TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 5 part 2. First Meeting


__ADS_3

Latar belakang cerita. Sekilas info


Daniella Ignatova ada di dunia, nama aslinya adalah Ruja Ignatova, kebangsaan Bulgaria, yang telah buron sejak 5 tahun lalu , sekarang jadi TOP 10 buronan TOP FBI dan menipu dengan mendirikan cryptocurrency sendiri yang bernama OneCoin.



Bedanya adalah sebenarnya cryptocurrencynya ini tidak dilengkapi dengan blockchain, sistem yang seperti ledger yang menjamin bahwa mata uang itu valid, tapi ternyata dia mengatur kenaikannya sendiri malah sistemmya seperti ponzi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Aku setuju, aku akan mengerjakannya secara sempurna, tapi aku boleh minta sesuatu secara pribadi." Dia diam sebentar.


"Sesuatu yang pribadi?Katakan..."


"Aku mendengar sedikit soal Gary Hopkins yang akan segera menikah tiga bulan lagi dengan Keira Mckellan, tapi dia berselingkuh dengan Kate Connery, bisakah kau masukkan foto perselingkuhan mereka ke tabloid."


"Gary Hopkins? Mantanmu bukan? Kau masih mengingat bangsat itu, sudah empat tahun Julie." Sekarang dia bicara sebagai teman yang sudah mengenalku empat tahun.


"Thomas,... ini permintaan pribadi."


"Baiklah, anggap sudah dikerjakan, akan kuurus, itu soal mudah. Tim pendukungmu yang biasa, Kelly, Ron dan John akan ikut. Siap-siap dengan jadwalnya mungkin minggu depan, mereka sudah menyelesaikan dengan schedulemu, disesuaikan dengan fashion week di NY."


"Baik, jangan terlalu lama memberi tahu schedulenya. Aku perlu bersiap-siap."


"Oke, nikmati makan siangmu." Dia berhenti kupikir dia akan memutuskan telepon. "Julie, tidakkah kau seharusnya bersyukur kau tahu sebelum kau menikah dengan bangsat itu. Dia tak pantas masih kau pikirkan setelah empat tahun. Kau menyiksa dirimu sendiri." Aku tertawa miris, mungkin dia benar.


"Aku bukan malaikat Thomas, aku mau pembalasanku sendiri. Setelah ini aku akan selesai mengusiknya."


"Benarkah ... pembalasan dendam tidak menghasilkan apa-apa, hanya kau yang semangkin teronsesi, entahlah kupikir kau menyiksa dirimu sendiri. Harusnya kau hanya harus percaya tak semua orang buruk seperti dia."


"Ya mungkin kau benar." Sayangnya sampai sekarang aku tak percaya. Tak semua orang seperti dia? Dengan posisiku sekarang, siapapun akan memandang berbeda, dulu aku terlalu naif. Entahlah mungkin Thomas benar, aku harus mencoba percaya.


"Oke, bilang Kelly jika kau menemukan kesulitan oke. Jangan lupa rusak memori cardnya, kau bisa mengakses data kasusmu di program." Aku punya datanya di ponselku, tapi data itu tersembunyi dan tak bisa di temukan kecuali aku mengetik perintah syntax khusus di sebuah program yang disamarkan sebagai memo.

__ADS_1


"Oke." Dia pergi dan aku kembali ke diriku.


Louis Richard Allen, tugas selanjutnya. Tampan, 38 tahun, nampaknya menarik. Orang tampan selalu merasa dirinya superior. Aku hanya wanita lemah. Sayang, baik-baiklah padaku.


...--------...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...--------...


September, bulan dimana cuaca paling ramah bagi siapapun di NY, musim gugur, suhu menyenangkan antara 16-24°C, Central Park akan mulai memerah diliputi suasana musim gugur di akhir bulannya.



Aku hanya menerima hanya beberapa fashion show tahun ini, lebih menikmati waktuku, karena aku juga sudah bekerja di proyek film dan menjadi brand ambassador tahun ini. Karierku sedang di puncaknya bisa dibilang.


"Nona, charity partynya besok di Ziegfield Ballroom, kau akan di perkenalkan sebagai bintang tamu di depan, aku bisa mendapatkan meja yang sama dengan targetmu." Kelly tetap meneleponku walaupun aku sudah membaca brief mereka. Sebuah charity party untuk sebuah yayasan penelitian dan support kanker lymphoma.


"Tidak, satu adik perempuannya dan Ayah Ibunya masih sehat. Ini lebih kepada annual event bagi mereka."


"Mengerti." Aku adalah pekerja seni, kami terbiasa ramah pada siapapun, jadi akan lebih mudah mengobrol dengan siapa saja. Walaupun dia melakukan pengecekan latar belakangku. Latar belakangku bersih, gemerlap, dan memanjakan mata seperti penampilanku.



Dan tibalah aku di acara, sesuai dengan statusku sebagai bintang tamu dan sekaligus donatur yang membawa nama perusahaan Ayah. Aku tampil cantik dengan busana pestaku, membuka acara bersama Ketua Yayasan, sementara timku berada di dekat sini, jika aku membutuhkan support mendadak.


Setelah sesi dengan Ketua Yayasan, charity berisi laporan tahun lalu, aku bisa kembali ke mejaku, sebelum sesi bebas yang di isi oleh acara hiburan mulai berlangsung.


Aku melihatnya, pria tampan itu dengan mata dan rambut gelapnya. Aku agak kebal dengan ketampanan, karena bekerja di lingkungan yang rata-rata tampan. Aku menyalami dengan ramah semua yang ada di mejaku termasuk Louis, tidak menargetkannya secara khusus di awal acara untuk menghindari kecurigaan tentu saja.



"Kau Julie Harris, brand ambasador perhiasan Cartier, dan Aigner bukan." Dia yang pertama mengajakku mengobrol, nampaknya dia sudah melakukan riset kecil di internet.

__ADS_1


"Ahh iya, Tuan ... Louis." Aku memberi jarak pada kalimatku, yang menyatakan aku tak begitu ingat namanya, kamulfase. "Maaf aku agak buruk mengingat nama, ini memalukan kadang, aku harus berusaha lebih baik."


"Tak apa, Nona Julie, bukan kau saja yang melakukan itu." Ahh dia berusaha memberikan persamaan yang bagus. Dia sedikit mendekat.


"Kau duduk di depan, setidaknya perusahaan atau Anda pribadi adalah donatur besar. Terima kasih untuk partisipasi Anda, saya mewakili Ketua Yayasan, itu tugas saya."


"Kau baru nampak tahun ini. Baru pertama ikut?"


"Ahh iya, ini pertama kalinya aku ikut yang ini. Kami mendapatkan undangannya, Papa mengutusku ikut, jadilah aku membantu sebagai bintang tamu. Sebentar lagi aku harus bertugas berkeliling bersama Ketua Yayasan."


"Saya mengerti saya tidak akan menahan Anda disini tentu saja."


"Ohhh bukan, saya hanya minta maaf duluan. Senang punya teman mengobrol yang enak dilihat." Aku sedikit memujinya, dan memberi senyumku. "Datang sendiri ke sini, pria setampan kau tidak punya pendamping. Kau sulit heh? Mau kukenalkan dengan temanku?" Dia tertawa dengan penawaranku.


"Aku memang sulit. Tak diragukan."


"Ehmm... kau pencinta kebebasan nampaknya. Sukses, pimpinan, tak suka di kekang. Kau memang sulit, tak diragukan."


"Kau juga sama, sukses, dan tak perlu pria."


"Kau sudah melakukan riset lengkap terhadap lawan bicaramu secepat itu?" Aku menaikkan alisku padanya.


"Tadi di depan kau lama."


"Ahh, sama sekali tidak menyia nyiakan waktu. Mau mentraktirku makan malam?" Dia melihatku sambil tersenyum, berpikir sedikit sebelum hendak menjawab. "Kau terlalu banyak berpikir, penawaranku batal." Aku langsung menarik diri dengan cepat. Timingnya pas setelah orang di depan selesai bicara, jadi aku harus berkeliling dengan Ketua Yayasan charity ini.


"Ohh ayolah, itu tidak adil Nona Harris." Tidak, aku tak akan menebar jaring di pertemuan pertama, itu terlalu mudah di tebak.


"Berarti kita tak punya takdir Tuan Louis." Aku mengedipkan mata padanya. "Mungkin jika kita bertemu lagi, kita bisa makan malam."


Aku melambaikan tanganku padanya dan berlalu dengan cepat.


Pertemuan kedua akan segera di rencanakan Louis yang tampan. Sayangnya aku tak percaya takdir.

__ADS_1


__ADS_2