
“Koko mau kemana?”
“Ada kumpul sama temen bentar.”
“Koko nyusul orang tadi?” Dia terlihat khawatir.
“Enggalah. Koko pergi ya, ditungguin temen soalnya. Oke. Kita pisah disini ya, hati-hati nyetirnya.” Aku mencium pipinya sesaat, dan melambai padanya membawa mobilku sendiri.
Andy dan Jonny sudah menungguku.
\=\=\=\=\=\=\=\=**\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Klub di bilangan Jakarta Utara itu terlihat ramai, klub ini cukup terkenal , setidaknya kadang memang beberapa acara kumpul-kumpul sering mengambil tempat disini. Sebuah keuntungan yang harus dimanfaatkan karena kami sudah kenal dan familiar dengan managernya.
"Boss, di ruangan itu." Jonny memberi tanda padaku dimana Simon Tam berada.
Simon menunjuk sebuah ruangan karaoke VIP, mereka sudah mengikutinya sampai sini, suara orang menyanyikan lagu terdengar samar dari pintu berperedam sementara dentuman samar bass! House music terdengar dari bawah.
__ADS_1
"Kau tahu siapa saja di dalam?"
"Cecunguk teman-temannya semua. Tak ada orang penting. Dengan wanita-wanita tentu saja."
"Enam orang pria?"
"Kita bertujuh Boss, lagian tampangnya lemah-lemah. Anak-anak yang masuk tim ini semuanya bisa diandalkan, walau kita masuk dengan tangan kosong."
"Kau sudah bilang pada manager jangan menggangu?"
"Beres Boss!"
"Agus. Kamu diluar, jangan sampai ada yang masuk." Jonny memberi perintah.
Andy masuk duluan membuka pintu sekarang.
"Siapa kalian?!" Lampu dim dinyalakan lebih terang. Sekarang kami berhadapan muka.
__ADS_1
"Kau?! Mau apa kau kesini!"
"Sudah kubilang aku akan mencarimu manusia arogan. Kau bertemu orang yang salah. Kau pikir aku main-main."
"Apa maumu?! Berkelahi? Siapa kau? Penguasa disini?!" Satu bogem kuat melayang ke area yang disebut Trigeminal Nerve, area diantara garis mata dan kuping, efektif untuk melakukan one punch knock out, yang tak disangkanya membuatnya terlempar dan terhuyung tak seimbang lagi. Aku sengaja memanfaatkan timing kejutan itu karena memang ingin menghajarnya dan tak memberinya kesempatan.
"Boss!" Anak buahnya yang melihatnya dihajar merangsek ke depan.
"Diam! Ini satu lawan satu! Kalian mau kuhajar juga!?" Andy membentak mereka! Tapi yang berteriak ketakutan adalah gadis-gadis peneman mereka.
"Wanita-wanita juga diam! Kalian keluar!" Johny dan yang lain merangsek ke masing-masing orang yang sudah ditahan. Aku menunggunya bangkit. Sementara para gadis meringkuk di ujung sofa langsung berhamburan keluar.
Jika itu aku 10 tahun yang lalu, aku yakin dia knock out tak bisa bangun lagi. Latihanku tampaknya memang kurang sekarang.
"Bukankah kau hebat, satu pukulan saja kau tak bisa menahannya. Omong besar saja, berani dengan menyiram perempuan! Levelmu ternyata hanya berani ke perempuan! Ba*nci!" Aku memancing emosinya, jika tak ada perlawanan tak akan seru menghajarnya.
"Kau benar-benar berani!" Dia mengambil kesempatan menyerangku setelah bisa bangkit. Tapi fokusnya sudah jatuh, aku membaca garis pukulannya dan gerakannya, menghindar dengan mudah dan menyarangkan jab ke ulu hatinya yang membuatnya terbatuk dan terpental kembali ke belakang.
__ADS_1
"Bangun! Bukankah kau hebat! Mana arogansimu tadi, menyiram wanita yang tak sengaja dan sudah minta maaf berulang kali, mengatakan pacarku jala*ng! Kelakuan barbarmu itu tak sebanding dengan tenagamu! Bangun ba*nci!" Dia bernapas dengan kesulitan, tapi nampaknya belum kapok. Aku akan menghajarnya sekalian disini. Tujuanku sekarang adalah bog*em ke matanya. Membuatnya wajahnya baba*k b*elur.
"Bangsat!" Kali ini dia berniat menjatuhkanku. Tapi benar kata Kent, bangsat licik ini memang payah, mengandalkan orang dan otak liciknya untuk memprovokasi, bukan generasi kami yang memulai dari perkelahian mempertahankan wilayah, dia langsung meloncat ke posisi kepala karena otak liciknya.