TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
Part 86. Balasan Yang Setimpal 2


__ADS_3

"Oke..." Dalam belokan pertama kemudian sudah dikonfirmasi


"Penguntit itu hanya satu mobil. Yang lainnya hilang."


"Oke ke titik cegat. Pepet tiga..." Belakang mobilku sudah dipasang bemper tambahan, setidaknya kerusakan tak terlalu parah jika aku di pepet tabrak belakang.


"Boss, on your mark?!" Kami masuk daerah jalanan cukup lenggang dan gelap.


"Now!" Aku melambat dua mobil memepet kiri kanan dan belakang sementara aku menggiring mereka ke kiri. Dia tidak berusaha menabrakku, ini hanya level cecungguk, mentalnya tak sekuat itu.


Andy dan Jonny membawa senjata api, ada compartment khusus di mobil mereka seperti mobilku. Tapi untuk sekarang aku rasa belum perlu, akan tambah menakuti Tata.


Orang Andy meneriakkan agar dia mengikutiku menepi ke kiri. Bisa kulihat ada dua orang disana. Akhirnya kami menggiring mereka ke kiri.


Orang-orang Andy dan Alan langsung mengamankan mereka. Benar dua orang yang dikeluarkan dari mobil.


"Tata kamu pulang, bawa mobil sendiri bisa? Atau suruh orang yang bawa? Koko harus urus ini, ini orang Simon yang kemarin."


"Gak mereka sendiri yang ngurus Ko?"


"Ini urusan Koko, gak bisa nyuruh orang."


"Bisa bawa sendiri?"


"Bisa lebih baik Koko punya backup lebih banyak."


"Nanti ada orang tambahan." Aku membuka dasiku dan melemparkan ke belakang, menganti kemeja dengan hanya kaus dan jaket yang tersimpan di kantong belakang.


"Beneran ga pa pa, aku bisa. Koko hati-hati." Dia memaksa membawa mobil sendiri.


"Iya. Koko pergi."


"Hati-hati Ko. Aku tunggu dirumah." Dia memegang tanganku dengan erat, dia wanita, jelas saja khawatir, tapi sekarang malah aku yang khawatir dia bawa mobil sendiri.


"Iya, tenang saja. Kamu yakin bisa bawa ini pulang?"

__ADS_1


"Iya."


"Kamu juga hati-hati. Ayo ganti tempat, Koko turun."


Tak lama dia melaju pergi, aku menuju ke dua orang yang ditahan, dan sudah ditanyai oleh Andy dan Jonny.


"Disuruh apa mereka?"


"Cari tahu dimana rumah boss. Satu ini anak buah langsung, satunya orang lokal."


"Simon menginap dimana, ayo kita kesana, balikin anak buahnya." Andy menyebutkan sebuah hotel.


Kami sekarang menuju ke Hotel, aku menunggu saja di mobil, Andy dan Jonny akan memastikan kami mendapatkan akses ke kamar. Mereka akan memasang anak buah Simon sendiri sebagai akses masuk.


'Boss aman, saya kirim orang ke lobby menunggu.' Aku tinggal masuk dan naik ke kamar suite itu.


Simon sudah dibekuk dan duduk di lantai.


"Belum sebulan kau sudah berani muncul di depanku, mengirim orang untuk mengikutiku, kau itu sangat arogan. Sudah kau yang salah kau masih tidak belajar... masih untung aku hanya mematahkan hidungmu." Aku duduk di depannya. Aku tak usah menghajarnya, Andy dan Jonny sudah melakukannya lebih dahulu dengan senang hati.


"Kau bawa pistol Andy dengan peredamnya?" Dia langsung melihat padaku.


"Bawa boss. Ada di mobil." Senjata akan sulit masuk melewati keamanan, tapi semua bisa diusahakan dengan sedikit tips.


"Kakak, aku pantas mati. Ampuni nyawaku! Ampuni nyawaku kak..." Sekarang dia gemetar sampai k*encing di celan*a. Memalukan, apa Wong Lee Man tidak punya mata menilai orang ini.


"Memalukan, kau perlu pembalut wanita?!" Andy menertawakannya. "Lihat boss kalian ini kenc*ing di cela*na! Boss macam ini yang kalian ikuti?!" Gemetar bagai anak kucing kedinginan di depan anak buahnya sendiri.


"Foto dia dengan jelas, dengan anak buahnya, telanja*ngi dia. Tinggalkan cela*na dalam*nya saja." Anak buah Andy mengambil benda yang nampaknya pisau lipat di saku celan*anya. Merob*ek bajunya karena lengannya terikat ke belakang. Dan sekarang mau tak mau dia membuka bajunya.


"Kalian, berlutut disini!" Sekarang foto memalukan itu diambil dengan jelas. Mukanya di tengadahkan ke atas sementara yang lain mengambil fotonya.


"Kami tak usah memakai senjata, dengan benda di ruangan ini menghabisimu sampai membuatmu cacat bisa bodoh." Aku menertawakannya. Baru di takuti begitu saja sudah terkenci*ng-kencin*g.


"Ponselnya mana?" Andy membawakanku handphonenya.

__ADS_1


"Buka passwordnya, ..." Aku melihat isi ponselnya. Kutemukan hal menarik yang bisa ku otak-atik.


"Password rekeningmu?" Sekarang dia tambah pucat. Dia tak mau memberikannya.


"Begini saja, jika kau tak mau memberikannya kusebarkan foto jelasmu tanpa sehelai benang pun dengan ceritanya bagaimana kuhajar 2x, ke seluruh kontakmu, ke seluruh email yang bisa kutemukan di ponsel ini, dan kujamin boss-mu sendiri yang akan membun*uhmu sendiri karena malu mempunyai anak buah sepertimu,..." Seluruh ruangan tertawa sekarang.


"Boss lakukan, itu sangat bagus."


"Cecungguk hijau sepertimu mengotori tanganku, tak ada artinya membun*uhmu dengan tanganku sendiri, dan jika bossmu tidak membunuh*mu pun, Ibumu akan menyesal melahirkanmu, kau akan menjadi tertawaan satu Hongkong, jadi lebih baik kau bu*nuh diri saja." Aku merasa ini jadi hiburan sekarang.


"Jadi kau pilih yang mana? Memberikan password rekeningmu atau menyimpan fotomu."


"333546..." Akhirnya dia menyerah.


"Keputusan yang bagus. Well...well, ayo kita lihat saldomu." Aku mengotak-atik aplikasinya, dan membuka catatan saldonya.


"Wahhh lumayan-lumayan, kau cukup kaya. Otak licikmu itu memang berguna nampaknya. Andy nomor rekening HKD(Hongkong Dollarmu), ..."


"Nomor rekening saya Boss?"


"Aku akan mentransfer 50% dari jumlah ini ke rekeningmu. ambil 20% untuk kau dan Jonny, 5% bagikan untuk yang ikut disini, 75% bagikan untuk rata ke bonus perusahaan selama 2 periode bonus."


"Ohhh siap boss." Semua orang langsung senang sekarang. Ganti waktu mereka untuk mengerjai cecungguk ini.


"Dan kau, jika kau berani coba-coba menyentuhku lagi atau menyentuh semua orang di wilayah perlindunganku, aku akan memasang fotomu ini di billboard di pusat kota Hongkong, hingga leluhur keluargamu bangun sendiri dari kuburnya mengutukmu hingga m*ati! Kau mengerti! Jadi lebih baik kau resign dari pekerjaanmu sekarang, karena jika aku sedang marah, akan kukirimkan sendiri foto ke bossmu dan dia tidak akan keberatan membunu*hmu karena sudah mempermalukannya! Jelas ba*ngsat?!"


"Saya mengerti...Saya mengerti Kakak."


"Andy, hajar dan telanjangi dia, pastikan kau memdapat foto terbaiknya untuk dipasang di billboard."


"Siap Boss!"


"Jonny antar aku pulang, dia merusak malamku saja."


"Ayo boss."

__ADS_1


Malam ini berakhir dengan menggelikan dan semua orang mendapat bonus.


__ADS_2