TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 3 Part 5. Paris 1


__ADS_3

"Dia benar-benar akan mengejarku Mama. Nathan itu nampaknya bersedia dengan sukarela ikut rencana keluarganya."


"Si bungsu dari keluarga Chow. Kurasa dengan dia bisa masuk maka dia akan mengamankan posisi di keluarganya, tentu saja dia akan setuju."


"Dia bahkan bersedia berkantor di Shanghai, aku sudah sangat terganggu dengan tekadnya itu sekarang."


"Tolak saja terang-terangan. Lama kelamaan juga dia akan tahu dia tak bisa mendapatkanmu, kecuali kau memberinya kesempatan, kau akan pusing sendiri nanti..."


"Aku tak akan memberinya kesempatan Mama."


"Kau ingin Mama jodohkan dengan seseorang? Mama bisa mengusahakan kencan buta, siapa tahu kau suka." Mama tertawa di seberang sana.


"Tidak! Tidak, aku tidak mau." Aku hanya ingin bertemu seseorang dengan normal, tidak mau punya perasaan aku akan dimanfaatkan.


"Baiklah, jika dia berani macam-macam dqn kelewatan telepon Mama, Mama akan datang sendiri ke keluarga Chow dan menuding mereka."


"Iya Mama. Besok aku ke Paris, kau mau dibawakan sesuatu dari sana? Aku bisa ke Hongkong dulu sebentar."


"Hmm...tidak, Mama sedang pusing dengan proses persidangan dan media disini. Jika Mama ingin sesuatu Mama akan meneleponmu."


"Baiklah."


Aku sudah di bandara keesokan sorenya, siap untuk penerbanganku ke Paris. Ini akan memakan waktu 12,5 jam, untungnya berkat kerja menghadiri makan malam tiga jam kemarin, aku merasa tak bersalah merubah kelas penerbanganku ke kelas bisnis.


Aku mengantri di line check in ketika seseorang menyapaku.


"Cherrie Wong?" Aku berbalik.


"Kak Cheng? Kebetulan sekali." Kejutan menyenangkan ternyata, bertemu lagi dengannya.


"Ahh ya, sangat kebetulan, mau kemana?"


"Paris."


"Ohh penerbangan jam 7?"


"Iya. Jangan bilang kalau kau juga mau ke Paris? Kau sedang mau melihat fashion show juga?" Dia langsung terbahak.


"Aku mau ke Toulouse, satu jam penerbangan lagi dari Paris, tapi harus transit dulu ke Paris. Jelas bukan untuk fashion show."


"Ada apa di Toulouse?"


"Ada undangan dari Airbus Corporate Jet, banyak jet kami dari Airbus. Kantor utama mereka di Toulouse."


"Begitu ternyata."


"Kau harus maju,..." Dia menunjuk antrian ke depan yang sudah berjalan.


"Kau dikelas apa Kak Cheng?"


"Bisnis."


"Ohh sama? Keberatan satu row denganku? Kau membawa teman? Ini akan jadi penerbangan membosankan." Kulihat di belakangnya tidak ada orang.


"Tentu, aku juga senang ada teman mengobrol."

__ADS_1


Kejutan menyenangkan aku punya teman mengobrol, jika tidak aku akan melewatkannya dengan tidur yang tak lelap dan membaca. Kali ini aku punya teman seperjalanan yang tampan.


Kami sudah duduk menunggu di ruang tunggu untuk penerbangan setengah jam berikutnya.


"Kekasihmu tak ikut?" Dia pasti bicara soal Nathan.


"Nathan Chow bukan kekasihku Kak Cheng, dia hanya sedang berusaha keras kemarin." Kak Cheng meringis kecil mendengar kata-kataku.


"Tapi nampaknya Ayahmu setuju, buktinya dia ada di sana juga, bersama dengan keluarga Chow."


"Ya kelihatannya memang seperti itu. Tapi intinya aku tak menyetujui apapun soal itu. Tak akan pernah..."


"Bisa begitu ternyata?"


"Ya bisa, karena aku tahu itu hanya membuatku jadi pion, lagipula Mamaku tak setuju tentu saja." Aku terang-terangan saja.


"Mamamu ... Mereka bukannya sedang bertengkar di Hongkong sana."


"Hmm, begitulah."


"Ternyata begitu. Nampaknya keluarga Chow ingin terlibat di perusahaan Ayahmu yang dalam sengketa, dan bayarannya..." Dia melihatku lalu ternyata dia bisa membuat kesimpulan kasar dengan cepat.


Aku mengangkat bahu dengan kesimpulannya yang tepat itu. "Perselisihan keluarga memang memusingkan, aku lebih baik tak membaca berita apapun dari Hongkong sana."


"Ya, bisa dimaklumi. Kasus keluargamu memang jadi berita publik sekarang."


"Kak Cheng, umurmu berapa?"


"Aku? 38, kenapa?" Dia tersenyum.


"Iya belakangan aku sering di Shanghai, kami banyak menangani milliarder di China daratan yang ingin punya pesawat pribadi tapi tak ingin terbeban biaya terlalu tinggi, jadi kami menawarkan sistem kemitraan dengan menjadikan pesawat mereka bisa dicarter juga. Mereka tak usah pusing dengan segala macam biaya perawatan, punya pesawat yang siap membawa mereka kemanapun, bahkan punya kesempatan untuk mendapatkan modal kembali dengan menitipkannya ke kami. Armada kami berkembang banyak karena ini."


"Ternyata begitu."


"Istrimu disini juga." Aku tak yakin apa dia sudah menikah atau belum.


"Aku bercerai empat tahun lalu."


"Oh,..." Ternyata dia duda tampan. "Maaf...maaf, aku hanya penasaran Kak Cheng. Maaf menyinggung hal pribadimu."


"Tak apa." Dia tersenyum kecil. Duda, seperti Ko Derrick suami Cece Anita. Mereka sudah menikah sekarang, sudah berbahagia, sedikit menyesal karena dulu aku pernah membuat masalah dengan Cece.



"Kenapa kau jadi diam, kau menyesal satu row denganku?" Dia malah bertanya hal yang lucu.


"Ehm... tidak-tidak, aku hanya teringat seorang teman yang juga punya status sama. Kak Cheng kau itu sens*itif sekali..." Dia tertawa karena aku menyindirnya sen*sitif.


"Pernikahan memang tak gampang bukan, cinta tak menjamin apapun." Aku bicara sendiri karena melihat kedua orang tuaku. Padahal awal mereka bersatu itu penuh perjuangan, tapi mereka malah membuangnya begitu saja.


"Ya, begitulah. Tapi tanpa cintapun akan terasa hambar, aku juga bukan pakarnya. Jadi kurasa mungkin itu keberuntungan jika kau menemukan orang yang tepat dan dua pihak mau saling ... berusaha berkompromi dan punya komitmen."


"Dua pihak mau saling berusaha berkompromi dan punya komitmen ..." Aku mencerna kalimat itu. Karena aku belum pernah ada di sana aku tak tahu artinya, tapi aku tahu aku orang yang egois kadang.


Aku tahu itu mungkin akan menyulitkanku di masa depan. Kompromi, saling berusaha, aku sendiri binggung bagaimana mengusahakan itu.

__ADS_1


"Membingungkan bukan,... Hanya tahu jika sudah dihadapi sendiri. Single yang belum masuk ke pernikahan tidak akan tahu bagaimana rasanya. Tak usah kau pikirkan." Dia tersenyum padaku.


"Ya kukira Kak Cheng benar. Tak usah dipikirkan."


Kami mengobrol hal-hal umum kemudian, aku jadi tahu dia bisa menerbangkan pesawat, dia senang berada di dunia aviasi ini, dia bisa menjelaskan banyak detail soal penerbangan dan pesawat, aku melongo seperti anak murid mendengarkan gurunya bercerita, sementara cabang perusahaan keluarga Cheng di financing dan perhotelan di pegang adiknya, dia fokus dari awal kariernya ke satu perusahaan.


"Panggilan boarding, kau jangan terpesona begitu mendengarku bercerita." Aku tertawa, sama sekali tak mendengarnya.


"Kak Cheng nampaknya sangat menguasai pesawat, mendengarmu seperti mendengar donggeng dunia lain."


Kami mengantri bersama penumpang lain boarding di pesawat. Kemudian duduk bersama dalam satu row yang lega karena ini kelas bisnis.


"Biar kubantu..." Aku membawa koper kecil bersamaku yang muat ke bagasi atas pesawat. Sementara nampaknya dia hanya membawa travel bag ringkas.



Aku duduk dekat jendela sementara dia mengambil baris luar. Perjalanan panjang ini akan terasa menyenangkan kurasa. Tak lama setelah take off, makan malam mulai dibagikan. Kami sibuk mengomentari makanan kami.


"Suka foei gras?" Dia bicara tentang hati angsa makanan kebanggaan nasional Perancis.


"Tidak, memakannya aku ngeri membayangkan angsa-angsa yang di berikan selang. Aku tak sanggup makan diatas penderitaan mahluk lain. Aku menjunjung hak asasi binatang untuk diperlakukan lebih baik, walaupun jika jamuan mau tak mau aku harus makan, tapi jika membeli aku tidak akan melakukannya."


Dia tersenyum pernyataan dengan pembelaan hak asasi binatangku.


"Kau menyukainya bukan?" Aku menunjuk ke arahnya, menuduhnya langsung karena dia terang-terangan membicarakannya tadi.


"Itu enak sebenarnya..." Dia meringis. "Yah tapi kau benar soal hak asasi binatangnya. Mereka kejam melestarikan makanan seperti itu."


"Kak Cheng, kau hanya mencari tempat aman disini." Dia menyukainya, hanya setelah pidato panjang lebarku, dia tak berani mengatakannya terlalu banyak.


"Kau benar." Dia tertawa sekarang. "Baiklah, jika kita punya kesempatan makan aku tak akan mengajakmu makan itu."


"Kak Cheng serius? Makan malam? Kapan kau kembali dari Toulouse?"


"Aku hanya sekitar 3 hari disana, tanggal 16 siang dan 17 aku di Paris, tapi 17 sore sudah kembali." Dia serius, dia memberikan jadwalnya. Aku mengecek jadwalku untuk 16 malam.


"Aku seminggu disini, 16 malam kalau begitu?"


"Boleh, berikan alamat hotelmu nanti aku akan mencari restoran dekat sana. Di restoran hotel juga boleh." Kami jadi janjian makan malam di sela jadwal kami ke Paris.


"Tapi ini jangan sampai ke pengagummu itu oke. Aku nanti kena masalah karena dia sedang mengejarmu." Dia malah mengkhawatirkan Nathan.


"Aku tadinya berniat menjadikanmu tameng, kau tak ingin menolongku sebentar..." sekarang aku menggodanya. Tapi mukanya jadi serius. "Kak Cheng aku bercanda oke. Kau jangan terlalu takut." Aku tertawa dan langsung menarik godaanku melihat muka seriusnya.


Pembicaraan mengalir kemudian, dia orang yang enak diajak bicara ternyata. Berlawanan dengan kesan awalnya yang agak angkuh, jika kau dekat dia ternyata orang yang hangat.


"Tidurlah... ini sudah lewat tengah malam..." Banyak penumpang yang sudah menggelapkan lampu di tempat duduknya. Kami bicara sampai lupa waktu. Penerbangan panjang antar benua ini sudah lewat 4 jam tanpa terasa.


"Hmm...aku akan tidur. Kali ini tidurku di pesawat ditemani pria tampan. Tak buruk, kurasa besok di Paris keberuntunganku bagus semoga aku dapat banyak diskon..." Dia tersenyum mendengar kata-kataku. "Malam Kak Cheng..." Aku menurunkan posisi kursi dan menaikkan sandaran kaki. Membuka selimut yang tersedia.


"Selamat malam ..." Suara menemaniku menutup mata.


Baru kali ini ada teman berbagi cerita begini di perjalanan jauh. Aku memang sedang beruntung, duda ganteng ini membuat perjalanananku menyenangkan. Ada yang mengucapkan selamat malam padaku hari ini disampingku.


Duda, ... bagaimana rasanya, dengan yang berpengalaman seperti dia.

__ADS_1


Sekarang aku bermimpi terlalu jauh, aku menghapus bayangan dikepalaku, ini tak baik untuk kesehatan hatiku.


__ADS_2