
POV Derrick
Aku mendapat laporan, kemarin kepala tukang pikul Wong, Simon Tam itu benar-benar kembali ke Hongkong, ternyata dia memang orang yang tak punya nyali.
Entah dia tahu aku siapa atau tidak aku tak perduli karena masalahku dan dia adalah personal.
Tapi ancaman ke CEO Orient Chin Lai-yee dan kelompok Daniel jalan terus, ini berarti ada pelaksana disini yang mengambil alih pengancaman atas perintah Simon, siapa aku belum menemukannya. Tapi cepat atau lambat aku akan menemukan kepalanya.
"Boss, kayanya saya pernah liat cewe ini. Apa saya salah ingat, kayanya teman boss. Dia beredar di samping Simon Tam di hari terakhir."
Aku melihat foto yang berikan oleh Andy.
"Ini Sandra Lai, ...bagaimana bisa." Sandra Lai adalah teman satu geng-ku dulu, kami bisa dikatakan cukup dekat belasan tahun yang lalu saat aku masih di Hongkong, dia juga bekerja dibawah Kent di Hongkong setahuku. Kenapa dia bisa pindah ke Wong Lee Man?! Aku menelepon Kent.
"Kent?! Kau ingat Sandra Lai teman satu gengku yang tomboy itu? Dimana dia sekarang?"
"Sandra Lai, tomboy... Sebentar -sebentar Sandra, banyak Sandra di kepalaku. Tomboy... Ohh yang itu, yang rambutnya cepak, punya tindikan gaya dan tato gaya gothic, cewe gila itu."
"Iya-iya dia."
"Sudah lama keluar dariku, ... Mungkin entah lima empat tahun yang lalu. Kenapa dengan dia?"
"Dia bergabung dengan group Wong Lee Man, aku melihatnya dengan Simon Tam kemarin."
__ADS_1
"Aku sama sekali tidak tahu. Alasan dia keluar aku lupa, dia manager di klub yang aku ingat, aku lupa yang mana." Kent memberiku keterangan terakhir.
"Baiklah-baiklah, aku mau bertanya itu saja."
"Andy ganti target. Awasi gadis ini." Tak kusangka aku harus berhadapan dengan Sandra.
"Baik Boss."
Aku berpikir sekarang, bisa jadi jadi dia yang mengawasi pengancaman sekarang setelah Simon pergi, kenapa harus dia yang kuhadapi. Teman dari masa lalu, sekarang malah berseberangan.
Mungkin aku bisa bicara dulu, bertanya bagaimana kabarnya, kenapa dia bisa pindah, apa dia tidak stress punya boss arogan seperti Simom Tam itu? Apa dia mau pindah lagi.
'Bro, si pengancam ini tambah gila sekarang, bawa-bawa nama istri dan anak saya.' Pesan dari Lai-yee menambah tekanan untuk menyelesaikan ini secepatnya.
"Jadi, dimana dia?"
Ini jam makan siang, pas sekali untuk mencoba bicara dengannya. Orang Andy mengirimkan alamat, aku sekarang langsung menuju ke mall yang dimaksud.
Aku melihatnya. Gadis tomboy itu masih memiliki gurat wajah yang kukenal, gaya pilihannya tetap maskulin, walau sekarang lebih formal.
Aku pura-pura menelepon ke Andy sebelum sengaja berpapasan dengannya.
"Oh, tidak kau urus saja..." Aku bicara bahasa Canton, pasti menarik perhatiannya. Lalu kami bertatapan di lorong restoran itu.
__ADS_1
"Sandra?"
"Derrick?"
"Andy nanti kutelepon lagi."
"Ini kau? Astaga bagaimana kita bisa bertemu disini. Kau mau makan siang? Sendiri? Kau dikirim Kent bekerja disini?"
"Derrick, kau ini punya gen ajaib, kau persis seperti yang kuingat bertahun-tahun lalu, kau tidak pernah menua heh?" Aku tertawa sekarang.
"Ini hanya hasil banyak oleh raga dan pola hidup. Ya mungkin sedikit bakat gen..." Dia melihatku dan tertawa.
"Astaga, kau memang hebat." Dia tersenyum menandangku.
"Pertemuan kita benar-benar tak disangka bukan."
"Ahh tidak, aku bekerja untuk orang lain. Aku bosan menjadi manager klub sebenarnya."
"Oh, kau bekerja untuk siapa?"
"Seseorang teman menawariku untuk bergabung dengan tim keamanan sebuah perusahaan, bisa berpergian, gajinya bagus, kupikir aku suka daripada terikat jam kerja di klub yang setiap hari malam."
"Kenapa kau tak menelepon."
__ADS_1