
"Minato-san, senang bertemu Anda juga." Aku memakai baju attire formal dengan gaun warna biru muda untuk pertemuan ini. Sementara dia memakai kemeja biru muda. Pengamatan pertama dia bukan seniman.
Kami menuju meja kami dan dia mempersihkanku duduk duluan. Aku mengambil sisi tengah, sisi pinggir nampaknya sempit, aku tak suka di pinggir.
"Mungkin lebih baik kau di sini." Aku mendongak padanya.
"Ohh? Kenapa? Kenapa aku tak bisa memilih dimana aku duduk?" Aku langsung bertanya dengan heran. Dia yang mempersihlakan aku duduk duluan.
"Maksudnya mungkin nanti ada tamu lain, lebih baik kau duduk di sebelah dalam."
"Tak apa, kita adalah kita, aku tak mengobrol dengan yang lain." Aku mengetes kesabarannya sekalian. Aku tak menurutinya permintaannya.
"Baiklah, ..." Dia mengalah tapi tampak tak senang. Jika masalah memilih tempat duduk saja menjadi masalah, maka kami tak cocok.
Tak lama kemudian ada satu tamu lagi datang, dia duduk terpisah satu kursi dari kami. Pelayan mulai menyajikan teh.
"Minato-san bekerja dimana." Aku mulai bicara saja.
__ADS_1
"Ohh aku seorang art director di sebuah perusahaan game." Dia menyebutkan perusahaannya. Aku mengerti dia punya pekerjaan yang mengharapkannya duduk di depan komputer sekarang dan kenapa dia memakai kaca mata.
"Ohh itu keren, nampaknya kau sangat berbakat di bidang seni."
"Ehm biasa saja." Nampaknya dia senang aku memujinya. Ahh kau lemah hati Minato. Hostess di Ginza akan menganggapmu sasaran empuk.
"Kau bekerja dimana."
"Aku Direktur Investasi di Nomura Securities." Sampai di titik ini biasanya ada yang sudah memasang ancang-ancang insecure.
"Direktur investasi? Mengagumkan." Sudah kubilang wanita mencapai managerial setinggi ini adalah jarang. Aku tersenyum padanya.
"Aku tak ingin bekerja, aku senang dengan pekerjaanku. Seperti kau mencintai pekerjaanmu." Dan aku memasang banner peringatan "BUKAN WANITA NORMAL" di atas kepalaku. Terlebih aku bukan l*ol*i dengan rambut sailormoon yang memakai rok pendek. Walaupun aku nampaknya bisa jadi cosplay cantik, dia memilihku pasti karena fotoku cukup imut, aku akan jadi cosplay Nezuko saja. Aku meringis sendiri memikirkan ide yang berjalan di kepalaku.
Makanan kami sudah di sajikan.
__ADS_1
"Selamat makan, ini pasti enak. Terima kasih sudah mengajakku kesini." Aku tersenyum riang padanya. Tampaknya dia shock dengan satu kata pamungkasku tadi. Baiklah, akan kubuat dia tidak menemuiku lagi.
"Hmm, kau pasti sangat suka menggambar dari kecil. Bisa dipercaya jadi Art Director semuda ini sangat keren." Karena dia membayar semua ini untuk mengesankanku aku akan memujinya habis-habisan.
"Itu hanya keberuntungan."
"Ohh tidak ada keberuntungan dalam kamus kita Minato-san." Dia tersenyum. Aku tak meremehkannya, aku tahu dia mendapatkannya dengan kerja keras, aku hanya ingin tahu apa dia bisa menerima aku juga bekerja sama kerasnya dengannya dan berhak atas pengakuanku sendiri.
"Kau nampaknya punya gelar mengagumkan sehingga bisa menjadi Director di perusahaan finansial."
"Ohh aku Phd Harvard." Kujawab dengan enteng.
"Harvard." Dia menatapku seakan aku berbeda alam dengannya. Memang kami berbeda alam satu di ilmu pasti, satu di seni.
"Hmm...kau tahu Harvard bukan." Apa aku menyombong? Iya, jika dia tidak bisa bertahan tsk ada gunanya melanjutkan ini.
"Iya tahu." Dia tak tahan dengan kemilau yang kupancarkan. Dia memang bukan yang kuharapkan itu sudah jelas nampaknya.
__ADS_1