
POV Tata
Dalam beberapa hari ini aku diajak ke kantor Papa awal minggu ini. Diperkenalkan sebagai putri tertuanya, aku tahu harapan Papa tapi aku merasa tempatku bukan disini. Ada beberapa keluarga Papa juga diantara beberapa orang top management. Shimau Group yang dipimpin Papa sekarang dasarnya adalah perusahaan property yang kemudian memgembangkan beberapa cabang bisnis. Ini adalah bisnis yang dibangun oleh dua generasi sebelumnya, aku merasa tak punya tempat disini. Bahkan aku tak menguasai bahasa Cantonese.
“Papa, aku tak akan pindah ke Hongkong. Kau harus tahu itu.” Aku bicarapa padanya saat makan siang kami.
“Bagaimana Papa bisa meninggalkanmu sendiri di Jakarta?”
“Anggap saja aku sedang kuliah Papa dan meniti karier di Jakarta, sesimple itu. Aku punya karierku sendiri, aku tidak kekurangan apapun, Papa bisa menginap di apartmentku jika Papa ke Jakarta. Punya nama Papa di belakangku diakui Papa juga sudah membuatku senang.” Aku bercerita beberapa pekerjaan yang kudapat karena nama Papa.
Dia menghela napas sekarang. Berpikir sebentar. Sebelum menelepon seseorang.
__ADS_1
“Derrick, apa di clustermu kau tahu ada rumah dijual? Aku berencana membelinya untuk Tata.” Aku melonggo ketika Papa memutuskan begitu saja tanpa bicara apapun padaku.
“Papa?” Papa mengangkat tangannya ketika aku ingin menyelanya.
“Oh bagus, nanti bisa kau hubungi dia.”
“Oke, jika kau mau ke Jakarta, tapi kau harus pindah. Ada rumah tak jauh dari Derrick dijual, kata Derrick dari luar terlihat bagus, Papa beli itu buat kamu, kamu atur renovnya, biaya semuanya maintenancenya Papa kirim, cari staff rumah, kamu tidak boleh tinggal sendiri. Apartment kamu sewa atau jual saja, nanti Papa lunasi. Apa kata kolega dan relasi Papa kalo anak Papa tinggal di apartment kecil. Itu syaratnya kamu gak bisa nolak...”
Aku tak menyangka jika Papa mengatur begitu. Well, sebenarnya bagus juga aku jadi lebih dekat ke Ko Derrick, mungkin bisa bertemu lebih sering.
“Banyak yang ngajak kenalan kamu karena mereka tahu kamu anak Papa?” Papa menembak tepat pada sasaran. Aku tertawa.
__ADS_1
“Yah, mungkin bisa dibilang begitu.”
“Ada yang kamu suka.” Aku meringis lebar.
“Kalau ada yang aku suka, aku harus kenalin ke Papa. Aku tahu aturannya. Tapi jangan jodohin aku.”
“Engga, Papa tidak akan menjodohkan siapapun anak Papa, tapi siapapun yang kamu pilih kamu harus tahu benar-benar dia baik,kalau Papa, Tante siapapun yang bilang tidak baik kamu harus terbuka apa pendapat kami benar atau tidak, kamu bukan anak belasan tahun lagi. Yang harus kamu tahu adalah keluarga itu seumur hidup jika bisa. Kalau awalnya sudah terpaksa tidak ada yang bagus mengikutinya.”
“Iya Tata tahu.”
“Kamu harus baik-baik disana. Papa tahu gak bisa maksa kamu, tapi kalau kamu mau pindah kesini pun, pasti ada posisi yang support pengalaman kamu. Kamu jangan khawatir , Papa tidak akan taruh kamu di posisi yang sama sekali kamu buta.” Aku tersenyum, sampai saat terakhir dia masih ingin aku ada di HK.
__ADS_1
“Iya Pa, makasih sudah kasih izin ke Tata, janji setiap New Year Tata pasti ke HK.”
Akhirnya dengan janji itu aku bisa diizinkan tetap tinggal di HK. Aku akan punya rumah baru di Jakarta, dekat dengan Ko Derrick. Aku memberitahu keputusanku ke Tante Yun Lan, dia sudah begitu baik padaku selama di HK, dan terutama saat Mama meninggal.