
"Sudahlah, ayo ikut." Akhirnya dia naik ke atas. Aku hanya mengikutinya.
"Orang tua, mereka hanya mempermainkan kita." Aku tersenyum saja dan mengikutinya ke atas kondominium dua lantai itu. "Kau selalu kembali di sini kalau ke Hongkong?"
"Tidak, aku punya unit di Mid Level, aku kembali besok sore, Mama menyuruhku kesini." Kami tiba di sebuah pintu. "Masuklah."
Aku masuk ke sebuah kamar dengan dominasi warna coklat dan abu-abu, sesuai dengan keseluruhan warna rumah ini. Aku duduk di sofanya, kamar luas itu punya sofa yang lega. Aku duduk di sana dan mengambil ponselku, tidak aku tak akan menggoda Kak Cheng.
Dia duduk di sampingku agak jauh.
"Kau akan kembali ke Shanghai?"
"Hmm, minggu depan. Ada yang harus kulakukan di Hongkong." Diam lagi, aku mencari kesibukan dengan ponsel di tanganku, tidak memperdulikannya. Dia juga diam.
"Sorry, Mamaku memang keterlaluan."
"Iya tak apa. Kau mau main game mungkin? Anggap saja aku tak ada."
Aku cuma melihat sekilas padanya. Lalu ke ponsel lagi. Kak Cheng berusaha aku tak terlibat padanya nampaknya.
Ya sudah, aku mengerti, hanya disuruh duduk di kamar saja. Bukan masalah bagiku. Kalau dipikir-pikir memalukan mengatakan hal yang seperti kemarin. Rasanya seperti di dorong ke belakang sekarang.
"Atau begini saja, kau terganggu aku disini, aku berpura-pura pusing dan harus pulang cepat." Aku beranjak dengan kesal, dan berjalan untuk membuka pintu. Dia menahan tanganku.
"Aku tidak bemaksud begitu? Jangan marah, duduklah lagi..."
"Aku menganggumu bukan? Aku pulang saja? Aku bisa membuat alasan ke Paman dan Bibi." Aku melepas tangannya dan mengapai pegangan pintu.
"Kau tidak mengganguku, aku hanya merasa Mama keterlaluan menaruhmu disini seperti itu. Kau salah paham maksudku." Dia menutup pintu dengan menyelipkan dirinya antara aku dan pintu. Membuat aku tak bisa maju lebih jauh. Koko yang terlalu sopan ini membuatku kesal sekarang.
Tapi karena aku perlu dukungannya aku terpaksa mundur dan duduk lagi ke sofa lagi tanpa bicara.
Kadang dia baik, kadang dia menyebalkan. Apa dia pikir aku akan mengejarnya dan membuatkan perangkap untuknya.
"Koko, aku tak akan mengejarmu. Kau jangan khawatir, plus aku tak akan menyiapkan perangkap untukmu." Aku blak-blakan bicara dengannya.
"Aku tak peenah berpikir kau akan menyiapkan perangkap." Dia tertawa dan duduk disampingku.
"Baguslah." Aku tak mau bicara padanya. "Kalau begitu aku akan duduk saja disini dan tak menggangumu."
Dia diam melihatku.
"Kau mau mendengar cerita?"
"Cerita apa?"
"Nama mantan istriku Kara Hui, putri Edison Hui, kami dikenalkan oleh orang tua kami, saat aku menikah 6 tahun lalu dia berusia sekitar 26 tahun, cukup dewasa secara umur..."
Tiba-tiba dia bercerita tentang istrinya. Membuatku menoleh padanya.
"Kami berpacaran cukup singkat, cuma 1 tahun, dia cantik, aku dengan mudah menyukainya, manis, sedikit manja kukira awalnya, aku tak keberatan kupikir itu normal. Kemudian kami menikah dan orang bilang saat kau menikah kau baru mulai tahu bagaimana sifat sebenarnya, ...dan akhirnya aku menemukan yang sebenarnya. Saat itu aku sudah mulai bekerja di Shanghai, kami tinggal di Shanghai. Dia cemburu pada assisten yang sudah punya anak 2, dia sering datang ke kantor tanpa alasan, kadang memarahi assistenku karena sering menelepon dan mengirimiku pesan, ya jelas dia mengirimiku pesan, dia mengupdate apa yang perlu ku ketahui, dia assiten yang cekatan sudah 4 tahun bekerja bersamaku, sampai akhirnya assistenku sampai mengundurkan diri minta posisi lain, awal perselisihan kami di bulan ke 6 kami menikah, dia tidak berhenti sampai situ, aku menurutinya berganti assisten, tapi sama dia juga cemburu pada assisten lainnya, akhirnya hanya sebulan aku harus berganti assiten ke laki-laki."
Aku melongo saja mendengat dia bercerita.
"Lalu dia kadang meminta liburan saat aku sedang padat jadwal meeting, meminta makan menemaninya makan malam, belanja, permintaan remeh yang membuatku sakit kepala saat mendengarnya padahal aku sedang bekerja. Pergi ke Hongkong tanpa memberitahuku atau entah kemanapun dia tidak pernah meninggalkan pesan. Karena dia pikir aku selingkuh, demi Tuhan aku bekerja, ... kujelaskan berkali-kali, aku harus bertemu siapa, aku membuka semua scheduleku dia malah berpikir aku mengaturnya dengan assistenku. Aku benar-benar tak mengerti bagaimana dia menjadi insecure begitu."
"Kau tak tahu dia punya sifat begitu."
"Tidak, saat pacaran dia tidak pernah bersikap absurd begitu, mungkin karena dia dinasehati Ibunya, masih dekat dengan Ibunya ...lagipula kami masih saling jatuh cinta."
"Lalu?"
"Dari saat assitenku keluar kami sering bertengkar, sampai kemudian karena aku sering lembur dia memutuskan untuk sengaja menunjukkan dia selingkuh karena dia menyangka aku juga selingkuh saat aku bekerja."
"Cerita yang sangat dramatis. ... Mungkin dia pernah dikhianati."
"Entahlah penjelasan apapun tak bisa menenangkannya lagi. Sampai titik aku menyerah menjelaskan padanya. Aku bahkan kemudian berusaha memakai orang ketiga akhirnya, pergi ke counseling pernikahan, tapi kemudian itulah titik terangnya, dalam sebuah sesi pribadi psikolog pernikahan yang menangani kami mengatakan padaku istriku didiagnosa mengidap OCD. Aku pernah melihatnya histeris saat pertengkaran kami. Semua tindakan tak masuk akalnya akhirnya diketahui sebabnya. Keluarga istriku tak pernah membuka ini sebelumnya atau berterus terang putri mereka punya kelainan."
...---💙💙💙---...
__ADS_1
** OCD atau obsessive compulsive disorder adalah gangguan atau penyakit yang menyebabkan pola pikir dan ketakutan yang tidak diinginkan dan membuat pengidapnya melakukan hal berulang dan berperilaku kompulsif.
Obsesi dan kompulsi ini mengganggu aktivitas sehari-hari dan menyebabkan penderitaan yang signifikan. Pengidapnya mungkin mencoba untuk mengabaikan atau menghentikan obsesinya, tetapi tindakan itu justru meningkatkan stres dan kecemasan dalam dirinya.
penderitaan atau kecemasan.
Menurut WebMD , OCD datang dalam berbagai bentuk meliputi:
●*Mengecek, seperti kunci, sistem alarm, oven, atau sakelar lampu, atau mengira Anda memiliki kondisi medis seperti kehamilan atau skizofre*nia*.
●Kontaminasi, ketakutan akan hal-hal yang mungkin kotor atau paksaan untuk membersihkan. Kontaminasi mental melibatkan perasaan seperti Anda telah diperlakukan seperti kotoran.
●Simetri dan keteraturan, kebutuhan untuk mengatur sesuatu dengan cara tertentu.
●Meragukan dan mengalami kesulitan menoleransi ketidakpastian.
●Pikiran agresif atau mengerikan tentang kehilangan kendali dan meulai diri sendiri atau orang lain.
●Perenungan dan pikiran yang mengganggu, obsesi dengan garis pemikiran. Beberapa dari pikiran ini mungkin sulit atau mengganggu.
●Pemikiran tentang meneriakkan kata-kata kotor atau bertindak tidak pantas di depan umum.
●Ketakutan yang kuat untuk melakukan tindakan seksual yang keji. Ketakutan ekstrim menjadi kekeras*an saat berhubu*ngan s**eks. Pikiran atau gambaran yang mengganggu tentang tindakan se*ks*ual yang menyusahkan dengan entitas yang tidak diinginkan, seperti anak-anak atau hewan.
●Menghindari situasi yang dapat memicu obsesi, seperti berjabat tangan.
...___💙💙💙___...
"Aku berusaha, masih berusaha karena kupikir mungkin kami bisa menghadapinya, tapi keadaan tak tambah baik walaupun dengan bantuan profesional, aku tak bisa meneruskannya saat dia malah memutuskan tambah menjauh, psikolog mengatakan ini akan jadi episode berulang dalam hidup kami. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jika kami punya anak kami menghadapi ini. Aku bicara pada keluarga dan akhirnya, Mama sendiri yang menyarankan kami lebih baik berpisah...Dan sampai disitu ceritanya berakhir, aku langsung bicara dengan orang tuaku, orang tuanya, dan mengatakan aku tak sanggup lagi dengan hubungan kami. Aku bersedia memberikan dia tunjangan bulanan selama 5 tahun dan selesai kami bercerai, karena masing-masing dari kami sudah di titik tidak percaya satu sama lain."
Ternyata ada juga cerita yang seperti ini.
"Aku turut sedih mendengarnya."
"Kurasa kemudian aku trauma dengan cara meraba sifat wanita. Semuanya jadi tak masuk akal, hubungan yang baik-baik saja berubah karena cemburu walaupun aku tahu itu karena dia mengidap OCD."
"Setelah aku bercerai dan keadaan tenang, aku mulai menyesal, mungkin jika dari awal aku tahu, kami akan lebih bisa menghadapi ini. Mungkin dari awal aku tak akan mengabaikannya dan malah bukan memarahinya karena merasa kekhawatirannya dibuat-buat. Tapi saat aku tahu keadaan sudah terlanjur memburuk, rasa percaya sudah tak ada, mengusahakan apapun membentur jalan buntu."
"Ibunya bilang mungkin putrinya akan sulit beradaptasi dengan kehidupan pernikahan, mungkin OCDnya dipicu karena kami pindah ke Shanghai juga, lingkungan baru, kehidupan baru tiba-tiba datang padanya. Jadi akhirnya kami berpisah dengan persetujuan keluarga, kurasa dia jauh lebih stabil sekarang. Pernikahan kami bahkan tak sampai dua tahun."
Setiap keluarga punya ceritanya masing-masing.
"Lebih bagus begitu bukan."
"Entahlah kau pikir itu bagus? Aku pernah merasa gagal, di satu titik aku merasa mungkin mengabaikannya di awal tidak menjelaskan dengan benar, padahal tadinya kami baik-baik saja, aku salah menangapinya dari awal. Seperti yang kubilang, andai aku tahu di awal dia punya OCD."
"Jika dia kelihatan lebih bahagia sekarang, yah mungkin itu lebih baik baginya. Kapasitas seseorang menghadapi tekanan dan beradaptasi memang berbeda-beda bukan. Lebih baik kalian berpisah, jika dia menjadi Ibu tekanan yang didapatkannya akan bertambah dan mungkin kau malah mengorbankan kesehatan mental anakmu dan dirimu sendiri."
Sekarang dia duduk bersandar.
"Iya, Ibunya dan Ibuku bersepakat karena itu juga. Hanya aku tak pernah menyangka situasi akan berbalik 180° dengan begitu cepat."
Aku tersenyum, tampaknya di sisi lain dia mencintai gadis itu. Mungkin dia takut aku adalah salah satu psychopath dan OCD juga.
"Kenapa kau tersenyum?"
"Tidak."
"Katakan apa yang ada dalam pikiranmu."
"Kau menyangka aku psychopath." Dia tertawa.
"Kurasa kau memang punya bakat." Giliran aku yang tertawa.
"Kau memang kejam, aku baik hati suka berderma begini kau bilang psychopath."
"Psychopath tahu bagaimana membuat lawannya merasa bersalah."
"Baiklah, kau benar aku memang psychopath."
__ADS_1
"Sayangnya kurasa tak ada psychopath yang dengan sukarela mengakui dirinya psychopath." Ternyata dia masih bisa berpikir lurus juga.
"Kenapa kau cerita."
"Kau sudah cerita banyak tentang dirimu, mungkin aku perlu cerita sedikit tentang diriku.
"Apa tak ada yang mengejarmu?"
"Banyak yang mencoba."
"Lalu?"
"Kurasa aku masih sedikit trauma dengan pernikahan yang tiba-tiba memburuk. Tak ada hubungan yang serius tahun-tahun belakangan. Mama juga nampaknya merasa bersalah mengenalkanku pada orang yang salah. Jadi dia tak pernah mencoba sampai sekarang."
"Koko tak punya kewajiban apapun. Orang tua kita mungkin berharap, mungkin kemarin aku mengatakan padamu aku bersedia menerima syarat, tapi ternyata kau tidak menginginkan syarat seperti itu, aku sangat berterima kasih untuk itu."
"Apa kau menginginkannya?" Tiba-tiba pertanyaannya membuatku binggung menjawabnya. Dia menatapku sedemikian rupa. "Kau pernah bilang kau menyukaiku."
"Itu hanya sedang mengusahakan kesepakatan. Anggap saja aku tak pernah mengatakannya. Lagipula aku punya banyak yang mengejarku." Aku menjawabnya dengan tertawa dan menghindar tak melihat matanya ketika mengatakannya. Kehilangan keberanian kurasa. Jika aku mengatakan aku menyukainya pun akan canggung. Lagipula dia di Shanghai aku akan berada di Hongkong. Bagaimana kami akan bertemu, buat apa aku mengharapkannya.
Aku menyukainya, cara bicaranya yang cerdas, bagaimana kadang dia terlihat misterius membuatku menebak apa yang ada di pikirannya.
Pembicaraan buntu, kami berdiam dengan pikiran masing-masing.
"Aku kenal Philip, nanti kubantu bicara dengannya."
"Kakak ipar sedang mengusahakannya. Aku juga sedang menunggu. Terima kasih kau mau membantu."
"Aku akan kembali ke Hongkong dalam waktu dekat. Cabang di Shanghai sudah bisa beroperasi dengan baik, aku sudah menemukan orang yang bisa mengawasi disana, Papa menginginkanku di kantor pusat Hongkong membantunya. Mungkin nanti kita bisa sering bertemu."
"Ohh,..." Apa artinya dia mengatakan hal seperti itu. Mungkin nanti kita bisa sering bertemu?
"Mungkin nanti aku bisa membayar hutang buket bunganya."
"Apa maksudmu?"
"Aku bukan mengatakan tidak soal hubungan kita, tapi kurasa kita tak bisa saling mengenal jika kita tinggal berjauhan, kontak jarang. Makanya kubilang aku tak bisa memutuskan dalam 7 hari. Sudah kukatakan itu di awal."
"Hmm..." Aku mau tak mau mengulum senyum.
"Kau terlihat senang." Dia juga mengulum senyumnya.
"Berhentilah menggodaku." Aku memukul lengannya dan mendorongnya. "Aku membencimu."
"Baik-baik, orang bilang jika wanita berkata A maksudnya adalah sebaliknya..." Dan dia menahan tanganku dan tertawa sekarang. Aku tambah ingin mencubitnya jika tak bisa memukulnya.
"Lepaskan tanganku. Kau senang sekali mengerjai orang?!"
"Jangan kasar-kasar padaku. Ingat aku pemilik 8% saham plus mininal aku sudah membawa 15% lainnya." Dia masih tertawa karena aku tak bisa melepaskan tangannya.
"Aku tak perduli. Akan kuadukan kau ke Bibi." Dia menarik tanganku kebelakang dan mengunci tanganku dengan memelukku.
"Diamlah, ku cium kau jika masih melawan." Wajah kami terlalu dekat aku bisa merasakan napasnya sekarang.
Sia-sia mengancamku hal seperti itu.
Langsung saja kucium dia. Sekarang dia yang kaget, pegangannya terlepas, kukunci tengkuknya dan kumiringkan kepalaku.
"Jangan mengancamku Koko sayang." Kulepas senyuman kemenanganku ke Kak Cheng yang sekarang terpana menatapku. "Kau benar, kau memang belum mengenalku dengan baik."
Aku tersenyum puas mengerjainya. Kembali ke tempat dudukku sendiri dan menjauh darinya dan bersikap seperti tak terjadi apapun.
Aku menoleh padanya. "Itu hanya ciuman. Jangan terlalu memikirkannya." Senyumku tambah lebar.
\=\=\=\=\=
bersambung besok____ 😁😁😁
Bagi vote dan giftnya yaaa
__ADS_1
"