TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 5. Part 3. Second Meeting


__ADS_3

'Permintaan pribadimu.' Sebuah pesan dari Thomas masuk ke ponselku, dibawahnya ada link berita.


'KATE CONNERY TERTANGKAP MENCIU*M GARY HOPKINS', aku melihat foto mesra mereka terpampang.


"Hmm... akhirnya, kau mendapatkan balasan dariku juga. Bagaimana rasanya." Aku tak sabar membaca berita di hari berikutnya sekarang.


'Thanks Thomas. Kau yang terbaik.' Aku membalasnya setelah puas membaca berita yang sudah tersebar ke mana-mana.


'Kau menghabiskan waktumu sendiri. Dan kau menghabiskan waktumu tak berguna." Thomas tetap tak setuju apa yang kulakukan tentu saja, dia hanya menyetujuinya untuk memperlancar operasi.


'Relax Thomas, sekarang sudah seri. 1:1.'


'Ini bukan masalah kau membalasnya. Tapi kau yang tidak bisa melepaskan pikiranmu. Kau masih stalking banyak hal soal mantan tak berharga empat tahun lalu. Come on Julie!'


Thomas tak membalasku lagi. Aku termenung melihat kata-kata itu.


Aku bodoh masih mengikutinya, tak bisa melepaskan pikiranku. Aku menyangkalnya, alu hanya ingin membuatnya seri.


Mom (Ibu) meneleponku kemudian. Tentu saja dia tak tahu aku punya pekerjaan ganda di sini. Aku tak memberitahu siapapun.


"Sayang, kau sampai kapan di NY?"


"Belum tahu Mom. Nanti aku kabari." Jika aku belum bisa mengorek informasi, aku harus mengambil pekerjaan lain.


Aku sedang mempertimbangkan sebuah proyek film, karena aku tidak boleh terlalu terburu-buru mengerjakan ini atau samaranku akan terbongkar. Samaranku terbongkar, tidak ada ruang bagiku lagi untuk mendapatkan faselitas begini. Dan lagi aku menyukai pekerjaan ini.


"Ohh ya kau tahu soal berita Gary, mantanmu itu?"


"Aku melihatnya, bagus sekali, sekali penipu tetaplah penipu, tidak heran lagi."


"Ibunya sangat bangga anaknya bisa menikah dengan keluarga McKellan, sekarang nampaknya mimpinya sudah musnah." Nampaknya Mom juga senang mendengar beritanya.


"Aku turut berduka cita. Jika bertemu sindir saja dia habis-habisan."


"Tentu saja Mama akan lakukan." Mama diam sebentar. "Kau tahu, Mom bertemu Colin Knight. Dia bertanya soal kau? Kenapa dia tidak meneleponmu sendiri?"


"Aku tidak menyukainya, ...biarkan saja dia bertanya. Aku jarang menjawab teleponnya."


"Dia bisa menyaingi Gary, kenapa kau tak suka padanya, dia cukup tampan, nampaknya pria yang baik."


"Entahlah Mom aku tak tergerak sama sekali dengannya."

__ADS_1


"Kau harusnya tak mengingat pengalamanmu dengan Gary lagi Julie, dia memang bajin*gan, bagus kau tahu sebelumnya sifat aslinya. Jangan berprasangka buruk dulu." Mama memberikan saran, aku tak menyangka dia bisa berkata begitu, pun Thomas mengatakan hal yang sama. Apa begitu terlihat jelas?


"Iya Mama aku tahu."


"Mama hanya khawatir padamu, bajingan itu sudah punya banyak wanita, dia tidak berharga untuk mempengaruhi penilaianmu. Lupakan dia."


Aku berusaha, sangat berusaha sebenarnya.


"Julia, dia ada di sebuah pub di Manhattan sekarang, baru masuk, mungkin kita bisa menjalankan sandiwara yang kita rencanakan sekarang." Kelly meneleponku, dia dan timnya yang menjalankan pengintaian terhadap Richard. Mereka mempelajari Richard punya pengawalnya sendiri, kadang-kadang itu tersembunyi, mereka sangat berhati-hati.


"Ohhh, baiklah. Kirim alamatnya padaku. Aku meluncur sekarang."


"Noted."


Sebuah alamat datang padaku kemudian. Sebuah restorant bar rooftop di pusat kota Manhattan. The Press Lounge, aku pernah kesini sekali.



"Kalian sudah di sana semua."


"Sudah, aku dan yang lain sudah memesan meja, nanti kau akan pura-pura bertemu dengannya seperti yang kita rencanakan. Dia tampaknya sedang berempat dengan koleganya. Ada satu pengawalnya mengawasi, tapi nampaknya dia tidak terlalu awas, agak ramai, kesempatan bagus untuk membuat pertemuan tak sengaja." Kelly mengupdate kondisi kami.


Aku tiba di rooftop bar itu dalam setengah jam kemudian. Aku menghampiri meja Kelly, walaupun belum melihat dimana mereka.


Kami menunggu sampai beberapa saat, sampai anggota tim mengatakan mereka seharusnya akan segera meninggalkan tempat. Aku bersiap-siap...


Aku melihatnya dalam kemeja kerja gelap. Dia terlihat menawan dalam warna gelap itu. Aku menganggap pekerjaan kali ini kencan singkat yang menguntungkan.


Sekarang aku berjalan sambil membawa ponsel. Memperhatikan layarnya yang sebenarnya arahan arah, aku akan pura-pura sedikit menabraknya, ide lama tapi itu efektif.


5- 4- agak ke kanan - lurus - 2- 1, go...aku tertawa dengan melihat layarku, dengan membawa gelas coktail dari bar. Dan bum! Aku menabrak seseorang dengan sukses, sekaligus membuat basah kemejanya.


"My Lord! Aku benar-benar minta maaf. Fuc*k." Aku melihat dengan bangga hasil pekerjaanku.


"Sh*it!" Ternyata itu tumpah cukup banyak.


"Aku benar-benar minta maaf,..." Aku mencoba mengelap kemejanya dengan lembaran tissue yang kudapat dari tatakan meja bar. "Maafkan aku..." dan mengangkat wajahku melihatnya. Jaring mulai ditebar.


"Kau..." Kuharap baju merahku dapat membuatnya silau.


__ADS_1


"Kau?" Aku berpura-pura lupa dimana aku pernah melihatnya. Karena sudah hampir dua minggu dari pertemuan kami terakhir.


"Kau ingat aku Nona Harris?"


"Ehmm... " Aku masih berlagak tak yakin. "Dimana kita bertemu? Aku pernah melihatmu rasanya... Maaf, aku benar-benar lemah menghapal wajah dan nama."


"Charity party lymphoma cancer."


"Ahhh, kau si tampan yang tak punya pasangan."


"Akhirnya..." Dia tersenyum juga.


"Namamu? Maaf aku lupa. Maaf juga buat kekacauan ini." Aku menunjuk bajunya yang kutumpahi.


"Kau mengatakan aku sulit, kau bahkan melupakan namaku. Baiklah, kau memang tak serius menawarkanku makan malam kemarin." Yes, dia masuk ke jaringku. Aku tertawa untuk pura-pura ingin meloloskan diri.


"Aku tak bermaksud begitu, baiklah kubelikan kau minum saja bagaimana, aku sedang bersama teman-temanku, tak bisa menemanimu makan malam sekarang." Aku berharap dia akan terpancing mengajakku makan malam.


"Tidak semudah itu. Kau berhutang satu kali makan malam Nona Harris. Nomor teleponmu?" Yes! Yes! Yes, kau kena! Tapi aku mengerucutkan bibirku berlawanan dengan hatiku yang gembira.


"Dasar licik."


"Kau lebih licik di pertemuan pertama kita. Ini sudah karmamu. Nomor teleponmu, atau kau tak kembali ke mejamu..." Dia tersenyum lebar, tentu saja kau kubiarkan menang sayang. Aku berpura-pura mengambil ponsel di tas kecilku.


"Ini..." Kuberikan layar yang sudah terbuka keypadnya. Dia menerimanya dengan senyum dan menaruh nomornya sendiri. Lalu misscall ke ponselnya sendiri.


"Namaku Louis Allen, kucatatkan untukmu agar kau tak lupa." Dan dia mengembalikan ponselku.


"Aku tak akan lupa kali ini."


"Kau hutang makan malam padaku. Sampai kapan kau di NY."


"Aku tak tahu." Aku tidak akan terus terang padanya, lebih misterius dirimu, semankin dia penasaran.


"Aku akan ke London untuk makan malam, jika kau tidak disini lagi." Sekarang aku tertawa. Aku yakin dia tidak akan melakukan itu.


"Aku harus kembali. Baiklah aku hanya hutang sekali makan malam oke. Tapi jika tidak bisa bukan aku sengaja menolakmu. Maaf untuk kemejamu." Itu untuk memastikan dia meneleponku secepatnya.


"Dimaafkan."


Aku melambai pergi padanya. Nampaknya pendekatanku sukses.

__ADS_1


"Dia sudah pergi, tanpa kecurigaan." Tim Kelly yang mengikutinya mengkonfirmasi.


"Baiklah, tinggal menunggu dia menelepon." Pendekatan kedua selesai.


__ADS_2