver, nampaknya dia tidak ingin mempermasalahkannya.
Baiklah, lagipula aku juga tak ingin bertengkar. Aku pun berusaha bersikap manis hari untuk Mama yang sedang gembira.
Kami pergi kerumah Paman di bagian lain Shanghai dengan mobil Mama. Sementara suaminya membawa mobilnya sendiri, dan Cheng Xin juga membawa mobilnya sendiri.
"Mama, apakah rumah yang kau tinggali sekarang dibelikan oleh suamimu." Aku penasaran sekarang sedikit mengorek-ngorek hubungan Mama dengan suaminya itu.
"Tentu tidak, mana mungkin dia membelikanku. Kadang uang bulanan saja tidak dikirimkan karena dia tahu aku perempuan kaya. Paling dia hanya membayar biaya sekolah anaknya dan sebulan sekali memberikan uang jajan bulanan untuk anaknya. Dulu aku hanya memanfaatkan namanya untuk melindungiku, dia tahu aku memanfaatkan namanya. Sekarang gantian dia yang gantian memanfaatkanku. Ya semacam simbiosis."
__ADS_1
"Sungguh kisah yang luar biasa." Akhirnya Oliver berkomentar. Mama tertawa.
"Bibi hanya mau hidup tenang Oliver. Mungkin di mata kalian ini tak sepadan. Tapi kalian tak tahu apa pandangan zaman kami tentang seorang wanita yang sudah rusak dan memiliki anak dengan orang lain. Dia anak yang sedikit tak dianggap dalam keluarga, kariernya tak begitu cemerlang di banding Kakaknya, dia tak pernah melihat Bibi, menganggap Bibi adalah pilihan buruk yang diberikan padanya, Bibi tak pernah mempermasalahkannya. Memang Kakekmu menaruh Bibi dalam penghukuman karena menentangnya. Bahkan saat dia terang-terangan mengambil istri kedua, Kakekmu tak mempermasalahkannya. Ini hukuman karena menentang orang tua, hanya saudara-saudara Bibi yang jatuh kasihan pada Bibi. Mereka yang membantu dengan diam-diam, dan Bibi dengan sadar memanfaatkan namanya untuk perlindunga akhirnya. Apakah sepadan? Ya Bibi pikir sepadan... Hanya ya Paman dan Bibimu memang membela Bibi kadang sering menyindirnya, tapi dia memang tak pernah perduli. Bibi juga sebenarnya tak perduli..."
"Bibi, kau orang yang sangat tabah. Aku kagum padamu. Setiap orang punya perjuangannya masing-masing, kau berjuang di sini berusaha mencari Sandra, Sandra berjuang tanpamu di luar sana. Tuhan mempertemukan kalian di akhir. Kalian berdua sungguh wanita hebat."
"Bibi harus punya uang sendiri untuk menemukan Sandra, jika Bibi tak berdagang, bagaimana bisa Bibi menyewa detektif untuk mencarinya, dan Sandra memang putriku, walau akhirnya takdir membawa kami baru bertemu 40 tahun kemudian, tapi semua itu layak, dia memang putriku, kami semua tak mudah menyerah dan selalu menemukan jalan keluar." Aku melihat Mamaku di bangku belakang.
"Mama, aku mencintaimu." Kugengam tangannya, Mamaku yang tidak pernah menyerah menemukanku, aku beruntung punya Mama sepertinya.
"Mama juga mencintaimu sayang. Kau abaikan sikap adikmu dan adik iparmu. Aku yang sudah salah mendidiknya."
"Iya Mama, aku tak akan menanggapi mereka. Mama tenang saja. Kau tahu Mama tadi dia ingin memperkenalkanku ke duda tampan dia bilang, mengharapkanku punya anak-anak lucu seperti dia juga dan saat dia melihat Oliver, dia seperti melihat alien dari planet Mars. Mama seharusnya liat wajah adik ipar." Mama tertawa dengan ceritaku.
"Bagus sayang, memang harus kau yang mengajarinya sopan santun, Mama bertaruh setelah ini dia tidak akan berani macam-macam lagi denganmu."
"Lalu, bukankah Mama harus makan malam ke rumah keluarga suamimu. Apa keluarga suamimu menerimamu Mama.
"Awalnya mereka mengunjingkanku sebagai wanita rusak. Tapi akhirnya setelah aku menerima dengan lapang keputusan suamiku untuk punya istri kedua, lalu mereka juga tahu aku membiayai sendiri kehidupanku dan tak pernah meminta sepeser pun pada suamiku, sebagian mulai merasa kasihan padaku, saudara-saudaranya mengajakku bicara, saudara-saudara iparnya mengerti perjuanganku akhirnya. Aku diterima oleh yang lain, yah walaupun sampai detik ini suamiku ya tetap sama perilakunya, tapi seperti yang Mama bilang, Mama juga tak perduli."
Akhirnya aku mengerti alasan keseluruhan kenapa Mama tidak memilih bercerai saja. Saling memanfaatkan, nampaknya ini alasan yang dibuat-buat. Tapi melihat apa yang Ibuku harus hadapi setelah melahirkanku dan dikucilkan Kakek, aku jadi mengerti.
Mamaku adalah wanita pintar dan tak pernah menyerah.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1