
Kali ini pemotretan membuatku bekerja sampai malam. Besok akan ada pertemuan dengan Thomas dan timnya. Aku tak akan bisa kembali sesuai jadwal ke NYC.
Teleponku berbunyi sekarang. Louis.
"Sayang, kau sudah selesai bekerja?"
"Aku baru selesai. Sekarang baru sampai di apartment. Bagaimana kabarmu di sana? Jam berapa di sana, ini sudah jam 12 seharusnya sekarang? Kau belum tidur? Apa kau bekerja sampai larut, kau sudah makan malam." Aku memberondongnya dengan rentetan pertanyaan, NYC dan LA berbeda tiga jam, aku jam 9 dia jam 12 malam sekarang.
"Belum, aku sudah membawa makan malam ..."
"Maksudmu kau membawa makan malam? Kau baru sampai di apartmentmu?"
"Sudah, aku menunggumu di lobby." Aku mencerna omongannya. Dia bilang mungkin akan datang akhir pekan tapi sekarang dia menungguku di Lobby? Sekarang?!
"Kau kesini? Sekarang sudah sampai maksudmu?" Aku celinggukan mencarinya di lobby apartment. Dia membelakangiku di sebuah sofa dan mengangkat tangannya ke atas. Aku meringis lebar melihat tangan yang terangkat itu. Dan segera berlari ke arahnya.
"Kau bilang kau akan ke sini akhir pekan, tapi kau tiba sekarang, kenapa kau tak memberitahuku kau akan kesini. ." Aku memeluk dan mencium pipinya sekarang. "Bagaimana penerbanganmu, kau pasti lelah."
"Aku memindahkan schedule pekerjaan sehingga aku bisa berada di sini sampai akhir pekan. Kau senang..."
__ADS_1
"Aku senang sekali, karena pekerjaan khusus nampaknya aku mungkin harus lebih lama di LA. Tapi sekarang kau bisa datang di tengah minggu."
"Iya aku tahu. Makanya aku memindahkan jadwal pekerjaanku di sini untukmu." Dia ganti mencium pipiku.
"Kau akan lama disini?"
"Sampai akhir Selasa depan, aku memindahkan beberapa jadwal pertemuan di sini sekaligus."
"Itu akan menyenangkan."
"Kapan jadwal tugas khususmu?"
"Aku ikut menemanimu." Aku tersenyum mendengar kata-katanya.
"Kukatakan ke Thomas dulu oke. Jika ada anggota tambahan datang. Dia tak suka kejutan."
"Katakan saja, aku yakin dia tak keberatan. Aku membeli makanan untuk kita makan malam. Ayo naik...kau juga pasti lelah."
Kami bergandengan tangan ke atas. Tak tahan untuk tidak menciumnya lagi untuk mengatakan aku senang dia berada di sini sekarang.
__ADS_1
"Kau terlihat senang sekali." Louis tersenyum kecil padaku.
"Aku senang kau meluangkan waktu kesini."
"Banyak hal yang kau lakukan untuk bersamaku. Sekarang aku melakukan hal yang sama untukmu. Terima kasih buat berjuang untuk kita." Sebuah kalimat manis tanda dia juga ingin aku bahagia. Itu memang sebuah kebahagiaan.
"Kau tidak datang ke sini karena cemburu dengan mantan pacarku bukan." Kalimatku membuatnya menciumku sekarang.
"Mungkin ada bagian dari itu, aku tak bilang aku tak memikirkannya. Tapi aku percaya padamu, jika kau tak ingin aku pergi ya aku tak pergi. Itu bagian dari pekerjaanmu."
"Tidak aku tidak keberatan. Lagipula bossmu memang terlibat. Thomas akan memberikan izin kurasa."
"Sebenarnya aku tak tahu apakah besok bisa atau tidak, biasanya selesai meeting mereka mengajak makan bersama. Jadi kukabari besok oke, aku ke sini untuk melihatmu senang. Bukan untuk mengawasi pekerjaanmu. Tapi jika kau merasa butuh bantuan, katakan saja padaku." Jadi dia tak sungguh-sungguh akan pergi ke pertemuannya. Mungkin hanya melihat reaksiku.
"Terima kasih. Aku mencintaimu..." Pertama kali kurasa aku mengatakan aku mencintainya. Dia memandangku, membelai rambutku dan merapikannya seperti yang biasa dia lakukan.
"Aku juga mencintaimu." Aku percaya apa yang dia katakan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1