
Tiba di kantor, aku benar-benar melihat Nathan Chow, berjalan di selasar lantai direksi. Aku yang mau ke ruangan Paman terpaksa harus berpapasan dengannya.
"Wah, wah Tuan Putri Wong, hari ini ke kantor rupanya."
"Aku kesini memang bekerja. Bukan seperti kau yang jadi pengamat. Sebaiknya kau kembali ke hotelmu saja. Kau sebelumnya dipercaya mengelola hotel dan pub bukan."
Aku meninggalkannya, malas berbicara dan bertengkar menghabiskan waktuku.
Papa Lam meneleponku sebelum aku sampai di ruangan Paman.
"Papa ada apa?"
"Papa dengar kau kembali ke Hongkong? Kakak Iparmu yang bilang?"
"Iya, aku terlibat kasus Papa dan Mama."
"Bukannya kau tak mau terlibat?
"Kupikir Papa dan selingkuhannya itu sudah keterlaluan menghina Mama, jadi aku memutuskan untuk kembali ke kantor."
"Kemarin Papa di hubungi keluarga Chow, nampaknya mereka mencari investor baru untuk masuk ke Shing Wang dengan imbalan kerjasama di bidang lainnya. Lalu satu lagi, mereka menawarkan opsi pembelian saham preferred dengan nilai dibawah harga pasar untuk mendapatkan tambahan modal cepat. Kau sebaiknya berhati-hati dengan perhitungan akhirmu."
"Benarkah. Terima kasih sudah memberitahuku Papa."
"Jika kau meminta bantuan Philip, pastikan kau memasukkan perhitungan ini, entah berapa counternya tapi kau nampaknya harus segera mengumumkan koalisimu, dan mencari beberapa investor baru."
"Papa, apa papa mau bergabung? Aku menerima bantuan sekarang."
"Apa tidak akan menjadi masalah buatmu? Tapi jika kau mau Papa atur melalui broker dari Philip?"
"Aku perlu semua bantuan. Mama di titik yang kurasa tak akan menentang yang lagi apa yang kulakukan. Lagipula itu sudah belasan tahun berlalu papa. Aku akan bilang jika semuanya tenang nanti."
"Baiklah jika kau berkata begitu, nilai yang Papa bisa masukkan akan Papa beritahukan padamu. Deadline kapan?"
"Terima kasih Papa. Kurasa dalam waktu tiga bulan sebelum aku merencanakan undangan makan malam terbatas pemegang saham...Akhir April."
"Oke."
Aku nampaknya harus berusaha lebih keras lagi sekarang. Kukatakan apa yang kutahu kepada Paman, sambil menyusun poin-poin kesepakatan kami. Kami setuju kami harus berusaha lebih keras mencounter keluarga Chow.
Nampaknya aku harus mencari lebih banyak pendukung entah di Hongkong atau Shanghai.
\=\=\=\=\=\=\=
Beberapa hari aku sibuk menghubungi banyak orang, aku belum menelepon Kak Cheng sama sekali dan dia tak meneleponku selain untuk mengatakan mantan pacarnya akan mencarinya kemarin. Aku melupakannya, jangan-jangan dia sudah tergoda dengan Maggie di Shanghai sana.
"Koko,... bagaimana kabarmu?"
"Aku baik tapi kau kedengaran lelah disana."
__ADS_1
"Aku baru balik dari ketemu beberapa orang, jadwalku penuh. Aku masih di mobil sekarang sebenarnya. Sebentar lagi sampai. Kupikir kau sudah tidur."
"Sesuatu terjadi?"
"Iya, Papa Lam memberitahuku bahwa keluarga Chow bahkan berani mengeluarkan preferred stock untuk menarik dukungan, bahkan dengan bantuan Philip Leung ini tak akan mudah. Mereka menawarkan imbal hasil lebih jelas."
"Preferred stock? Benarkah? Itu hal serius."
"Tak heran Papa bilang aku perlu 15% bahkan lebih untuk mengalahkannya, aku tak menyangka sebegitu besar. Dalam jangka enam bulan, entah apa yang kudapatkan. Maggie Chow sudah menemuimu? Kupikir kau sudah bertemu dengannya? Kau tak menelepon sama sekali..." Dia tertawa kecil.
"Kenapa? Apa yang kau takutkan?"
"Entahlah mungkin selain preferred stock dia menawarkan preferred yang lain." Koko tertawa, aku terang-terangan saja. Mereka pernah pacaran, itu sebuah keuntungan untuk Maggie. Aku hanya pernah menciumnya, itupun dengan paksaan.
"Belum. Aku belum menemuinya. Makanya aku tak tahu dia menawarkan preferred stock dari perusahaannya sendiri. Mereka berani all out kali ini, kurasa dia benar-benar mengharapkan anaknya bisa bercokol di sana."
...\=\=\=\=\=\=●●●●\=\=\=\=\=\=\=...
...*Saham preferen/istimewa/ preferred stock merupakan jenis saham yang memberikan pendapatan tetap berbentuk dividen....
...Bentuk dari saham preferen adalah surat berharga komersial yang dijual oleh perusahaan saham. Penerimaan pendapatan dalam saham preferen menggunakan sistem kuartal dengan jarak triwulan*....
...\=\=\=\=\=\=●●●●\=\=\=\=\=\=\=...
"Aku juga berpikir begitu. Sampai dua orang anaknya yang turun tangan, bahkan kau pun di sasar."
"Kau jangan patah semangat dulu. Masih ada waktu walaupun kita tak bisa mengeluarkan preferred stock, kekuatan group Philip Leung bisa sangat membantu, katakan saja apa yang mereka lakukan. Aku dan Ayah pasti mencoba menbantumu."
"Kau tak punya opsi untuk investor di common stock?"
"Ada tapi cuma penurunan 3%, itupun hanya diberikan dengan jika jumlah 1% dari nilai kapitalisasi."
"1%, akan kuhubungi beberapa orang broker di Shanghai, dan aku akan bicara dengan beberapa teman."
"Kapan kau bertemu Philip?"
"Tiga hari lagi. Dia meminta pertemuan di akhir pekan. Nampaknya karena ini baru pertemuan awal. Belum menyentuh hal teknis yang sebenarnya."
"Aku akan ke Hongkong hari Jumat malam oke. Aku cukup dekat dengan Philip, mungkin aku bisa membantu memperlancar kesepakatan."
"Ohh begitu, baiklah."
"Kita bertemu akhir pekan jika begitu."
Tapi nampaknya dia akan tetap bersamaku sampai akhir, karena ini sudah keputusan keluarganya.
Aku hanya harus mempercayainya kurasa. Soal kami, harus melihat setelah enam bulan ini. Entah kami menang atau kalah, entah kami berlanjut atau tidak.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Kesepakatan terjadi dengan lancar. Dua bulan kemudian kami sudah menyiapkan undangan terbatas untuk pemegang saham yang kami targetkan.
Beberapa nama investor kami dapatkan, kami membuat kemajuan, walau kami harus masih berusaha lagi karena nampaknya kami belum aman.
Maggie nampaknya tidak berhasil membuat perubahan apapun dengan keluarga Cheng. Walaupun hubunganku dan Kak Cheng juga masih biasa saja, tak ada yang berubah walaupun kami masih baik-baik, dengan tujuan yang sama dan tak punya perselisihan apapun.
"Aku sangat senang. Philip bilang dia juga akan melepas preferred stock khusus, tapi dengan syarat 2% atau membawa keseluruhan group 2%." Hari ini kami sudah berangkat ke acara makan malam dengan para pemegang saham yang kami targetkan akan berpindah pihak.
"Nampaknya Philip terpancing menantang keluarga Chow yang berkoar-koar ingin mengalahkannya dari lama, baginya ini permainan."
"Iya aku juga berpikir begitu. Tapi baguslah setidaknya pekerjaanku melobi jadi lebih mudah. Seperti ada cahaya di ujung lorong."
"Ayahmu sudah tahu?"
"Belum uangnya sudah masuk, tapi masuk ke pembelian disebar oleh broker yang tidak diasosikan ke Philip tapi dia yang memegang kuasanya. Tapi setelah malam ini mungkin dia akan langsung tahu dan mengamuk. Bagaimanapun Philip Leung selalu berseberangan dengan kami. Dia pernah memperingatkanku soal ini. Setelah malam ini hubungan kami akan benar-benar memburuk."
"Jadi? Bagaimana perasaanmu soal itu?"
"Ya sudah, itu memang sudah terlanjur buruk beberapa bulan ini. Bisa-bisa aku tak diakui anak lagi besok. Dia tahu yang mungkin punya hubungan ke Philip adalah aku. Apalagi kalau dia tahu aku berbaikan dengan Papa Lam mungkin dia akan mencoretku dari ahli waris."
Seperti dulu hubunganku dengan Papa Lam juga pernah memburuk, sekarang malah kebalikan dengan Ayah kandungku sendiri.
Hidup ini memang aneh bukan.
"Kau pasti sedih."
"Hmm... siapa yang tidak sedih keluarga yang tadinya baik-baik saja ternyata berantakan. Aku malam ini mungkin menunggu bom waktu meledak. Paman bilang padaku sebaiknya aku tak masuk ke kantor sampai pergantian direksi, tensi orang-orang di sana sudah terlalu tinggi, salah-salah pertikaian kami menganggu proyek, kupikir dia benar juga."
"Semuanya sudah di sini, ... Mungkin lebih baik kau memang tak bertemu dengannya dulu, biar Ibu dan Pamanmu yang menghadapinya."
"Hmm..." Aku cuma menggumam. Aku diam. Ayah kandungku akan membenciku karena membawa masuk musuh abadinya ke perusahaan.
"Tak apa, semuanya akan baik-baik saja." Kak Cheng dengan manis merangkulku. Baru sekarang dia melakukan sesuatu yang seperti ini. Aku sedih, sekali lagi aku mungkin akan kehilangan Ayah. Rasanya hal yang sama berulang lagi sama seperti belasan tahun yang lalu, entah kenapa rasanya sama.
"Rasanya menyedihkan tak diakui anak lagi." Aku tertawa, tapi sekaligus menangis. "Keluarga ini memang benar-benar kacau."
"Kau belum tahu itu. Dia Papa, ..."
"Aku sangat tahu, aku mengenalnya."
"Ya sudah akui itu perbuatan Ibu dan Pamanmu. Papamu bersikap licik, kau juga harus licik sedikit. Jangan bodoh, jangan mau dicoret jadi anak dan menyerahkan bagianmu ke adik tirimu." Aku melihatnya sambil meringis dan menghentikan tangisku.
"Koko ini... benar-benar pengambil keuntungan." Dia tertawa.
"Aku benar bukan. Apa aku salah, kenapa kau menanggungnya, Ibumu juga pasti mau diajak kerjasama soal mengakui hal seperti itu. Tenang kau masih dianggap anak..." Dia masih merangkulku dan tersenyum lebar.
Aku ikut meringis.
"Benar juga ini buat membalas dendam untuk Mama...." Aku mencoba membenarkan diriku sendiri sekarang.
__ADS_1
bersambung besok......