TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
Part 26. Berjalan Bersama Waktu


__ADS_3

Aku melihat pundak Papa terguncang, tak disangka pertemuan terakhir mereka di rumah duka ini. Istri Papa mendampinginya, memelukku mengucapkan ikut berduka cita. Aku yang sudah terlalu lelah menangis, menangis lagi  melihat perjumpaan terakhir mereka.


Cerita mereka tidak berakhir bahagia, Mama berdandan terakhir sekarang, tapi untuk mengucapkan perpisahan kepada semua orang, dengan tapi tidak ada penyesalan  nampaknya... Mereka sudah menerima takdir mereka. Tapi saatnya berpisah tetap terasa berat bagi siapapun.


Warna putih yang menandai tanda duka keluarga itu terasa pahit. Kurasa akan membenci warna putih beberapa saat nampaknya. Aku akan membenci bunga putih,kuning dan ungu yang bertebaran begitu banyak hari itu.


“Tata, Tante kira Tante bisa menjamu kalian dirumah bulan depan. Tapi semua takdir kita tak tahu... “ Seorang wanita paruh  baya yang cantik  yang bernama Yun Lan,bicara denganku dalam bahasa Inggris, istri  Papa memelukku untuk menyatakan duka citanya.


“Terima kasih Tante menerima kami begitu baik.” Aku hanya bisa mengucapkan  terima kasih untuk kebaikan hatinya yang berlapang dada  menerima kehadiran  kami  sejak awal.


“Papamu sangat  gembira akhirnya kalian bisa datang ke HK. Datang kesini begini rasanya menyesakkan...” Aku berdiri bersamanya di depan peti jenazah Mama. Sementara Papa masih didepan sana menatap wajah Mama dan berdoa untuknya.


Papa tak lama kemudian datang padaku. Aku memeluknya, dia memelukku, menangis tanpa ada kata yang terucap, aku tahu kami sama-sama hancur. Aku menyesal Mama tak bisa melihat kamu begini, saat dia tidak ada – kenapa takdir ini terasa begitu nelangsa sekarang, andai saja aku membuka hati, mendengarkan kata-katanya lebih awal.


“Mamamu sudah tenang dan bahagia. Kita jangan membuatnya terlalu sedih.” Sebuah kata yang kudengar banyak kali hari ini seakan itu adalah kebenaran mutlak. Kali ini dari Papa.

__ADS_1


“Iya Pa.” Dan seperti kata Koko, kau hanya harus setapak demi setapak melewati waktu yang menyakitkan ini.


“Kita duduk.” Papa mengajak kami semua duduk. Dia sudah menyapa semua keluarga termasuk adik Mama.


“Kamu sudah makan?” Semua Ibu nampaknya punya pattern  yang sama mereka selalu bertanya apa kau sudah makan. Aku hanya tak lapar sebenarmya...


“Dia belum makan.” Ko Derrick mengansurkan beberapa kotak makanan ke  depan kami.


“Makan. Kamu harus makan. Ini masih panjang...” Dia membukakan kotak yang isinya nasi goreng dari restoran yang ada dirumah duka  ini, memaksaku menyuapkan nasi. “Ini rencana tiga hari  Derrick?”  Upacara pemakaman dan doa ini akan memberikan kesempatan untuk teman-teman Mama yang akan melayat, teman-temanku, keluarga  jauh yang belum sempat datang hari pertama. Dan memberi kesempatan untukku menerima kenyataan ini.


“Derrick, minta orang kamu yang bantu beberapa hari ini. Kasihan dia sendiri...”


“Iya Brorther tenang saja.”


Aneh, di rumah duka itu aku melewati banyak waktu mengobrol, rasanya lebih ringan. Papa dan istrinya menunjukkan penghormatan kepada Mama, mereka ikut sebagai  bagian  dari keluarga, memakai baju putih, rekan-rekan  bisnis Papa banyak yang datang, aku diperkenalkan sebagai anak Papa, Mama diperkenalkan sebagai istri pertama  Papa. Dan istri-nya yang sekarang tidak masalah dengan itu. Dia bahkan bersikap penuh perhatian padaku dan keluarga.

__ADS_1


Tapi saat semua tamu sudah kembali Malamnya, aku kembali duduk berdua dengan Mama. Berdoa untuknya, Tante  menemaniku disana tiap malam tidur bersamanya dirumah duka itu. Aku perlahan-lahan bisa menerima kenyataan bahwa ini memang terjadi, bisa berdoa untuk perlahan  merelakannya seiring perkabungan.


Tiga hari berkabung, hari keempat aku harus merelakan semuanya. Tangisku pecah kembali, mengiklaskan terasa begitu berat, doa beriring melihat peti jenasahnya diturunkan. Dan sekarang aku hanya bisa memandang tanah basah itu bersama dengan kelopak bunga yang menutupinya.


“Mama...  Mama bahagia disana ya. Makasih Ma... Nanti Tata akan kesini lagi mengunjungi Mama.” Aku berbisik padanya sambil  menyentuh nisannya.


Hanya itu yang bisa kusentuh sekarang. Pelipur  laraku sudah hilang.


\============================================


Hehehe...Maap, mak juga nulisnya mesti siap tissue sekotak. Apapun itu jalan ceritanya kadang hanya  mengingatkan kita ada saatnya semua harus berakhir. Jangan terlena dan terlupa mengusahakan hal baik untuk orang yang kita cintai.


Jangan ada penyesalan, bahagiakan orang yang kau  sayangi sekarang. Semoga waktu kita cukup, dan semoga diakhir waktu kita bersama orang-orang yang kita cintai ada cinta yang ditinggalkan untuk dikenang. Ada memori indah yang membuat kita masih bisa tersenyum.


Kematian bukanlah  akhir, itu hanya awal hidup baru...

__ADS_1


See you tomorrow.


__ADS_2