
"Kesimpulannya." Aku bangkit dan duduk dipangkuannya, menciumnya dengan gemas. "Awas aja kalo macem-macem Koko, kujadiin rujak bèbèk kamu Ko." Dia ngakak.
"Apa itu rujak bebek?"
"Buah ditumbuk dicampur ama bumbu rujak."
"Galak amat ya pacar Koko." Dia tidak keberatan dengan ancaman ngaco ini.
"Aku emang galak." Sekarang dia tersenyum dan membalas ciumanku, merangkul pinggangku dan memelukku dengan erat.
"Pacar Koko yang galak, kamu perlu tahu satu hal. Jika Koko tidak membuat komitmen padamu, segalak apapun kamu tidak akan berpengaruh..." Dia mengatakan seakan dia sudah membuat komitmen.
"Jadi 'I love you' adalah sebuah komitmen?" Menatap matanya yang tak ragu menatapku adalah sebuah previledge sebenarnya sekarang.
"Yes." Aku tersanjung mendengar satu kalimat pendek itu. "Jadi berhentilah mengkhawatirkan hal yang tidak perlu dikuatirkan, karena kau menang hanya perlu percaya. Mengerti." Aku hanya tersenyum.
"Iya, aku hanya sedikit cemburu."
"Koko bawa pulang hadiah,..."
"Hadiah? Hadiah apa? Kue?" Aku menebaknya, dia paling suka membelikan kue lebih dari siapapun.
"Ada di mobil, bentar diambilin. Tunggu disini...." Dia menurunkanku dari pangkuannya. Penasaran apa yang akan dibawanya dari mobil.
__ADS_1
Sesaat kemudian dia muncul di depanku. Dan yang dibawanya adalah sebuket mawar besar warna warni. Aku tertawa kegirangan sekarang.
"Hutang janji saya sudah lunas." Aku menerima bunga itu di lenganku, tersenyum begitu lebar dan aku mencium pipinya sebagai rasa terima kasih.
"Kok koko bisa beli ini? Kan katanya lebih baik beli kue? Bunga gak berguna." Aku tersenyum dan tertawa lebar melihat buket bunga berwarna warni itu nampaknya semua warna ada disana.
"Ga pa pa, buat kamu..." Kurasa dia menjaga agar aku tak marah-marah karena dia makan siang dengan Sandra tadi. Tapi bagaimanapun ini kejutan menyenangkan.
"Ini bagus banget, mawar yang sebenarnya. Bukan mawar di tukang bunga tabur yang gak niat itu."
"Udah, seneng..."
"Seneng, banget."
"Ehh ada kartunya..." Aku tertawa melihat sebuah kartu di bunga itu, kutaruh bunganya di meja sofa sekarang aku membuka kartu itu. "Pakai kartu segala." Dia tersenyum. Aku mengambil kartu itu dan menaruh buket bunga itu. Amplop dengan sebuah kertas pesan tertulis di belakangnya.
Aku menarik kartunya. Tulisannya...
...Tata, my Love...
...Would you marry me?...
"Ehhh..." Ada sebuah cincin diikatkan ke pita kecil. "Ini...?" Aku terdiam melihat cincin dan tulisan itu. Sekarang dia mengambil tanganku, menatapku di mataku.
__ADS_1
"Koko pikir sudah saatnya membuatmu percaya ke komitmen Koko, Cecil juga sudah setuju, kita menikah setelah 1 tahun perkabungan selesai, minta izin ke Papamu sekarang, setelah mempersiapkan semuanya, jika kamu bisa menerima ini... would you marry me Tata?"
"Ini... lamaran?" Mataku memanas begitu saja.Jantungku berdebar begitu saja.
"Iya. Apa kamu mau menerima ini, mungkin gak selamanya senang, ada mawar putih , ada mawar kuning, kadang pink, tapi itu namanya bunga kehidupan, Koko berusaha memperbanyak pink dan merahnya tentu saja..." Dia tertawa sendiri, "Yang bisa Koko janjikan adalah apapun kita berusaha tetap bersama sampai akhir, semoga seperti buket bunga ini, banyak hari gembira dan bahagia di depan kita. Jadi maukah kamu memakai cincin ini?" Aku terharu untuk kata-kata sederhananya, mengangguk begitu saja tak tahu apa yang harus dikatakan lagi. Dia membuka ikatan pita pink itu, dan memakaikan cincin solitaire itu padaku.
"Love you sweetheart..." Aku masih terpesona pada cincin itu sementara dia merangkul dan menciumku.
"Kok, tiba-tiba..." Rasanya masih belum percaya dia melakukannya sekarang.
"Nunggu apa lagi, ... Kamu pikir enak pengen ketemu tapi pisah rumah." Aku tertawa.
"Jika kamu ingin seorang bayi, kita harus melakukannya secepatnya, Koko bukan di umur muda lagi, jika sudah 80 dia baru berumur 30, mungkin jika dikasih keberuntungan bisa melihatnya punya anak...." Sebuah kata yang membuatku tersenyum.
"Iya, aku tahu maksud Koko." Dia menghela napas panjang dan memelukku.
"Terima kasih, sudah menerimanya."
"Love you Koko."
"Love you too sweetheart."
Malam itu berakhir bagai mimpi, jika ini mimpi pun biarkan aku tak pernah bangun.
__ADS_1
Tak pernah menyangka Koko akan melamarku, sekali dia membelikan bunga, bukan hanya bunga yang diserahkannya untukku, tapi juga hatinya untukku. Dia selalu membuat semuanya begitu berarti.