TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 2 Part 29. Day 20th - I Will Win You Back


__ADS_3


POV Sandra


"Ko Derrick, apa Oliver meneleponmu?" Sekarang aku penasaran apa yang mereka bicarakan. Dan bagaimana Ko Derrick menanggapinya.


"Ohh, si bastard itu. Kau jelas punya masalah dengannya bukan, kemarin dia memang meneleponku."


"Aku hanya tak suka dia melarangku melaporkan masalahku pada Koko, dia tidak punya hak melarangku seperti itu."


"Hmm, dia minta maaf bukan?"


"Ya, dia minta maaf berkali-kali. Hanya aku sudah terlanjur ingin mengambil jarak dengannya. Rasanya lebih baik tetap menjaga jarak, aku tak terbiasa dengan kecemburuan seperti itu. Dia mengingatkanku pada Kent, melarang ini melarang itu... Lebih baik aku sendiri, menjaga jarak dengannya... Aku tak tahu dia malah menelepon Koko akhirnya."


"Mungkin dia tidak bermaksud buruk. Hanya ... orang seperti dia memang sudah terbiasa di atas. Punya ego sendiri..."


Bukan ego, tapi cemburu, karena dia tahu aku menyukai Ko Derrick. Dia bersedia membantu Ko Derrick itu bagus. Tapi jika dia merasa itu akan cukup mengembalikan semuanya seperti semula. Tidak akan semudah itu bagiku. Kupikir itu hanya permulaan yang baik untuk kami bisa berkenalan lagi.


"Hei semua, kita sudah menyelesaikan landscaped image sempurna. Kalian ingin melihatnya. Sudah datang print-nya." Ada sebuah kiriman print besar design final hotel bintang lima ini. Mereka sudah menyiapkan tempat memasangnya di kantor. Gambar besar itu adalah sekaligus iklan yang mengagumkan, hanya yang ini jelas dengan namanya, berikut patch nomor design cetak birunya per masing-masing bagian.


Designnya benar-benar menyusuri garis pantai, satu gedung memanjang delapan tingkat menyusuri garis pantai, dengan turunan yang dibuat berundak dengan private pool, villa-villa private, sampai garis pantai juga dibuatkan satu boulevard, seperti dermaga yang menjorok kepantai dengan memanfaatkan salah satu cliff di ujung pantai yang seperti semenanjung, nampaknya akan ada restaurant di ujung sana dan di belakangnya adalah kolam renang besar dengan nampaknya sebuah gedung di kubahnya. Desainnya terlihat sangat impressive. Hasil pekerjaan arsitek kelas dunia terlihat disini.


Gedung kubah itu menarik. Atasnya membentuk kubah, ada garis seperti atapnya terbagi delapan sisi, punya tinggi lantai berbeda dari lantai dibawahnya. Dia punya nama....


'Falling Star Terrace Sky Rooftop Restaurant', membuatku teringat satu malam saat melihat bintang jatuh dua bulan lalu.


"Apa ini? Kenapa ada garis bagi delapan sisi. " Aku bertanya ke pada seorang staff sambil menunjuk ke gambar gedung itu.


"Ohh ini restoran utama, ini teknologi yang memungkinkan slide atapnya terbuka menghadap langit, jadi namanya menjadi tempat melihat bintang jatuh. Itu nama dari Sir Russel, ehmm...kau bisa bayangkan bukaan lensa kamera bergerak membuka dan menutup. Interiornya jika sudah jadi akan mengagumkan. Tapi juga bisa dijadikan ruangan tertutup sepenuhnya untuk acara formal. Pencahayaannya ruangannya otomatis berubah, jika kau sedang membuka rooftop cahaya akan berubah jadi seperti kau sedang candle light dinner, jika sedang ditutup lampu tambahan di atas otomatis keluar, lampu-lampu bisa masuk ke samping mengikuti reel diatasnya. Ini ide jenius Sir Oliver."


Tatapanku kembali ke restaurant utama itu. Dan pikiran kembali terbawa ke percakapan kami.


"Disini bintang jelas sekali, aku membayangkan jika resortnya sudah jadi akan indah sekali disini... Aku akan menabung dan menginap disini."


"Hmm...jika begitu kita akan membuat teras untuk menatap bintang buatmu." Aku tertawa, itu kedengarannya bagus.


"Teras menatap bintang... Itu nama yang bagus. Kabarkan aku jika sudah selesai."


Mungkin dia terinspirasi aku yang bereaksi terlalu berlebihan ketika menatap bintang jatuh pertama kalinya dalam hidupku. Aku sedikit tersenyum kecil mengingatnya.


"Bagaimana pendapatmu?" Oliver ternyata ada di sisiku.


"Impressive aku terkesan. Jika sudah jadi ini akan bagus sekali." Pujianku memang pada tempatnya. Ini pekerjaan luar biasanya. "Nanti aku akan menabung ke sini, pastinya... jika sudah selesai. Bayaran mahalmu pasti tak salah." Aku tersenyum padanya.


"Apa kau menyadari ada sebuah nama yang familiar."


"Maksudmu Falling Star Terrace." Sekarang aku melihatnya.


"Mungkin karena kau yang punya permintaan saat itu. Nampaknya dongeng bintang jatuh mengabulkan semua permintaanmu itu benar." Dia membuatku mengulum senyumku sekarang.


"Kalau begitu aku akan kembali ke sini saat hotelnya jadi. Aku pasti menabung untuk itu."


"Hmm..." Dia hanya mengumam mendengar jawabanku tersenyum kecil padaku. Tidak mengatakan apapun, dan pergi ke kantornya sendiri.


Ada yang aneh dengannya, dia tidak mencoba mengatakan, semacam perkataan 'nama ini terinspirasi olehmu, aku membuat ini untukmu, aku akan mengajakmu kesini nanti.'. Tadinya aku pikir dia akan mengatakan hal semacam itu.

__ADS_1


Apa dia menyerah denganku. Kenapa dia menelepon Ko Derrick bicara tentang kami, apa dia berubah pikiran karena Ko Derrick langsung bertanya apa tujuannya. Bagaimanapun apa yang kusampaikan ke Ko Derrick juga tidak bagus.


Mungkin dia tak akan datang ke pertemuan dengan Ko Derrick nanti kurasa.


Ya sudah, memang dia tak serius, tak ada yang perlu di sesali. Anggap saja kami memang tak berhasil. Terlalu banyak perbedaan, dan lagi mungkin yang kuinginkan dan apa yang dia buru berbeda.


Dia tak akan datang. Dia sudah berubah pikiran kurasa. Well... cerita kita akan berakhir di 30 hari ini jika begitu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ini terakhir hari kami disini, besok aku akan kembali ke Hongkong bersama Derrick dan satu orang staff, yang lain masih tinggal disini.


Jadi sementara mereka tidak memerlukan bantuanku aku turun kebawah ke jalan tanah yang masih penuh semak-semak dan jalan tanah, mereka belum mengerjakan bagian ini, suara alat berat masih bisa terdengar di belakang sana, tapi pantainya masih beĺum tersentuh sedikitpun.


Aku sudah melewatkan 20 hari perjanjian kontrak pengawalan pribadi ini, 10 hari lagi aku akan kembali ke Jakarta, dan 4 harinya aku meminta cuti, hidup normalku akan dimulai.


Kakiku menginjak batu yang terbentuk di jalanan yang sudah terkikis oleh air yang mengalir, batu itu ternyata bisa bergulir, aku merosot hilang keseimbangan dan jatuh terduduk begitu saja. Sekarang pinggulku sakit karena menghantam batu lainnya. Sejenak aku harus duduk sebentar.


"Sandra!? Kau kenapa?!" Oliver ternyata ikut turun kebawah. Tapi dia masih agak jauh.


"Terpeleset..." Aku memegang pinggulku yang terbentur batu di jalan curam itu.


"Kau bisa bangun?!" Dia masih dibelakang ku beberapa saat. Berupaya mencapai tempatku secepatnya.


"Bisa. Tak apa..." Ini pasti memar setelahnya. Aku menopang berusaha menopang diriku sendiri tapi kemudian aku diangkat begitu saja ke atas oleh tangannya.


"Terima kasih, ..." Aku berdiri tegak dia beralih ke sampingku. Memegang lenganku takut aku kehilangan keseimbangan lagi.


"Ada luka, kau terbentur, terkilir?"


"Tidak. Tadi batunya ternyata bisa bergulir. Aku salah pijakan saja."


"Iya.Aku tak apa tenang saja."Kami berjalan ke pantai kemudian dengan dia mengawasi langkahku.


"Kenapa kau bisa kesini?"


"Aku kebetulan melihatmu berjalan ke arah sini, kupikir kau pasti mau ke pantai, lagipula ini hari terakhir kau di Vietnam."


"Iya besok kita sudah pulang, aku akan merindukan pantai ini."


Beberapa hari ini setelah dia bicara ke Ko Derrick kurasa dia terlihat lebih menahan diri, entah kenapa aku juga tak tahu.


Kupikir tadinya karena dia tidak ingin melanjutkan mengharapkanku lagi, tapi kemudian dia mengantinya dengan bertanya apa aku baik, kadang jika dia mendapatkan makanan dari luar dia memberikannya padaku, tetap mengucapkan selamat malam via chat, tapi tak pernah mengetuk pintuku lagi, jadi terasa aneh. Kenapa dia jadi merubah perilakunya begitu... sopan sekali, biasanya dia suka main peluk, menggodamu langsung. Tapi sekarang dia bahkan tak berani menyentuhku.


Kami sampai ke garis pantai, matahari sudah condong ke barat, tak terlalu panas lagi. Aku membuka sepatuku, menyinsingkan jeans, bermain dengan air, Oliver mengikuti di belakangku.


"Kau agak aneh belakangan ini..." Akhirnya aku bertanya juga karena penasaran pada perubahan sikapnya.


"Aku aneh?"


"Ya, bukan seperti Oliver yang pertama kali kutemukan, setidaknya sampai seminggu yang lalu."



"Setidaknya aku tak membuatmu lebih membenciku. Itu sudah cukup kurasa. Kita bisa bicara seperti ini tanpa membuatmu mencari cara menghidariku, itu sudah cukup, aku sebenarnya hanya mulai dari 0 lagi... Anggap saja ini caraku meminta maaf." Aku diam sekarang, jadi ternyata mengambil jarak ini termasuk caranya mendekatiku juga.

__ADS_1


Pikiranku salah ternyata. Dia tidal menyerah.


"Kenapa kau bisa memikirkan cara aneh ini? Ini seperti bukan kau." Oliver tertawa.


"Seseorang memberiku sudut pandang yang lain. Aku tak punya cara lagi. Semua cara sudah kuusahakan untuk minta maaf padamu tapi kau hanya menjawabku dengan terima kasih. Jadi aku mengikuti sarannya saja."


"Ohhh..." Aku jadi tersenyum sendiri. Lalu hanya berdiri di pantai. "Lalu apa lagi yang disarankannya selain jangan merayuku."


"Meminta izin kakakmu dulu." Aku meringis, rasanya aku tahu siapa yang akan menyarankan hal seperti itu.


"Kau pasti bicara dengan Nguyen..." Sekarang Oliver tertawa.


"Kau bisa menebaknya ternyata." Siapa lagi selain Nguyen yang bisa memberinya saran bijak begitu.


"Apa kau akan melakukannya? Bukankah Ko Derick mengancammu?"


"Iya, dia mengancamku tentu saja. Lagipula siapa yang tak mengecapku jelek. Pertemuan pertama kita memang jelek." Dia sadar diri juga. Aku cuma meringis.


"Mungkin Ko Derrick akan menyusahkanmu nanti."


"Tak apa. Aku akan berusaha..." Aku sekarang tersenyum padanya. Aku menatapnya dan dia menatapku. Ternyata dia bersedia mundur dan mencari jalan lain. Kali ini bahkan berani menghadapi Ko Derrick.


"Aku hanya akan bilang semoga kau beruntung. Lulus tes atau tidak itu tergantung Ko Derrick. Aku tak akan membantumu sedikitpun."


"Aku tak punya pilihan, aku nampaknya tak lulus tes darimu. Harus meminta bantuan Big Brothers-mu." Aku bertopang dagu melihatnya. Merasa lucu dia mau menjalani semua ini.


"Kau yakin Oliver. Boleh kutahu kenapa? Kenapa kau menempuh jalan sulit ini. Banyak wanita yang mengejarmu, bersedia langsung mengatakan iya. Kenapa aku?"


"Karena pertahananku tak bekerja melawanmu. Aku tak pernah berpikir kau akan sengaja mengejarku karena embel-embel dibelakangku. Kau tak menginginkan aku, kau tak pernah menjadikanku target, tapi aku ingin kau ... Berbeda ke semua wanita yang ingin mengejarku dengan tujuan tertentu. Yah selain kenyataan bahwa mungkin aku sudah bosan petualangan tanpa ujung."


Aku mendengarkan jawaban panjangnya sambil memandang ke arah laut lepas. Tidak ingin terpengaruh apapun.


Apa dia benar serius mengusahakan ini. Tapi untuk membuktikan keseriusannya dia harus menjalankannya sendiri. Jika Oliver tidak lolos tes Ko Derrick ya berarti cerita memang berakhir,, aku juga tak akan melihatnya lagi, karena aku percaya apa yang dikatakan Ko Derrick, penilaiannya terhadap Oliver, jika dia bilang Oliver buruk aku tak akan menemuinya lagi.


"Jika kau mau ke hotel, pakai kartu yang kuberikan untukmu. Jika kau mau pulang ke Jakarta juga boleh." Dia tiba tiba bicara.


"Hmm tidak, pekerjaanku tetap 30 hari minus 4, aku akan membuat boss Philip marah jika dia tahu aku minta pulang duluan, tak usah pakai kartumu, sebenarnya mereka memberiku bonus 4 bulan gaji untuk bisa bertahan dengan kelakuanmu."


"Boss-mu memberimu bonus 4 bulan?!" Sekarang Oliver kaget. "Apa mereka menganggap aku klien yang begitu sulit untuk ditangani. 4 bulan?! Kau serius?"


"Nampaknya sampai boss besar Philip saja tahu reputasimu. Kau memang sudah terkenal ba*ngsat di seantero Hongkong." Aku ngakak sekarang. Dia melihatku menikmati menertawakannya.


"Ohh Man, aku tak tahu reputasiku seperti buronan."


"Nampaknya ketenaranmu selain arsitek adalah Don Juan bast*ard, dimsum." Dia hanya meringis tapi nampaknya tak marah saat aku menambahkan julukan padanya.


Matahari sore terbenam di samping kami, untuk kali ini aku tak masalah dia disampingku. Setidaknya aku tak merasa dia perlu kuhindari sore ini.


"Kau mau makan pho berdua, atau kau ingin membeli oleh-oleh dari sini untuk dibawa pulang?"


"Ehmm...tidak aku mau disini sebentar, sebentar lagi sunset. Entah kapan tempat ini bisa kukunjungi lagi."


"Kau bisa tentu saja, jika kau ingin kau bisa kembali, target hotel ini selesai satu tahun sampai operasi. Kau bisa pasti bisa kembali tahun depan, semuanya sudah jadi."


Mungkin itu caranya mengatakan bahwa dia akan membawaku kembali kesini. Aku tak membalas perkataannya, karena mungkin dia tak akan melewati tes Ko Derrick.

__ADS_1


Yang jelas Ko Derrick tak akan memberinya kemudahan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2