
"Papa, aku duluan." Jam 7.30, Sayuri pergi ke sekolahnya. Sekolahnya dimulai jam 8.30 dan berakhir jam 3.30 sore.
"Kau les bukan."
"Iya, kemarin hanya libur sehari." Jam 4.30 dia memulai les juku, les persiapan memasuki perguruan tinggi, kelas itu 5 jam, dia baru sampai Kasumi menyiapkan bekal untuknya diantara waktu itu, sehingga dia tidak usah repot membeli makanan lagi. Dia bekerja keras, bersemangat dan tidak mengeluh apapun. Aku bangga pada putriku.
"Baiklah, hati-hati."
"Kakak Yumi, aku duluan."
"Tentu, bersemangatlah."
Dia pergi, aku tinggal sendiri di meja makan bersama Yumi. Sementara Ibu dan Bibi pergi berjalan-jalan pagi di taman dekat sini. Kurasa itu memang rencana mereka.
"Kalian mau kemana hari ini?"
"Ohh aku rasa aku akan melihat klinikku dulu, ada partner yang bertanggung jawab tapi kurasa aku harus melihatnya juga saat aku di sini."
"Ini usaha join partner begitu."
__ADS_1
"Iya join partner."
"Skalanya tak sebesar Matsumoto tentu saja, ini hanya seujung kuku."
"Yang penting bisa cepat kembali dana investasi dan untung, skala tak penting kurasa." Dia tersenyum.
"Semalam aku minta maaf, aku salah bicara begitu." Ternyata dia mengakui dia salah. Bisa kubayangkan dia tipe pengatur. Jika dia punya keluarga anaknya harus dalam jalurnya.
"Hmm ... Ya tak apa. Maaf juga aku mungkin bicara mewakili anakku. Dia sedang bersemangat untuk mengejar apa yang dia inginkan kau tak usah menyusahkan dirimu memberinya sudut pandangmu, dia punya pikirannya sendiri. Maaf jika anak itu bicara jujur, jangan tersinggung." Yumi diam mendengar perkataanku.
"Nampaknya kalian berdua sangat mengerti satu sama lain."
"Dia putriku, kami hanya hidup berdua. Aku harus mengerti apa yang dia inginkan tentu saja." Yumi tersenyum.
"Aku juga minta maaf padamu, jika aku menyinggungmu semalam. Kau tamu Ibuku, nikmati waktumu di sini."
"Kau tak punya kekasih? Sayuri nampaknya tak punya teman. Pria sepertimu sepertinya tak akan punya banyak kesulitan jika ingin memiliki kekasih. Pasti banyak yang mengejarmu." Ini pertanyaan pancingan.
"Kau benar aku tak punya kesulitan jika ingin punya kekasih."
__ADS_1
"Jadi kau sudah punya kekasih, siapa yang beruntung itu." Dia tersenyum kecil. Aku melihatnya di matanya. Dengan mungkin dukungan Ibuku dia mungkin berpikir dia punya nilai tambah.
"Aku menjawab pertanyaanmu, apakah sulit bagiku jika ingin memiliki kekasih. Jangan menyimpulkan sendiri untuk jawaban selanjutnya. Kurasa untuk saat sekarang masalah pribadiku tidak usah dibicarakan. Aku pergi dulu, nikmati harimu." Dia akan mengadu ke Ibuku kemungkinan aku sudah punya kekasih.
Aku meninggalkannya sekarang. Setidaknya sampai besok pagi aku baru bertemu dengannya lagi.
"Tuan Ryohei, aku sudah mendapatkan orang untuk melakukan tugas untukmu. Harga yang mereka minta kau setuju, mereka akan merusak barang-barang di tempat usaha legal, tapi untuk membuat keributan di klub malam mereka ingin harga lebih tinggi." Miyano meneleponku siang itu.
"Lakukan di 3 usaha legalnya dan 2klub malamnya. Lakukan 7 hari berturut-turut. Aku akan mentrasfer biayanya."
"Saya mengerti."
"Kau bisa sebarkan semacam membuat berita palsu bahwa kelompok lain ingin memusnahkan mereka, Wakai dan Nagashira juga sudah meninggalkan mereka. Bayarlah beberapa geng untuk sengaja mengeroyok anggota mereka jika kau tak mau terlibat."
"Kau mau melakukan itu Ryohei-san. Baiklah, dengan senang hati kuatur, tenang saja untuk yang ini aku akan menggerakkan semua orangku untuk memyebarkannya. Semua kepala kelompok yang membantu juga akan kusebarkan berita itu."
"Tapi ingat, kau tak boleh membawa namaku."
"Ohh kalau itu aku mengerti. Kau tak usah khawatir Ryohei-san, aku tahu aturan mainnya."
__ADS_1
"Bagus, lakukan penyebaran berita itu mulai hari ini."
Kita lihat sampai kapan dia bertahan. Aku sebenarnya penasaran apa yang dilakukan gaijin itu sampai dia berani menjamin Shiori tak akan diganggu lagi. Mungkin sebaiknya aku meneleponnya, tidak ada gunanya menjadikannya musuh, lebih baik menjadikannya teman, lagipula dia teman baik Shiori.