
"Ini hanya tugas biasa. Tapi kau meluangkan waktu begini. Ini kencan sambil tugas Louis? Kau masih ingat cara berkencan?" Dia masih bertahan tidak bergerak. Tapi sekarang dia melepas tanganku.
"Apa yang ada di pikiranmu itu?"
"Mungkin kita harus latihan menjadi kekasih yang sebenarnya." Aku mendekat dan memeluk pinggangnya. "Kau kekasihku bukan malam ini." Kami terlalu dekat sekarang. Aku menempel padanya dengan berani, karena dia ikut operasi ini maka dia kekasihku.
Sesaat dia tidak mengatakan apapun. Sebelum dia memegang daguku dan perlahan menciumku. Tangannya akhirnya merengkuhku dalam pelukannya. Waktuku berhenti sekarang, aku jatuh terlalu dalam ke ciumannya.
"Ini yang kau inginkan?" Sekarang dia tersenyum, gunung es itu sudah meleleh di depanku. Dia membelai rambutku, menatapku tanpa takut menyembunyikan apapun lagi.
"Kau ternyata bisa bersikap manis juga." Sekarang aku yang menciumnya. Membuatnya membalasku, seakan ini tak pernah cukup.
"Kita punya tugas, latihannya sudah selesai." Aku tertawa sekarang.
"Kau bilang ini latihan, kenapa kau kejam sekali." Aku tak mau melepaskannya, malah mankin erat memeluknya.
"Julie Harris... jika kau memelukku seperti ini, tugasmu malam ini tak akan berlangsung lancar." Aku tersenyum lebar.
"Maksudmu apa..."
"Jangan memancingku."
"Aku suka memancing, aku juga suka hasil pancinganku." Dia melepaskan tanganku sekarang. Sikapnya jadi serius.
"Kau harus menjelaskan tugasmu, hentikan ini. Ayo serius." Dia menjauh aku jadi kehilangan sekarang.
"Jelaskan kondisinya padaku." Aku langsung menjelaskan siapa yang aku cari, perkiraan ruangan, peralatan yang kubawa dan harus dimana aku beràda.
"Jadi kau hanya bertugas memberikan pilihan terbatas siapa Mr. Scott kepada mereka?"
"Iya, itu tugasku di pengintaian. Sudah kubilang aku hanya harus mengintai kau tak perlu ikut. Walaupun kemungkinan aku harus menyamar, karena kemungkinan ada pengawal yang sama yang bisa mengenaliku."
"Kalau begitu aku lebih baik ikut. Bukankah begitu. Tak ada yang berani menganggumu dengan kekasih di sampingmu."
"Hmm baiklah jika kau ingin begitu. Terserah padamu. Aku harus bersiap-siap dulu."
Kelly menelepon kemudian saat aku bersiap, mengatakan bahwa orang mereka sudah ada di sana. Earphonesku sudah siap, karena kali ini Louis ikut dia mendapat earphonenya juga.
Aku sudah siap dengan dandananku sekarang. Karena restoran ini harus dengan pakaian formal.
"Apa aku cantik?" Aku minta di puji oleh kekasih baruku.
"Kapan kau tak cantik." Aku langsung tersenyum.
__ADS_1
"Aku tak tahu kau menganggapku cantik, kupikir kau semacam menganggapku rata-rata, mungkin terlalu banyak wanita cantik beredar di sampingmu. Kau tak pernah bersikap manis padaku."
"Kita harus pergi oke. Berhentilah meminta perhatian, dengan aku di sini apa aku kurang memperhatikanmu." Kata-katanya lugas sekali. Dia memang menyebalkan.
"Kau memang kekasih kejam." Aku mencibir padanya dan berbalik pergi. Tapi dia menarik tanganku dan membuatku terjatuh ke pangkuannya.
"Kau mau dicium lagi, katakan aku kejam lagi. Tak takut aku merusak dandananmu? Kita bisa terlambat sekalian dan pekerjaan batal. Aku juga lebih senang kita tak pergi." Sekarang dia yang ganti tak memperbolehkan aku pergi.
"Kita harus pergi. Kau tahu itu Honey." Kali pertama aku memanggilnya honey.
"Jadi apa aku baik atau kejam padamu."
"Kau terlalu baik. Kita berdamai saja oke." Aku tersenyum manis padanya dan dia melepasku sekarang. Kami harus pergi segera. Kami naik mobilnya
"Jadi kau masih harus menentukan mejamu bukan."
"Berdasarkan kebiasaan yang lalu kami rasa mereka akan memakai ruang VVIP. Aku harus berada di sini, aku memperlihatkan denah ruangan restoran.
"Baiklah. Jumlah pintu masuk?"
Aku menjelaskannya, "... tapi aku juga harus memperhatikan mungkin ada yang berpakaian pelayan masuk. Orang ini sangat berhati-hati, sampai sekarang indentitasnya belum pernah terbongkar.
"Ohh dia penghubung, tapi selicin itu."
"Kita lihat saja."
Kami tiba ke restoran. Berakting mesra sebagai pasangan kekasih. Kali ini aku tak canggung lagi mengandeng tangannya. Menatap matanya dengan mesra, kami memang kekasih.
Kelly yang akan memberitahu kami bahwa target kami sudah datang.
"Bersiaplah. Tuan rumah pesta sudah datang. Ada 4 pengawal mengikutinya." Louis juga mendengarnya. Kami melihatnya sekilas lewat di belakang kami melalui pantulan bayangan. Kami tahu tidak boleh langsung melihatnya tentu saja, sama saja bunuh diri dengan pengawal mengawasi
Dia memakai ruangan VVIP paling ujung. Kameraku kurang optimal.
"Aku harus pindah ke sana."
"Ayo." Dia memanggil pelayan dengan cepat.
"Sir bisakah kami pindah ke sana. Kekasihku tak suka pemandangan di " Tak banyak bicara, lembar 50 dollar memuluskan jalan.
"Ahh bisa, itu belum di reservasi." Kami pindah dengan cepat. Kami sekarang punya 3 kamera. Aku berhasil menaruh sebuah porselen yang merupakan kamera di sebuah meja di lorong VIP tadi.
"Kalian mendapat gambarnya."
__ADS_1
"Kami mendapat gambarnya."
"Tunggu perintah jika kalian harus mengkonfirmasi subjek."
"Jadi begini yang sering kau lakukan?"
"Memang begini. Kau pikir apa yang kulakukan. Sudah kubilang bukan pekerjaan infiltrasi, targetku adalah tempat-tempat khusus yang mahal. Pesta-pesta khusus yang kemungkinan besar hanya bisa ditembus level celebrity di luar London kebanyakan, itu tidak sering lagipula."
"Pria pelayan yang baru keluar itu! Rambutnya plontos. Bicara padanya, kami punya rekaman suaranya. Dekati dia dapatkan gambar lebih jelas dari depan." Aku langsung beranjak, banyak skenario di pikiranku.
Aku mengambil ponsel, menentukan jarak. Kupikir dia sendiri. Tapi kemudian aku sadar ada orang lain di belakangnya mengikuti, mungkin pengawalnya tapi dia sendiri berbaju pelayan. Tapi aku akan pura-pura tak sadar saja.
"Oh Sir, kau bisa membantuku." Dia tampak kaget aku mengajaknya bicara.
"Ya Nona?"
"Aku ingin memesan restoran untuk sebuah acara khusus, kau tahu dimana aku bisa bertemu manager?"
"Manager?"
"Iya managermu." Aku bertanya dengan sungguh-sungguh.
"Aku akan mencarinya dulu." Empat kata.
"Apa restoran ini bisa dipesan seluruh lantainya." Aku perlu membuatnya bicara lagi.
"Aku tak tahu. Biar saya tanya ke manager dulu. Saya tak tahu bisa atau tidak, Nona di meja berapa nanti akan saya akan kirim ke meja Nona." Aksennya asing aku tak tahu dia bicara aksen negara mana.
"Ohh baiklah, aku di meja ujung sana. Aku akan menunggu."
"Bagus." Kelly memvalisasi aku sudah melakukan tugasku dengan baik. Aku menyingkir kembali ke mejaku. Tentu saja manager itu tak pernah datang ke meja kami, yang kuajak bicara tadi bukan pelayan sebenarnya.
"Kukira kami mendapatkan target kami. Kalian boleh kembali. Kami harus mengikuti orang tadi." Mereka nampaknya berhasil.
"Orang tadi punya pengawal."
"Iya aku tahu. Tapi aku sudah berpura-pura tak tahu."
"Satunya duduk di meja yang lain, dia sedang mengawasi kita, berpura-puralah semuanya normal. Setelah ini kau harus pura mencari manager restoran pura-pura bertanya apa kau bisa membooking tempat ini, bicara pada orangmu kau mungkin di curigai. berhati-hatilah mengikutinya."
Bagaimana dia bisa begitu awas. Mungkin ada pengawalnya yang lain ikut di sini. Aku melakukan apa yang dia katakan.
----- bersambung besok.
__ADS_1