TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
Part 73. Mencoba Berdamai 1


__ADS_3

Aku dan Ko Derrick memasuki kantor Cherrie, tadinya kami takut dia malah tidak mau menerima kami, tapi ternyata entah bagaimana dia mengizinkan kami bertemu dengannya. Ini seharusnya bertanda  bagus tapi bisa jadi juga dia hanya penasaran.


“Sihlakan Bu,Pak.” Sekertarisnya mengantar kami masuk.  Dia melipat tangannya sambil duduk di kursi besarnya melihat kami. Khas gaya sombongnya, dia tetap memasang pertahanan penuhnya.


“Kalian berdua heh, aku punya banyak kejutan beberapa hari ini , sekarang kalian yang  bisa datang kesini. Mau minta maaf?” Belum apa-apa sudah nyolot.


Menghela napas, sudahlah , bersabarlah, untuk kali ini tak apa aku minta maaf duluan, walaupun ini dia yang salah, yang penting dia mau melihat Papa nanti, tapi kalo enggak ya sudah lain kali  kalau dia cari masalah, di tantang sekalian.


“Iya, aku minta maaf atas pertengkaran kita..., sorry kita lupakan saja apa yang terjadi.” Dia menatapku dengan senyum sinis.


“Kenapa kau bisa minta maaf,  karena  pacarmu memintamu, ini tidak masuk akal bagiku. Dan  gangster ini  kurasa bukan orang yang melakukan sesuatu tanpa alasan, terutama meminta maaf, bukankah kalian sebelumnya memasang gaya setinggi langit padaku, dan bahkan pacarmu itu menantangku, sekalian kalian datang minta maaf, kepala kalian terbentur sesuatu? Apa tujuan kalian?”

__ADS_1


“Cherrie, kau tak bisa mendengarkan orang bicara dulu? Jangan mengajak bertengkar saja?” Ko  Derrick tak sesabar aku.


“Kau juga sama.Kau pikir aku akan memaafkan kalian. Jangan terlalu berlagak jadi malaikat jika kau sudah brengsek.” Cherrie membalasnya sama ketusnya, jika aku tak punya tujuan sudah bubar dari tadi pertemuan ini. Aku memberi Ko Derrick tanda bahwa aku saja yang  akan masuk ke pembicaraan ini.


“Aku minta maaf karena  kita keluarga... Papa tak ingin melihat kita bertengkar satu sama lain. Dan Papa sakit sekarang karena memikirkan kau membencinya, kalian kemarin bertengkar bukan.” Dia diam mencerna kalimatku, semua perkataanku  terlalu tiba-tiba padanya, dia butuh beberapa saat untuk menyadari siapa aku.


“Siapa kau? Papa? Mungkinkah...”


“Aku Anita putri tertua Papa yang di Jakarta. Ibuku sudah meninggal  empat bulan yang lalu. Aku baru berbaikan dengan Papa saat Ibuku meninggal, aku tahu siapa kau sebenarnya kemarin, Ko Derrick memberitahuku. Cuma aku tak suka caramu  meremehkanku. Jadi saat itu aku bertengkar denganmu, tapi apapun itu Papa sekarang sakit, jika kita bertengkar tak akan menyelesaikan apapun...” Dia tertawa sekarang.


“34 tahun aku  hidup dengan membenci Papa jika kau mau tahu, saat aku berbaikan dengannya adalah di pemakaman Ibuku yang meninggal tiba-tiba di dalam tidurnya dan dia tak bisa melihatku memaafkan Papaku,itu nampaknya jadi penyesalanku seumur hidup, aku tidak datang kesini untuk mengemis apapun padamu atau punya tujuan apapun pada Papa, Papa sakit karena memikirkan pertengkarannya denganmu, aku  takut entah bagaimana itu terjadi seperti Mamaku, aku menyesal seumur  hidup karena itu. Jadi kupikir jika aku bisa mengusahakan sesuatu untuk mempertemukan  kalian lagi, aku akan mencobanya. Jika kau memaafkannya, mau menemuinya itu akan jadi kelegaan baginya, dan bagimu tentu saja... Jika kau tak memaafkanku pun tak apa, itu keputusanmu, aku hanya menyampaikan  kabar ini, bahwa Papa yang kau benci itu masih memikirkanmu, dan kami tak mau bertengkar denganmu. Itu saja...”

__ADS_1


“Baik  hati sekali, berperan jadi malaikat ternyata, kau pikir kau akan mendapat perhatianku...” Dia tetap pada pendiriannya. menatap sinis padaku. Ya sudahlah,  jika dia tidak mau, itu keputusannya. Aku hanya menyampaikan apa yang  harus kukatakan padanya. Aku menghela napas panjang lagi, sangat sulit terlibat dengannya.


“Aku hanya ingin kau tidak mengambil keputusan terlambat, semuanya sudah kusampaikan. Terserah padamu.”


“Memang terserah padaku, kau pikir kau bisa mendikteku.” Astaga, kau bicara 1 kata dia akan memarahimu 3x lipatnya.


“Ya sudah seperti yang kau bilang, aku tak bisa mendiktemu. Aku hanya menyampaikan apa yang harus kusampaikan. Dua hari lagi Papa ulang tahun, jika kau masih ingat, kau bisa datanglah kerumah, dia masih akan ada di Jakarta untuk beberapa saat. Dia pasti akan senang sekali. Sorry sekali lagi pertemuan pertama kita memang tak baik. Kami kembali dulu...tak ingin menganggumu.” Aku berdiri diikuti Ko Derrick.


“Telepon saja aku jika kau ingin tahu dimana Paman Lam.” Dengan perkataan Ko Derrick kami meninggalkannya sekarang.


“Hmm... nampaknya akan sulit.” Derrick melihat sikap Cherrie pada kami dan menyimpulkan.

__ADS_1


“Entahlah, aku merasa sudah mencoba yang terbaik Ko. Mau datang atau tidak itu keputusan dia. Semoga dia mau melunak, Papa akan lega sekali...”


Dan aku merasa tidak punya penyesalan karena sudah mengusahakan perdamaian mereka.


__ADS_2