TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 4 Part 40. Don't Go Home 2


__ADS_3

"Jangan membandingkan dirimu dengan orang lain." Dia sekarang menjawab kata-kata itu sendiri. "Aku tahu kau akan mengatakan itu."


"Lalu kenapa kau tak percaya?" Dia menatapku.


"Lalu kenapa kau tak pernah... " Dia tak melanjutkan kata-katanya. Kali ini aku tak bisa menebak apa yang ingin dia katakan.


"Aku tak pernah apa?" Dia menatapku, tapi memutuskan membuang muka. "Shiori? Aku tak pernah apa?"


"Tidak ada, aku tak marah oke. Aku percaya padamu, sorry aku hanya terlalu perasa."


"Kau tak akan pulang sampai kau katakan kelanjutan kalimat itu." Dia tersenyum kecil, nampaknya dia menganggapku bercanda.


"Jadi aku tidur disini saja?"


"Iya kau tidur di sini saja. Berikan ponselmu, akan ku telepon dan bicara pada orang tuamu. Kau pikir aku tak berani?"


Dia menatapku, kupikir dia akan bicara membawanya pulang atau apa, tapi malah sekarang dia duduk di pangkuanku dan tersenyum. Apa yang ada dipikirannya aku sama sekali tak bisa menebaknya.


"Kau mau aku tidur disini Ryohei? Kau yakin bisa tidur?" Dia menatapku memegang tengkukku, dan berakhir menciu*mku, aku mau tak mau memeluk pinggangnya dan membalas ciumannya. Tapi kenapa dia malah melakukan ini.


Ciuman ini, membuat napasnya tersengal, aku mulai berpikir dia adalah seorang yang sudah lama hidup di benua lain. Dia tidak punya pikiran seperti gadis sopan lainnya. Dia tidak sesopan itu.


"Kau sedang memancing sesuatu disini?" Aku bertanya dengan penasaran.

__ADS_1


"Kau wangi sabun mandi..." Dia mengatakan sesuatu yang tidak ada hubungannya. Tapi pikiranku terpancing dengan kata-katanya. Kubanting dia kebawahku, kutindih dia dan kucium lehernya. Dia membiarkanku tanpa perlawanan malah memelukku.


Jadi mungkin maksudnya aku tak pernah... mencoba menyentuhnya saat di Osaka? Bahwa dia tak merasa dirinya menarik karena aku tak pernah bertindak lebih jauh, dia membandingkan dirinya dari mantan-mantanku tak menarik kerena itu. Itu konyol, aku mati-matian tak mencobanya, kemarin aku baru diterima. Aku tak mau dianggap langsung memanfaatkan kesempatan.


Dia memakai blouse one piece dengan rok A line yang memudahkanku untuk menyentuhnya lebih jauh dengan bagian tubuhku yang lain. Dia pasti tahu apa aku menginginkannya atau tidak.


"Shiori, kau merasakannya." Dia tidak menjawabku, dia menikmatinya. Aku berhenti, berguling disampingnya dan memandanginya. Dia melihatku.


"Kenapa..." Dia bertanya kenapa aku berhenti.


"Karena aku menghargaimu, bukan karena kau tak menarik, jawaban kenapa aku tak mencoba melakukannya di Osaka." Wajahnya bersemu merah, dia tersenyum.


"Aku memalukan bukan. Pikiranku seperti *******."


"Ryohei, Setsukomu itu, geisha level tinggimu itu, pasti sangat sopan bukan, dia tak sepertiku."


"Kau mulai lagi, aku bahkan tak pernah memegang tangannya, tapi kau bisa melakukan apapun padaku. Aku sudah bilang padamu kau bisa meminta apapun. Bahkan sesuatu yang sangat pribadi seperti ini..." Dia tertawa ketika aku menekannya untuk memberi tanda apa itu 'sangat pribadi.' "Katakan jika kau menginginkanku, kau masih bisa mundur sekarang, aku akan mengampunimu karena berani memancingku..."


"Bagaimana jika Sayuri tahu,..."


"Dia bukan anak kecil. Lagipula aku sudah mengunci pintunya. Katakan apa yang kau inginkan?" Dia tersenyum. Aku sudah ingin melu*matnya sekarang. Kuciu*m lehe*rnya dan membuatnya mengera*ng.


"Ryohei..." Kata ini cukup bagiku untuk tanda persetujuan. Kuangkat tubuhnya dari sofa. Dan kubaringkan dia di bedku.

__ADS_1


"Bagaimana dengan rencana mengantarku pulang." Dia berusaha bermain, saat tak ada satupun penghalang lagi diantara kami.


"Kau benar-benar gadis sulit. Sayangnya kau tahu sangat terlambat mengatakan hal itu Shiori." Saat aku memasuki rumahnya, membuatnya memelukku begitu erat kemudian. Aku tahu aku membuatnya bahagia.


"Jangan berhenti..." Era*ngannya itu, cukup membuatku hampir tak sanggup mena*han diri.


"Gadis nakal, bagaimana jika kau sampai besok disini." Aku berbisik di telinganya sementara dia mengelin*jang di bawahku.


"Fu**." Dia mengumpat dan tubuhnya membuat sentakan tak terkendali. Dan kali ini aku membuat dia mengerang sekali lagi. Menyelesaikan diatas kulitnya terasa seperti kelegaan yang luar biasa kemudian.


"Kau bisa pulang sekarang jika kau mau." Dia tertawa saat aku mengatakannya. "Jika tidak juga tak apa, akan kuminta izin dari Ayahmu, semoga dia tidak memarahiku lagi."


"Ryohei, kau harus mengantarku pulang." Shiori menatapku sambil berbaring di dadaku.


"Iya, aku akan mengantarmu." Aku menjawabnya sambil memejamkan mata. "Beri aku istirahat sebentar." Aku merasa dia menyentuh kulitku memperhatikanku dengan pandangannya. Aku membuka mataku.


"Kau tidak mau pulang? Sayuri bisa meminjamkanmu baju kurasa." Dia menggeleng. "Lalu apa?"


"Kau milikku bukan milik Geisha itu." Aku tersenyum. Ku gapai pinggangnya dan kucium dïa.


"Kau milikku bukan milik gaijin manapun." Kali ini dia tertawa bahagia.


Gadis yang sulit ini sudah menjadi milikku.

__ADS_1


__ADS_2