
"Benar-benar menyebalkan!" Mama melempar ponselnya ke sofa.
Bibi yang masih tinggal disini sementara suaminya sudah pulang melihat Mamaku dengan heran.
"Kalau kau terganggu, blok saja nomor anakmu itu. Kenapa kau berusaha mendengarkannya sepanjang waktu sementara kau tahu bertahun-tahun kau mencoba menasehatinya tapi hasilnya nihil. Sudah kubilang dia tak akan mati kelaparan, tapi kau yang mati karena kesal." Bibi sekarang balik memarahi Mamaku.
"Sandra, tolong Mama membloknya." Aku duduk disampingnya dan mencontohkannya sekarang. Dia tak pernah memblok nomor telepon seseorang rupanya.
"Nah sudah, biarkan saja dia Mama. Kenapa kau senang sekali menyusahkan dirimu " Sudah dua minggu dari kedatangan Mama Cheng Xin nampaknya sedang berusaha melobinya lagi.
"Aku sudah bilang padanya beberapa bulan yang lalu jika ada cabang yang tak menguntungkan lebih baik di tutup saja untuk menekan kerugian. Tapi dia lebih mementingkan gengsinya nampaknya."
"Ya sudah biar dia berpikir sendiri Adik kalau dia tak mau mendengarmu."
Seminggu setelah itu, seseorang meneleponku saat aku sedang ada di restoran. Nomor yang tak kukenal kuangkat untuk mengetahui siapa yang meneleponku.
"Sandra dimana Mamaku?!" Suara seorang pria, siapa lagi yang menyebutkan Mama selain Cheng Xin.
"Aku tak tahu, teleponlah dia sendiri, jangan tanya ke aku."
"Kau jangan pura-pura bodoh, Mama tak mau mengangkat teleponku gara-gara kau, sejak ada kau Mamaku jadi begini!" Dia melanjutkan marah-marah membuat kupingku pengang mendengarnya.
"Kau menyalahkan orang untuk kesalahanmu sendiri, kau tidak mendengar kata-kata Mama, saran-saran Mama untuk memperbaiki bisnismu, jika kau tak mau mendengarnya apa kau pikir Mama akan mendengarmu? Kau lucu, kau menyalahkan semua orang atas kesalahanmu sendiri. Yang punya bisnis kau tapi harus orang yang menanggung ketidakbecusanmu!" Kumarahi balik Cheng Xin sekarang
"Jangan sok tahu kau!"
"Terserah padamu saja, aku tak ada urusan denganmu. Mama sedang bersama Bibi Su, telepon Bibi sendiri. Jangan meneleponku lagi!"
Dan bisa di tebak selanjutnya. Bibi yang gantian memarahinya. Dan dia sama sekali tak mendapat sambungan ke Mama. Bibi yang telepon cerita sendiri padaku. Nampaknya Cheng Xin sedang pusing sekarang.
Malam-malam dia meneleponku lagi. Ingin kumatikan saja teleponnya. Sampai beberapa hari kemudian dia masih berusaha meneleponku. Kali ini jam 11 malam
"Apa lagi!?"
"Berikan teleponku ke Mama!" Belum apa-apa dia sudah menbentakku.
__ADS_1
"Tas istrimu saja Himalayan Birkinnya yang dia bawa kedepanku itu 300,000 - 400,000 dollar paling tidak, jual saja dua tas istrimu dan masalahmu selesai. kau selalu meminta jumlah begitu bukan setiap enam bulan." Aku membayangkan adik iparku mengamuk karena harta kebanggaan di lelang suaminya. Itu pasti sangat lucu.
Himalaya Birkin ( tas kulit buaya langka ini berharga USD 300-400K secondnya)
๐๐๐๐
"Kau tak usah mengajariku! Tas istriku bukan urusanmu. Sambungkan aku ke Mama!"
"Astaga ku blok saja nomormu. Malam-malam marah tak tahu tempat. Aku mau tidur. Bye...." Aku benar-benar memblok nomornya sekarang. Malas mendengar ocehannya.
"Sandra!" Aku masih sempat mendengar teriakannya sebelum aku menutup teleponnya dan membloknya. Bersiap tidur, ada rombongan turis cukup banyak besok pagi-pagi, aku harus ada di restoran membantu.
Beberapa hari berjalan seperti biasa, Mama dan Bibi sudah sekitar 3 minggu berada di sini. Itupun kebanyakan mereka habiskan ke Shenzhen, karena Mama masih punya jaringan toko grosir textile di sana, walaupun masing-masing sudah dikelola oleh manager yang dipercaya olehnya, Shenzhen dan Hongkong jaraknya cuma 40km, cuma setengah jam dengan mobil, di barat Hongkong, dan Shenzhen terkenal sebagai pusat perdagangan textile internasional terbesar di China. Dia punya banyak teman disana.
Beberapa hari berjalan dengan biasa saja. Aku tak perduli dengan urusan Cheng Xin lagi. Tiba-tiba di sebuah siang, entah angin dari mana yang meniupnya, Cheng Xin bersama Ayahnya datang ke restoranku di Wan Chai. Tadi kurasa aku salah lihat tapi ternyata benar itu mereka.
"Mana Mama?"
"Mama di Shenzhen mengurus pekerjaannya, mana mungkin dia disini. Sudah kubilang padamu untuk menelepon Bibi Su saja."
Dia kemudian melihat restoranku yang sedang penuh di jam makan siang.
"Ramai juga tempatmu."
"Tidak sebesar restoranmu." Aku benar-benar malas melihat mereka disini. Dia sampai membawa Papanya, apa yang diinginkannya.
"Kalian mau makan?" Demi kesopanan aku menawari mereka.
"Tidak, kami makan di luar saja." Terserah pada kalian. Mereka menghilang begitu saja dari depanku dan aku langsung menelepon Mama sekarang.
"Mama, kau tahu suamimu muncul di restoran bersama dengan Cheng Xin." Langsung ke inti persoalannya saja.
__ADS_1
"Muncul di restoranmu?! Kau bercanda." Mamapun sama tak percayanya denganku sekarang.
"Mereka baru saja pergi. Kutawari makan tapi mereka tidak mau. Apa yang kau mau aku lakukan sekarang? Anakmu itu benar-benar mengejar uangmu sampai ke sini Mama.
"Kenapa mereka sampai ke restoranmu? Mau apa mereka? Dengan Ayahnya?"
"Apa yang kau pikirkan Mama?"
"Sandra kau melihat orang lain di sekeliling Ayah Cheng Xin?" Mama bertanya dengan suara khawatir.
"Aku tak memperhatikan, kukira tak ada, cuma mereka berdua Memangnya kenapa Mama? Kau khawatir tentang sesuatu?" Apa berkaitan dengan ancaman yang pernah di lontarkan ayah Cheng Xin. Aku jadi berpikir sekarang.
"Aku heran kenapa bisa dia sampai di sana. Apalagi dia pernah mengancammu. Apa mereka sudah pergi."
"Iya mereka sudah pergi." Perkataan Mama membuatku cukup takut sekarang.
"Sandra, kau berjanjilah pada Mama, kau harus hati-hati mulai sekarang. Mama akan coba mengatur sesuatu. Papanya Cheng Xin sampai datang ke tempatmu, ini sangat mencurigakan, lebih tepatnya ini mengkhawatirkan. Mama ada undangan makan dari kolega Mama, baru kembali agak malam bersama Bibimu oke, kau harus hati-hati. Mama tutup dulu teleponnya."
Mama menutup teleponnya, apa maksudnya Mama, dia akan mengatur sesuatu? Karena cukup sibuk aku tak sempat memikirkannya lagi.
Sudah sore menjelang malam tiba-tiba Ko Derrick meneleponku.
"Koko? Tumben kau menelepon?"
"Kau baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja? Tentu saja aku baik-baik saja, memang aku kenapa?" Aku binggung ditanya apa aku baik-baik saja.
"Boss Philip di telepon Mamamu, dia membayar pengawalan khusus tapi dia tidak ingin terlihat oleh orang lain, malah meminta pengawal grade A untuk mengawalmu. Apa sesuatu terjadi?" Jadi ini maksud Mama dia akan melakukan sesuatu.
"Jadi begini ceritanya..." Kuceritakan Mama yang sedang menolak memberikan bantuan keuangan kepada Cheng Xin, dan ancaman Ayah Cheng Xin sebelumnya. Sampai tiba-tiba hari ini Ayah Cheng Xin muncul.
"Sandra, kau benar-benar harus hati-hati. Ayah Cheng Xin itu orang militer, dia pasti punya link orang militer yang berbahaya. Keluarganya juga punya sumber keuangan besar, dan jumlah saham Ping An yang dipegang Ibumu itu bukan jumlah main-main. Dia pasti sudah memperhitungkan perilaku suaminya, dia menaruh dua pengawal grade A di sampingmu. Itu sedang disiapkan secepatnya. Aku akan menelepon Ibumu sekarang..."
"Ehhh tunggu, Koko ma..." Dia sudah memutuskan teleponnya duluan. Apa dia tidak bisa memberitahuku dulu apa yang ada di pikirannya. Akhirnya aku harus menunggu, karena ponselnya sudah dalam mode menunggu, dia sudah tersambung ke Ibuku.
__ADS_1