
Yang puasa ada bagian nyerempet disini, hati-hati yaaa
😁😁😁😁😁
Aku kembali ke Hongkong beberapa hari setelahnya. Sepuluh hari cukuplah kulewatkan bersama Mama, aku harus kembali bekerja dan menyusun hidupku. Aku akan mengatur membeli satu unit untuknya di apartment yang sama dengan Oliver.
Oliver menjemputku Minggu sore itu, dia tersenyum melihatku datang dari gate kedatangan. Melihat senyumnya lagi terasa menyenangkan.
"Kau tahu aku sangat merindukanmu." Dia membawaku tanpa ragu ke pelukannya saat aku tiba didepannya, mengatakan terus terang apa pikirannya, membuatku berdebar sendiri dengan kehadiran. Bisa mencium wanginya lagi , rasanya menyenangkan.
Kadang aku masih sedikit tak percaya dia merindukanku. Kadang masih sedikit tak percaya Don Juan ini jatuh cinta padaku. Tapi semua yang dilakukannya mengatakan dia serius dengan perkataannya.
"Benarkah..." Tak urung aku tersenyum juga dalam pelukannya.
"Apa terlihat tidak begitu."
"Sudahlah perayu. Kau memang pandai membuat perasaan wanita berbunga." Sekarang aku menyudahi pelukanku. Malu dengan kemesraan di depan umum ini.
Aku juga merindukan senyum hangatnya. Kami berpisah saat kami aku baru menerima cintanya. Rasanya seperti kencan yang tertunda.
"Species lain, kenapa kau tak pergi sebentar ke Shanghai jika begitu, Mama akan senang bertemu denganmu."
"Aku tak mau menggangu waktumu dengannya. Kalian baru bertemu sekarang setelah 40 tahun, tak etis aku menganggu kalian. Mamamu akan mengecapku calon menantu tak tahu diri. Tapi kapanpun kau ingin, aku akan mengunjunginya." Aku tersenyum, dia pengertian juga membiarkanku bersama Mama. Mengandeng tangannya sekarang untuk menuju mobil.
"Kau belum akan kembali ke Hanoi bukan."
"Ehm belum, pengerjaannya di pantau dari kantor bisa, lagipula pimpinan proyek sudah tahu apa yang dia harus lakukan tanpa kehadiranku, aku ada proposal baru sekarang di Jakarta. Minggu depan aku akan kesana."
"Ohh begitu..." Jakarta. Aku nampaknya harus membereskan beberapa barangku yang masih ada disana.
"Boleh aku ikut aku harus mengambil beberapa barangku yang ada disana."
"Tentu saja ikutlah jika kau mau. Kau ingin mengambil barang-barangmu."
"Iya."
Kami sampai di mobil kemudian.
"Oliver, apa kau ingin aku tinggal bersamamu?" Sebuah pertanyaan serius. Aku memandangnya dengan lekat.
"Iya tentu saja, apa kau tak mau? Ide tinggal bersama ini apa terlalu cepat untukmu? Apa Ibumu keberatan dengan ide ini?"
"Ehm aku ...bukan, aku hanya ingin tahu pandanganmu. Bukan aku keberatan."
"Jika kau keberatan kau harus bicara."
"Kau tahu apa artinya aku memintaku jadi temanku, aku ingin kau jadi teman hidup... itu artinya kita akan berbagi apapun dalam hidup kita bersama. Kita bukan di umur anak dua puluhan yang akan mencoba kecocokan dengan rasi bintang, kita menjalaninya bersama hari demi hari." Kata-katanya yang tenang membuatku merasa ikut tenang.
"Aku tak tahu kau punya sisi ini, Don Juan."
"Kau sebelumnya memang hanya memikirkan semua yang buruk tentangku dimsum." Kucium dia singkat sekarang sambil tersenyum, kali pertama aku memgambil kesempatan pertama menciumnya.
"Kenapa manis sekali, sebulan yang lalu kau senang sekali membuatku kesal..." Gantian dia yang tertawa.
"Aku bukan membuatmu kesal, sebenarnya aku hanya senang berbicara denganmu. Asal kau bicara padaku, tidak mendiamkanku. Seperti dua minggu sebelumnya saat kau benar-benar marah padaku."
"Ternyata begitu."
"Kita makan malam oke. Aku kelaparan sekarang."
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dia membawaku ke sebuah rooftop restaurant di dekat apartment kami di Wan Chai. Rooftop steak restaurant dengan pemandangan mempesona itu punya pemandangan mengagumkan, aku duduk disana terpesona begitu saja memandang kerlap kerlip lampu dan cahaya yang ada disana.
"Ini kencan pertama kita. Aku akan mengingat ini..." Kata-kataku membuatnya tersenyum sekarang. Kami menunggu makanan aku terpana melihat pemandangan kapal-kapal berjalan di teluk.
"Kita akan menjadikan tempat ini favorit jika begitu."
"Ini dekat rumah. Nanti aku akan mengajak Mama kesini juga."
"Mamamu akan kesini?" Aku cerita perselisihan Mama dengan adik dan Papa tiriku, dan aku ingin dia tinggal disini juga. Setidaknya dia punya tempat untuk melarikan diri. Dan bagaimana dia setuju aku mencarikan unit uang baru untuknya di gedung yang sama.
"Adikmu itu memang tak berguna nampaknya."
"Yang dia lakukan hanyalah berpikir dia kaya dan bisa melakukan apapun yang dia mau. Begitu juga istrinya, melihat mereka membuatmu muak."
"Setidaknya dia bukan adik kandungku, jika aku jadi kakaknya, aku akan menghajarnya dan menendangnya ke jalanan, supaya dia tahu bagaimana rasanya mencari selembar roti selama setahun tanpa bekal apapun. Biar dia jadi tukang cuci piring di restoran selama sebulan."
Aku tertawa sekarang. "Aku sudah memuntir tangannya kemarin."
"Mama bilang, dia akan menanggung 50% dari investasi kita. Dia ingin membantu. Kau tak keberatan bukan?"
"Tidak tentu saja tidak, dia Mamamu, itu yang bisa dilakukannya untukmu. Bagaimana mungkin aku keberatan."
"Thanks jika begitu. Aku ke toilet dulu sebentar sementara makanan belum datang, ..."
Kembali dari toilet aku melihat pemandangan menyebalkan, dua orang gadis memanfaatkan kepergianku untuk menggoda pacarku yang tampan itu. Mereka menempel di mejanya dan sepertinya berusaha mendapatkan nomor teleponnya. Tapi ternyata Oliver tidak mengeluarkan ponselnya sama sekali.
"Maaf, kalian siapa?" Aku tiba di mejaku kembali untuk menegur mereka.
"Ahhh maaf, kami hanya menyangka kami mengenalnya. Ternyata tidak... Maaf kami akan pergi sekarang Kakak.
"Apa mereka mendapatkan nomor teleponmu?"
"Sayang namaku saja mereka tidak dapatkan. Kau tak dengar tadi dia memanggilku Sir." Aku meringis. "Kau tak percaya? Kau bisa susul mereka."
"Sudahlah. Lupakan mereka." Oliver tersenyum padaku.
"Aku senang kau bertanya, artinya kau cemburu padaku. 30 hari yang lalu kau tak perduli, kau tahu itu menyakitkan."
"Jangan berlebihan species lain." Aku bertopang dagu dan mendorong keningnya. Senang bisa menyentuhnya, tentu saja aku tersanjung karena gadis-gadis itu tak mendapatkan namanya sama sekali.
"Memang begitu. Kau wanita paling kejam yang pernah kutemui."
"Kau yang gila jatuh cinta pada wanita kejam."
"Kau benar aku gila. Tapi kau juga bersedia menjadi kekasih orang gila..." Dia tertawa sendiri dengan leluconnya yang tidak jelas itu.
Makan malam itu berjalan dengan saling ledek dan bercerita. Senang bisa didepannya lagi, mengatakan segala yang aku ingin katakan dan dia balik meledekku seperti biasanya, penuh senyum dan tertawa lepas, kurasa kencan pertama kami setelah beberapa saat berpisah ini sangat menyenangkan.
"Kau senang malam ini." Dia bertanya setelah kami sudah kembali ke apartment, restoran itu yang memang tidak jauh dari restoran tempat kami makan.
Dia membantu membawakan koperku ke kamar.
"Hmm, tentu saja..." Dia memandangku dan aku yang jadi tak tahan untuk tak mendekatinya dan ingin memeluknya.
"Baiklah, istirahat jika begitu, kau pasti lelah. Aku keluar dulu oke...." Aku memegang tangannya.
"Apa?" Kenapa species lain sekarang sopan sekali. Apa yang ada dalam pikirannya. Apa benar dia sesopan ini, atau Ko Derrick mungkin mengancamnya untuk bersikap sopan? Apa benar dia setakut itu? Atau dia menungguku untuk memberinya tanda.
__ADS_1
"Species lain. Kau benar-benar berubah sekarang? Kau bahkan tak mencoba menciu*mku?" Aku menariknya mendekat padaku sekarang.
"Kau mau di ciu*m,..." Sekarang dia mulai merangkul pinggangku. Mengunciku dalam kehangatan pelu*kan lengannya.
"Ki(ss me..." Sebuah permintaan untuknya. Sambil memandang pupil mata abu-abu gelapnya. Sebuah ciuman lembut menyentuhku. Membuatku ingin membalasnya lagi. Tapi dia menarik diri... dan hanya melihatku di matanya. Kugapai tengkuknya sekarang untuk membalasnya. Akhirnya dia membalas cium*anku membuatku bisa bernapas lagi dalam ciumannya.
"Senang kau disini lagi, Sweetheart."
"Jangan pergi..."
"Sebenarnya aku tak pergi kemana-mana, aku ada di sebelah." Dia tertawa kecil, kukira mau membuat keadaan tak begitu tegang lagi diantara kami. Sementara aku ingin dia disini.
"Oliver..."
"Apa? Apa yang kau inginkan." Itu sebuah bisi*kan. Sebuah sentuhan bibir di anak rambutku menbuatku mencen*gkram kemejanya. Mungkin dia tahu aku menyukainya, apa yang dilakukannya selanjutnya membuat aku menggumam senang. Aku tak ingat seseorang yang menyentuhku bisa begitu menyenangkan.
"Kau tak ingin aku pergi?" Sekarang dia merayuku, cium*annya di leherku membuatku memeluknya dengan erat.
"Tidak..."
"Sweetheart, kau tahu permintaanmu itu berbahaya. Kau tidak akan menghajarku kan." Aku tertawa kecil sekarang.
"Tidak..." Sebuah helaan napas menjalar di leh*erku dan ciu*man menyentuh bib*irku lagi. Aku menariknya ke bed dan dia membawaku begitu dekat padanya. Cumbu*an panasnya menyasar leherku, sementara aku memejamkan mata menikmatinya.
"Oliver." Sesuatu terasa, menekan gaun tipisku, sementara dia bernapas cepat dan mencu*m*buiku.
"Maaf, itu tak bisa diajak kompromi. Dia bangun begitu tahu ada species lain didekatnya... Kau sudah pernah melihatnya sedikit..." Bisikannya membuat meringis, dan ingin tertawa, kami memang species lain jenis, tapi tekanannya membuatku melen*guh di
"Sayang, suaramu itu ...kau suka. Kau membuatnya tambah menderita." Tangannya yang terlalu pintar membuat gerakan yang lain di tubuhku.
"Oliver, kau jahat... Kenapa kau bisa membuatku menginginkanmu seperti ini." Dia membungkamku dengan ciumannya, aku ingin dia, tak kusangka dia bisa membuatku menginginkannya begitu dekat tanpa merasa takut. Dia pintar mera*yu, membuatku menginginkannya lebih lagi.
"Sweetheart, kau ...begitu...b*sah." Dia menggoda tengkukku, memelu*kku dari belakang, sambil bagian dari dirinya menggodaku.
"Oliver..." Satu saat dia begitu dekat, aku memutuskan mendorongnya lebih dekat lagi.
"Sandra, ...sweetheart, kau, apa yang..."
"Lakukan, ..." Aku menggengam tangannya. Ketika itu memenuhiku kami berdua sama-sama tak bisa menahan suara kami. Tak lama dia menguasaiku dibawahnya. Perasaan ini membuat yang bisa kulakukan hanya mele*ngguh menerimanya. Tubuhku mendambakannya, gerakan pelanpun membuatku merasakannya.
"Sweetheart, kau tahu menyiksaku dengan suaramu."
Moment yang sebelumnya tak pernah kunik*mati, sekarang terasa begitu indah dan menyenangkan. Gerakannya yang in*tens melambungkan tubuhku, l*engu*hanku seirama dengan gerakannya , membuatnya memel*ukku dengan erat dan ters*entak diatasku. Serbuan sesuatu hangat menyentuh kùlit perutku.
Dia terbaring di sampingku. Menenangkan napasnya sambil menatap langit kamar sementara aku memejamkan mataku.
"Apa aku membuatmu sakit?" Dia menoleh ke arahku membersihkan apa yang ditinggalkannya denganku dengan tissue.
"Tidak. Aku suka..." Aku tertawa cekikikan sekarang. Pipiku mema*nas di bawah tatapan matanya.
"Kekasih na*kal... kau suka."
"Kau hanya milikku..."
"Aku memang hanya milikmu. Bahkan mereka tidak bisa mendapatkan namaku. "Apa kau melakukannya karena cemburu?"
"Tidak, karena aku menyukaimu..."
"Kau menyukaiku. Baru sekarang kau mengakui itu, perlu dia orang gadis tadi yang memanasimu."
"Sudah kubilang bukan karena itu." Aku sebal karena dia terus membicarakan gadis itu.
__ADS_1
"Baiklah-baiklah, maaf hanya aku terlalu senang sekarang. Aku mencintaimu... dan kau mencintaiku. Bukankah begitu."
Aku tak perlu menjawabnya, karena semuanya nampaknya semuanya sudah jelas.