
POV Shiori
Hanoi lagi, kali ini kami tidak berada di pantai. Hanya di tempatkan di sebuah hotel bintang lima di sana. Kami hanya tiga hari disini. Jadwal pertemuan kami pada Sabtu kami sudah kembali lagi.
"Sayang kita tidak kembali ke resort cantik itu lagi. Aku menyukai pemandangannya." Aku tiba untuk sarapan sehari sebelum kami kembali, ini
"Kau ingin ke sana, kita bisa memundurkan jadwal penerbangan ke Minggu sore dan kesana."
"Tidak, hanya berandai-andai."
"Aku serius, kita bisa kesana. Aku bisa menemanimu."
"Kau baik sekali." Aku tersenyum, kenapa dia jadi berbaik hati ingin menemaniku.
"Aku serius. Kau ingin kesana? Aku bisa menemanimu? Kita bisa menyewa kendaraan. Yang lain mungkin ingin ikut bisa ikut. Minggu sore kita bisa pulang."
"Tidak...tidak itu akan merepotkan."
"Kutanya pada mereka. Mungkin mereka juga mau ikut?"
"Tidak, perjalanan kesana hampir 3 jam. Akan sulit mengejar jadwal pulang kembali. Hanya membuat kita terburu-buru saja. Aku tak serius. Aku hanya berkata akan menyenangkan bila kita bisa kembali." Dia menyerah nampaknya. Tapi kenapa dia bersedia menemaniku? Aneh.
"Kau yakin?"
"Aku yakin, akan terlalu melelahkan. Kita bisa sedikit berbelanja besok. Itu lebih menyenangkan."
__ADS_1
"Baiklah terserah padamu. Jika kau ingin aku akan menemanimu, kita bisa menyewa mobil, dan sopir pergi ke sana, pemandangannya indah. Akan menyenangkan walaupun sedikit terburu-buru." Sekarang dia menatapku, aku menghindari tatapan matanya. Apa mungkin ini karena pertanyaan aneh Sayuri kemarin.
Apa itu berarti perhatiannya selama ini karena perasaan tertentu. Tapi sepertinya tidak, ...selama ini aku rasa dia baik karena putrinya tapi tak pernah menerobos ke arah yang lebih pribadi.
Entahlah, aku tak mau memikirkannya. Sesaat kemudian tim yang lain bergabung bersama kami menyelamatkanku dari kecanggungan.
Tugas kami hari ini adalah penandatanganan di kantor menteri, konferensi pers, dilanjutkan dengan jamuan makan malam bersama beberapa pejabat pemerintah. Kami sibuk sampai malam dan hanya besok kami bisa punya waktu bersantai sampai penerbangan kami di jam tiga sore.
Sudah lewat jam 11 kami baru sampai di hotel lagi. Aku agak memforsir kegiatan hari ini, mereka sudah naik dulu, aku ke toilet di lobby. Kepalaku sudah agak berat. Aku harus cepat istirahat.
"Kau baik-baik saja? Kau diam sekali di perjalanan pulang." Ternyata dia menungguiku di lobby.
"Aku hanya kelelahan hari ini, baru kali ini sampai jam 11 lagi. Hanya sedikit pusing."
"Ayo naiklah, kuantar ke kamarmu. Kau harus istirahat segera." Mungkin dia hanya merasa bertanggung jawab karena dia yang menyebabkan aku begini.
"Iya." Aku berjalan ke lift segera.
"Iya, tak apa, biasanya aku tak pernah pusing lagi, jadwal hari ini memang full." Tak lama lift kami terbuka dan aku segera melangkah keluar. Kamarku tak jauh, aku ingin segera berbaring. Tapi nampaknya ketidaksabaranku menjadikan kepalaku semankin berputar.
"Hei..hei, kau kenapa." Aku limbung. Untungnya Ryohei membantuku berjalan, lengannya memegangku dengan erat. "Bersandar padaku. Sebentar lagi sampai."
"Aku hanya perlu berbaring sebentar. Maaf menyusahkanmu,..." Kedua kalinya aku mencium parfum yang sama.
"Aku yang harus minta maaf karena aku yang membuatmu begini."
"Kurasa sudah nasib burukku." Aku tertawa miris, berusaha menghilangkan rasa ingin muntah karena pusing kepalaku.
__ADS_1
Suara pintu yang terbuka membuatku menghela napas lega. Aku yang masih dirangkul supaya tak jatuh akhirnya bisa berbaring dia bahkan membantu membuka sepatuku.
"Kau perlu obat? Kau membawa obat, aku ambilkan?" Suaranya yang tenang saat aku memejamkan mata.
"Tidak, aku perlu hanya perlu berbaring diam setengah jam biasanya sudah jauh berkurang. Aku perlu mandi sebelum bisa istirahat. Tidak apa, terima kasih, kau bisa tinggalkan aku."
"Aku menunggu di sofa ujung sana. Anggap aku tak ada."
"Tak apa..." Aku ingin mengusirnya.
"Sttt...istirahatlah. Kugelapkan lampunya. Jangan menganggapku orang lain. Jika kau baikan aku akan pergi setelah kau mandi, bagaimana jika kau jatuh di kamar mandi." Dia memang orang lain, sejak kapan dia bukan orang lain.
"Kapan kau bukan orang lain..."
"Kau masih punya kekuatan berdebat denganku. Pejamkan matamu." Tapi dia juga tak bisa dibantah. Aku terlalu lelah untuk membantahnya. Ryohei-san yang baik hati itu sedang khawatir dengan mentor berharga putrinya.
Kubiarkan saja dia duduk di sofa ujung kamar. Dan aku memejamkan mataku meringkuk di bedku sampai rasa pusingnya mereda.
"Sudah jam 12, aku sudah baik. Kau bisa pergi..." Aku bangun merasa lebih baik. Dia melihatku berdiri.
"Pergilah mandi sekarang." Aku belajar percuma saja membantahnya. Aku mengambil piyama tidur panjangku dan pergi ke kamar mandi, untuk membersihkan diri dengan cepat.
"Aku sudah selesai. Tak apa sudah kuberitahu padamu. Terima kasih kau sudah menunggu." Saat aku keluar dengan piyama tidurku akhirnya dia berdiri akhirnya dari sofa.
"Kau perlu sesuatu lagi."
"Tidak, terima kasih Ryohei-san. Kau sangat baik menunggu seperti ini."
__ADS_1
"Baiklah. Istirahatlah dengan baik. Jika perlu sesuatu teleponlah." Sekarang dia berjalan ke pintu di dekatnya dan menutup pintu.
Baik sekali. Jangan anggap aku orang asing? Apa arti kalimat aneh itu. Sudahlah, nanti kepalaku pusing memikirkannya.