TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 3 Part 28. Kick Out The Enemy 15


__ADS_3

"Siapa yang mengancammu?"


"Seorang mengirimiku pesan lalu menghilang. Nomor yang tak kukenal tentu saja." Kuberikan ponselku padanya untuk dia membaca pesannya.


"Camilla? Atau yang lain?"


"Kemungkinan besar dia, siapa lagi yang punya masalah denganku, tapi anehnya kurasa dia terlalu sibuk sekarang, seperti bukan dia, kurasa dia tipe yang akan langsung akan mengatakannya langsung terang-terangan di depan mukaku, tak perlu mengirim pesan tak jelas seperti ini... Wanita pengacau? Dia biasanya menyebutku anak tak tahu diri. Kenapa sekarang dia menyebutku wanita pengacau?"


"Nomornya berikan padaku, coba kucatat."


"Kau mau apakan?"


"Akan kusuruh orang menyelidikinya."


"Apa itu perlu? Ini hanya ancaman tak jelas."


"Justru itu perlu dicari." Dia langsung mengambil ponselku dan mencatat nomornya.


"Terserah padamu." Aku melihatnya, jadi terbersit kemungkinan lain. Apa mungkin ini semacam dia tahu dengan siapa aku berhadapan? Mungkin ada wanita yang terganggu dengan kehadiranku di sampingnya.


"Koko, ini bukan dari pacar gelapmu bukan?" Aku meringis melihatnya. Dia malah diam saja. "Jadi ini dari pacar gelapmu."

__ADS_1


"Sebenarnya beberapa kali mantan istriku meminta bertemu denganku. Tapi aku selalu menolaknya dalam enam bulan ini. Mungkin dia tahu sekarang dengan siapa aku berkencan."


"Kenapa dia ingin menemuimu lagi?"


"Entahlah, mungkin karena penasaran kenapa aku masih sendiri mungkin. Tapi bagiku hal yang sudah selesai ya selesai."


"Dia berusaha menemuimu di Shanghai?"


"Iya beberapa hari yang lalu dia berusaha menemuiku disini, tapi aku menyuruh reception menolaknya. Lalu dia meneleponku, langsung kubilang saja padanya aku sudah bertunangan dengan orang lain, dan memintanya tak usah mencari alasan untuk bertemu lagi. Aku tak tahu apa dia berani melakukan hal itu... tapi ya dia memang agak nekat."


"Bagaimana dia bisa tahu nama dan teleponku."


"Apa yang bisa dia lakukan hanya mengancam saja. Biarkan saja. Tak usah menghabiskan waktu dan sumber daya meladeninya. Nanti juga dia berhenti sendiri."


"Kita lihat saja nanti apa itu benar cuma ancaman omong kosong atau semacamnya. Tapi dengan menyelidikinya kita akan tahu bagaimana menghadapinya."


"Terserah padamu. Tapi mantan istrimu itu, kenapa dia tiba-tiba jadi ingin mengejarmu lagi."


"Aku sendiri tak tahu, dia beberapa bulan lalu meneleponku menanyakan kabar, aku menjawabnya seperti biasa. Kupikir dia ingin menyapa saja karena itu tepat hari ulang tahunnya aku mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Tapi ternyata dia mulai rajin chat, yang dengan malas-malasan kubalas. Tapi ternyata dia tidak berhenti sampai situ, dia mulai menggangu, padahal sudah kutegaskan dengan jelas."


"Tapi mungkin juga Camilla membayar orang, entahlah. Kita tak tahu."

__ADS_1


"Ayo makan saja. Ganti topik. Tak ada gunanya membicarakan ancaman yang belum jelas asalnya. Nanti kita akan tahu dari mana."


Kami menghabiskan siang dan sore berjalan-jalan di Global Harbor, salah satu pusat perbelanjaan di Shanghai.



"Itu nampaknya Ayahmu..." Aku mengikuti arah pandangannya Koko, benar saja dia berjalan bergandeng bersama wanita muda itu. Tak terlihat tertekan malah tertawa bahagia. Aku pernah melihat foto wanita itu beberapa kali.


"Kita pergi saja Ko." Pemandangan yang ini membuatku kesal. Aku langsung kehilangan mood berjalan-jalan di sini, kutarik dia kembali ke mobil.


"Nampaknya Ayahmu terlihat bahagia di sini. Nampaknya dia sama sekali tak memikirkan anaknya itu."


"Dia bahagia, entahlah. Mungkin seperti yang kau bilang banyak yang memujanya, memperlakukannya untuk uangnya di sini." Memikirkan bagaimana perasaan Mama menbuatku sedih, tapi kurasa dia sudah berdamai dengan dirinya sendiri dan tak lagi mengharapkan apapun akhirnya.


"Baiklah kita pulang saja oke. Kau mau beli sesuatu?"


"Iya pulang saja, kita sudah membeli banyak makanan, kita menonton film saja di rumah."


Ini liburanku tak akan kubiarkan Ayahku merusaknya, lagipula kali ini adalah pertama kalinya kami liburan berdua. Lagipula Mama sudah melepaskannya, sudahlah terserah padanya apa yang ingin dia lakukan.


_____ bersambung besok.

__ADS_1


__ADS_2