TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 3 Part 27. Kick Out The Enemy 14


__ADS_3

Setelah dua minggu Camilla menghilang akhirnya muncul di media, kali ini dia tetap mengatakan dengan ponggahnya itu hanya gosip. Karena Papa memang belum mengambil tindakan apapun.


Aku sudah tak mau mengurusnya lagi. Yang penting Papa sudah tahu siapa dia. Nama mamaku sudah bersih, kurasa itu sudah cukup.


Seminggu ini Koko menghilang ke Shanghai, dia ada urusan di sana, aku juga banyak pekerjaan di Hongkong. Kami hanya saling berkirim pesan kadang.


"Koko? Kenapa kau menelepon?"


"Kau sibuk?"


"Tidak, kurasa karena Papa sudah membuat masalah untuk dirinya sendiri dengan jarang datang ke kantor, sekarang pekerjaanmu lebih ringan."


"Kau mau ke Shanghai?"


"Ehm tidak kurasa... Kenapa?" Aku masih belum menangkap maksud pertanyaannya.


"Liburan. Besok weekends. Kau mau kesini?"


"Ohhh, kau mengajakku kencan." Aku tertawa. Kami jarang mendapatkan waktu berdua karena sama sibuk. "Betul bukan."


"Iya aku mengajakmu kencan." Setelah jeda waktu sedikit dia mengakuinya.


"Katakan kau merindukanku. Kalau tidak aku tak kesana."

__ADS_1


"Kubelikan kau tiketnya." Sepertinya mengatakan hal mesra itu sulit sekali untuknya. Aku ingin tertawa sekarang.


"Koko, katakan kau merindukanku." Aku tak tahan untuk tak menggodanya.


"Aku merindukanmu." Akhirnya dia mengatakannya.


"Kenapa mengucapkannya saja sulit. Aku juga merindukanmu." Dia tertawa kecil diujung sana.


"Aku bukan penyair. Tak bisa merayu wanita dengan kata-kata manis." Hanya itu jawaban singkatnya.


"Baiklah, kita bertemu besok. Aku akan memesan tiket sekarang, tapi Minggu sore aku harus kembali oke, aku ada pekerjaan Senin pagi."


Jadilah aku pagi sudah terbang ke Shanghai untuk kencan kami. Dia menjemputku tentu saja, senyumnya sekarang merekah ketika melihatku melambai padanya. Dia mengambil alih koper kecilku dan merangkul bahuku.


"Kau tiba saat makan siang. Jadwal yang bagus. Ayo kita makan."


"Sepertinya Rabu, ada masalah yang harus kubantu?"


"Tidak, hanya biasanya kau ada di satu kota denganku, tapi kemudian menjauh." Dia tertawa, nampaknya bahagia aku membutuhkannya, tapi selama ini dia tak pernah mengatakan dia terganggu jika aku meminta bantuannya.


Nampaknya dia memang kekasih yang perhatian walau tak pernah merayu.


"Kau hanya disini 10 hari, nanti akan kembali segera ke Hongkong. Hanya beberapa hal lagi yang perlu diurus. Tidak akan berkantor disini."

__ADS_1


Kami makan siang kemudian, aku memang datang saat jam makan siang seperti katanya.


"Bagiamana kabar musuhmu?"


"Akhirnya dia muncul ke media kemarin, membantah semua kabar yang beredar, Ayah masih menghilang, dia dengan sukarela memyerahkan Paman yang memimpin kantor. Peralihan kekuasaan akan lebih cepat nampaknya."


"Jadi hasil tesnya bilang Jonathan bukan anak laki-lakinya?"


"Tentu saja, kalau tidak buat apa Papa menghilang begitu. Kalau hasilnya sebaliknya tentu saja Papa sudah diajak ular itu tampil di televisi untuk membantah semuanya. Tapi sekarang kata Bibi, Papa di Shanghai, di rumah pacarnya yang lain."


"Papamu itu memang kacau."


"Dia masih menganggap hidupnya benar."


Sebuah pesan masuk ke ponselku, dari nomor tak dikenal, aku membukanya.


'Wanita pengacau, kau akan merasakan akibatnya membuat kekacauan.' Alisku langsung berkerut dengan isi pesannya. Kutelepon balik tapi ternyata nomornya langsung tak aktif.


"Siapa ini yang berani mengancamku?" Aku menggerutu. Kubalas pesannya.


'Siapa kau?! Kau berkelahi ke sini jangan cuma mengirim pesan saja seperti pengecut." Kubalas dan kukirim pesannya kembali.


"Siapa yang mengancammu?" Koko langsung bertanya.

__ADS_1


__€€€€ ___


bersambung besok, hari ini ngabsen aja sorry dilanjut besok.


__ADS_2