TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 4 part 34. Blooming Hanami 4


__ADS_3

Tiba di Osaka, aku ternyata bisa menyaksikan mankai, atau full bloom- puncak mekarnya sakura.



Kami berjalan di taman Osaka Castle, melihat bunga bermekaran dan rumput dibawahnya sudah penuh dengan orang yang membentangkan alas.


Bagi wisatawan kadang perkiraan mekarnya sakura bisa jadi salah atau mereka mendapatkan keberuntungan itu benar, kadang mereka sudah datang dan sakura belum mekar. Tidak ada yang pasti, kadang di taman tertentu mekar duluan, tapi di tempat lain di kota belum, atau tahun yang lain bunga-bunga tiba-tiba merekar serempak. Beberapa beruntung dan beberapa lainnya kecewa tidak bisa melihat hanami yang sebenarnya.


Jika kau hanya punya jendela waktu lima hari di Jepang dan perkiraan tanggalnya salah, maka kau akan kecewa. Tapi disisi lain jika kau tak booking duluan jauh-jauh hari maka karena hanami adalah high season kau tak akan mendapatkan hotel.



Kami berbagi tugas, aku dan Ryohei mencari dan mengamankan tempat duduk kami, sementara Sayuri dan Yuka mencari makanan.


"Besok mau kemana?" Aku bersandar di bawah pohon melihat sakura-sakura putih pink yang ada diatas kepalaku.


"Ke Sakuranomiya saja, Mint Park juga sudah buka." di Mint Park ada 134 varietas sakura, walaupun jumlah pohonnya sedikit, tapi melihat sakura yang lebih berwarna dan memiliki kelopak bertumpuk seperti Yaezakura.


__ADS_1


"Baiklah, mungkin tahun depan kita bisa pergi ke Yoshino. Tahun ini kita ke Osaka saja." Tahun depan perkataannya mengatakan kami akan punya sesuatu di depan. Dia menggengam tanganku. "Tahun depan kita ke Yoshino, kau setuju." Pertanyaan yang berarti bertanya apakah aku setuju untuk bersamanya terus ke depan.


"Iya, boleh." Sekarang dia tersenyum dengan jawabanku dan merangkul bahuku singkat.


"Terima kasih sudah mengatakan iya." Aku membalas senyumnya. Sakura yang bermekaran membuatku mendapatkan cintaku di Jepang. Mungkin terdengar klise, tapi mengatakan sesuatu di bawah sakura yang bermekaran seperti scene mengucapkan janji di sebuah manga romance.


Aku pasti sudah terjebak 'genjutsu (mantra ilusi)' di bawah bunga sakura yang bermekaran ini.


"Kami kembali..." Sayuri dan Yuke membawa banyak kantong makanan di tangan mereka, ini memang piknik keluarga.


"Ehm...ehm, Papa sejak kapan kau bisa merangkul Kak Shiori seperti itu, apa kita perlu merayakan sesuatu di sini." Bukannya melepasku, Ryohei malah tambah erat merangkulku.


"Kakak Shiori, aku memikirkan kami boleh minta makan malam spesial sehabis ini. Kak Shiori, kesanalah lagi kufoto kalian. Kalian harus punya kenang-kenangan kencan ini." Aku tertawa dengan ide berfoto itu.


"Kakak Shiori, kesanalah..." Aku tak bergerak, Ryohei menarik tanganku dan mendudukkanku disampingnya. Bahkan merangkul pinggangku.


"Sekarang lebih baik... Kenapa kau malu. Kau tak lihat tawanya." Aku mau tak mau tersenyum. Dan memberikan senyumku ke Sayuri yang sedang memotret kami.


"Papa, cium pipinya."

__ADS_1


"Eh apa? Tunggu dulu..." Terlambat, aku sudah terkunci dan pipiku menjadi sasaran ciuman gemasnya. Mau berontakpun tak bisa, aku cuma bisa memejamkan mata kuat-kuat karena geli diantara suara tawa Sayuri dan Yuke.


Semua orang yang juga duduk di samping kami melihat adegan itu. Ini memalukan, tapi Ryohei cuek dan malah tertawa.


"Kalian ini memang mengerjaiku." Aku beringsut menjauhi Ryohei. Jika tidak mereka akan mengerjaiki lagi.


"Sudah resmi couple." Aku tertawa melihat foto kami yang di kirim oleh Sayuri. Perasaan berbunga-bunga ini membuatku melayang. Ciuman tadi sepertinya masih tertinggal disana rasanya.


"Ayo kita makan." Aku mengambil kantong yang dibawa Sayuri dan mengeluarkan isinya. Tak mau lagi melihat ke Ryohei, tak mau berada dalam rangkulan lagi.


"Kakak, kalian memang harus di tinggalkan berdua, baru setengah jam kami meninggalkan kalian, sudah ada yang terjadi."


"Tak ada yang terjadi. Kau pikir apa yang bisa terjadi di tempat dengan orang sebanyak ini."


"Papa cuma mengajak Kakak Shiorimu ke Yoshino hanami tahun depan dan dia setuju, kau tahu apa itu artinya." Dia membagi perjanjian kami tanpa ragu.


"Papa ternyata bisa romantis juga." Shiori menggoda Papanya.


Siang itu dipenuhi cahaya pink muda. Duniaku sewarna kelopak sakura, dan langit cerah berwarna biru. Semoga sakura mengabulkan harapan kami untuk bertemu bersama lagi tahun depan.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2