
"Kakak Shiori, Papa bilang dia ingin mengajakku merayakan Hanami bersamamu di Osaka." Keesokan harinya Sayuri meneleponku.
"Ahh iya, kau mau bukan. Kakak sudah lama tak ke Osaka, minggu depan sakura sudah mekar di banyak tempat di Osaka."
"Kakak, kau dan Papa sudah jadian?"
"Belum."
"Kenapa belum?" Yang ini aku tak bisa menjawabnya.
"Kakak butuh waktu saja Sayuri. Jika saatnya sudah tepat oke."
"Pasti Papa mengatakan sesuatu yang konyol padamu bukan. Kenapa kakak jadi tak yakin seperti itu." Aku tertawa. Ternyata dia bisa menebaknya. "Kau tertawa ternyata benar, apa yang dia katakan padamu Kak Shiori."
"Sayang, kakak tak bisa mengatakannya, nanti Papamu malu."
"Aku tahu Papa memang kaku, tapi dia serius Kakak, jika dia sudah berjanji padamu dia akan menempatinya. Jika tidak akan mengecewakanmu, dia juga tak pernah mengecewakanku atau Mamaku dulu, cuma takdir Mama memang pendek, apa yang bisa kukatakan." Dia bersedia menjadi juru bicara yang baik untuk Papanya. Anak ini memang berusaha.
"Iya Kakak tahu."
"Lalu kenapa kau tidak menerimanya. Apa yang sebenarnya dia katakan padamu."
"Kakak hanya ingin mengatakannya di saat yang tepat. Lagipula caranya meminta cukup mengesalkan, anggap saja hukuman..." Aku tertawa.
"Ternyata begitu. Kakak, katakan padaku apa yang dia katakan. Aku tidak akan mengatakannya pada Papa."
"Baiklah, kau harus janji tak mengatakannya pada Papamu."
"Aku janji. Beritahu aku apa yang dia katakan padamu Kak Shiori."
"Dia bilang, mungkin kita bisa mencoba." Aku masih tertawa ngakak mengulang kata-kata itu.
__ADS_1
"Mungkin kita bisa mencoba? Mencoba apa? Ramen baru di Shinjuku? Kata apa itu..." Sayuri sendiri yang menertawakan Ayahnya sekarang.
"Maksud Papamu, mungkin kami bisa mencoba berjalan. Sama sekali tak meyakinkan, tapi kemudian dia mengubah kalimatnya."
"Tak salah Kakak menolaknya memang. Baiklah, Jumat kita pergi ke Osaka oke. Temanku mau ke sini, sampai jumpa Jumat pagi Kak Shiori."
"Oke bye. Hati-hatilah."
Aku memberitahu Papa dan Mama bahwa aku akan ke Osaka bersama mereka. Walaupun kemudian Ryohei-san juga menelepon mereka dan meminta izin sendiri.
Aku tiba jam delapan pagi di Stasiun Shinagawa. Mereka menungguku di sana. Aku melihat Sayuri dan Ryohei yang melambai padaku, tapi kemudian aku melihat Sayuri bersama dengan temannya.
"Kau bersama temanmu?" Aku bertanya pada Shiori.
"Ini Yuka, tentu saja aku tak mau menggangu kencan kalian, aku familiar dengan Osaka, kami akan jalan-jalan sendiri." Sayuri mengedipkan matanya padaku.
"Ternyata begitu." Ryohei pasti senang dengan rencana anaknya ini. Tak usah disangsikan lagi. Dia senyum-senyum saja di belakang Sayuri.
"Tapi kau tetap di hotel yang sama bukan."
Ternyata mereka ke Yoshino, daerah pegunungan di Nara itu adalah tempat melihat sakura terbaik di Jepang. Jarak satu jam yang harus di tempuh dengan kereta lagi dari Osaka.
Ternyata sudah diatur begitu, pada akhirnya ini jadi perjalanan kami berdua.
"Kau anak nakal, kau sengaja bukan." Sayuri tertawa ketika aku berbisik padanya.
"Kakak, selamat berlibur bersama Papa. Aku beli roti dulu untuk kita." Dia mengajak Yuke berlari ke sebuah stand penjual roti untuk menghindariku.
__ADS_1
Aku melihat ke Ryohei yang pura-pura tak tahu aku melihatnya.
"Rencanamu memang bagus." Aku menyilangkan tangan di depan dada dan meliriknya.
"Rencana apa?"
"Jangan pura-pura bodoh." Dia tertawa.
"Itu ide Sayuri, dia sama pintarnya denganmu."
"Benarkah." Aku meringis ketika mendengar dia berusaha cuci tangan.
"Kau boleh tanya dia ini ide siapa? Dia yang mengaturnya sendiri."
"Yang jelas kau juga ikut merencanakannya." Aku masih menudingnya.
"Baiklah terserah padamu menganggapku apa." Dia senyum-senyum sendiri. Jelas senang aku terpaksa mengikuti rencananya.
Aku duduk berdua dengan Ryohei, sementara Sayuri bersama dengan Yuke.
"Masih mengantuk, kau bisa tidur selama perjalanan. Sakit kepalamu masih sering kambuh?"
"Tidak belakangan, sudah tak pernah kurasa."
"Dokter tidak menyuruhmu kembali periksa lagi?"
"Tidak, jika tidak ada keluhan menggangu."
"Baguslah. Ayo sarapan dulu, mereka membeli banyak makanan." Di shinkansen sebenarnya ada beberapa pilihan makanan yang di jual, tapi kebanyakan orang membelinya di luar sebelum naik kereta.
__ADS_1
Perjalanan dua setengah jam itu terasa cepat kemudian. Hawa hanami sudah terasa dengan penuhnya stasiun dengan turis dan wisatawan lokal yang juga merayakan hanami. Perayaan hanami dengan orang yang berbeda tahun ini. Aku punya seseorang yang bisa dianggap sebagai kekasih.
bersambung besok....