TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
Part 79. Sogokan yang Mental!


__ADS_3

Kue!


Dia menganti janji kami dengan kue demi bicara dari siang sampai malam dengan Sandra! Dia pikir aku menerima alasan teman lamanya.


Dari semalam aku mau mengamuk! Tak terima dia membatalkan janji begitu saja. Sandra itu nampaknya istimewa sekali, sudah kemarin makan siang dengannya, sekarang seharian bersamanya.


Masih mangkel di sarapan hari Minggu ini. Semalem dengan bodohnya aku nangis sendiri kesel! Gue benci jatuh cinta kadang. Jadi bego... senyum-senyum sendiri, kesel-kesel sendiri, nangis-nangis sendiri.



Dia datang jam 9 pagi-pagi... mau minta maaf kali. Didepan pintu pagi-pagi.


Aku melihatnya dia duduk di depanku di meja makan. Aku membiarkannya...


"Ta, koko bawa mie." Apa dia pikir semua masalah bisa di selesaikan dengan makanan. Aku sama sekali tak melihat mie-nya. Mataku berada di layar ponsel, memakan roti dan meminum kopiku.


"Ini enak lhoo. Udah pernah coba belum..." Sekarang dia duduk disampingku. Membuka kotak mienya. Aku tak melihatnya.

__ADS_1


"Cobain." Tapi tiba dia sudah menyuapkan mienya kepadaku. Aku melihatnya, yang sudah memasang muka manis. "Beneran enak...serius gak bohong. Aaa..." Terpaksa aku memakan suapan itu karen sudah berada di depan mulutku.


"Enak kan?" Jangan harap gue maafin lu gara-gara mie.


Aku diam tak menjawabnya mataku kembali ke HP, sementara dia ikut makan. Dan menyuapkan kembali suapan yang lain. Well, mienya memang enak.


"Udahan, udah kenyang..." Dia duduk disampingku makan sendiri akhirnya.


"Tuan mau kopi atau teh?" Bibi yang berbaik hati menawarkannya minum.


Aku mendiamkannya tampaknya dia pun tak punya masalah aku diamkan. Menyebalkan! Ya sudah aku akan mendiamkannya.


"Ta, mau jalan-jalan?"


"Ga." Dia diam. Mungkin berpikir apa lagi yang harus dia lakukan.


"Kenapa gak mau?"

__ADS_1


"Sama Sandra aja sana."


"Kan udah dua hari sama Sandra terus." Dia menghela napas. Sementara Bibi langsung cabut ke belakang, setelah selesai beres di dapur dekat meja makan. Nampaknya dia tahu ada perang disini.


"Ayo ngomong ke kamar gak enak disini di denger Bibi." Dia menarik tanganku, yang mau tak mau aku harus ikut...


Aku menghempaskan diri ke sofa di kamar. Tak ingin melihatnya.


"Kamu cemburu sekali. Masa kamu gak percaya..."


"Ini bukan soal percaya! Koko kan pergi sama dia, milih pergi sama dia, batalin janji seenaknya gara-gara temem lama. Padahal kemarinnya juga sama dia, kemarin dari siang sampai malem sama dia, emang saya gak punya perasaan. Koko anggep saya bisa digituin. Kalo mau milih dia ..." Dia menutup bibirku.


"Fine-fine, yang jelas bukan gara-gara milih dia, Koko punya alasan. Koko cerita, iya, salah Koko terima salah, sorry dengerin dulu sekarang. Koko cerita semua. Please... dengerin dulu." Dia menghela napas panjang.


"Koko kemarin ngehajar cowo yang kita ketemu di resto Korea itu. Babak belur, sampe harus pulang ke Hongkong, dia kepala keamanan Papa Cherrie namanya Simon Tam." Sekarang aku melihat ke dia.


"Sandra Lai itu dulu teman lama Koko di zamannya masih masuk geng Kowloon, sudah lama gak ketemu ud mungkin 8 tahunan, Koko sangka dia masih kerja di Boss Koko di HK, rupanya dia pindah ke groupnya Cherrie, ... " Dia berenti, melihat nampaknya aku tampaknya tak ada pertanyaan.

__ADS_1


__ADS_2